
Klik.
"Tania! Kamu lagi tidur, yah Dek?" panggil Tasya seraya membuka pintu kamar dengan pelan.
"Ternyata kamu lagi dikamar mandi tadi," ujar Tasya saat melihat Tania baru saja keluar dari kamar mandi sambil menutup kembali pintu kamar mandi tersebut.
"I -ya, Kak," jawab Tania.
Radit nggak boleh ketahuan. Aku harus mengajak Kak Tasya keluar dari sini.
Tania segera menghampiri Tasya yang masih berdiri diambang pintu. Ia tidak mau kakaknya masuk kedalam kamar itu.
"Pantas tadi kakak panggilin kamunya nggak nyahut," kata Tasya.
"Aku tadi sakit perut Kak, makanya lama di kamar mandi," bohong Tania.
"Oh,"
"Kak, keluar yuk! Panas-panas gini enaknya makan ice cream," ajak Tania seraya menarik lengan Tasya meninggalkan kamar itu.
"Ide bagus tuh Dek. Kakak memang udah lama nggak makan ice cream." balas Tasya setuju.
Tasya setuju-setuju saja dengan usulan Tania. Ia tidak menaruh curiga sedikitpun pada sang adik. Mereka pun lalu berjalan bergandengan menuju meja makan.
"Kak, kenapa nyariin aku tadi?" tanya Tania seraya mengambil 1 kotak ice cream didalam kulkas.
"Kakak mau nyampaiin kabar bahagia ke kamu," jawab Tasya.
"Kakak hamil!" seru Tania.
Tania seperti bisa menebak apa yang ingin disampaikan oleh kakaknya itu. Ia pun lalu menghampiri Tasya sembari membawa 1 kotak ice cream ditangannya.
Tasya membalas ucapan Tania dengan anggukan disertai senyuman.
"Ahhh, alhamdulillah, Kak. Selamat yah, jaga calon ponakan aku baik-baik," pesan Tania yang tidak kalah bahagianya mendengarkan kabar menggembirakan dari kakaknya.
Tasya sedang duduk di meja makan. Tania lalu memeluknya dari belakang. Tania ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kakak dan kakak iparnya tersebut.
"Iya, Dek. Makasih yah." balas Tasya.
"Oh iya, kakak mau minta tolong dong sama kamu," kata Tasya.
"Minta tolong apa Kak?" tanya Tania seraya melepas pelukannya dan mengambil tempat duduk disamping kakaknya.
"Tolong bilang sama Radit, kalau aku sama Kak Hendra mau minta tolong dianterin belanja ke mini market. Soalnya Kak Hendra nggak sanggup kalau harus nyetir sendiri. Dia sedang nggak enak badan," jelas Tasya.
"Hahaha, Kak Hendra beneran ngidam, yah Kak? Enak dong, berarti beban Kak Tasya kurang satu," ujar Tania.
"Hehehe. Iya, Dek." balas Tasya.
"Gawat. Tuh anak nggak kenapa-kenapa, kan didalam kamar mandi?" batin Tania khawatir.
"Kamu kenapa Dek, kok kayak ngelamun gitu? Mikirin apa?" tanya Tasya.
"Eh, nggak kok Kak, nggak mikirin apa-apa. Aku cuma sedikit ngantuk aja." bohong Tania.
"Oh,"
Setelah cukup lama mengobrol, Tasya pun akhirnya pamit naik ke kamarnya. Setelah Tasya hilang dari pandangan Tania, Tania pun langsung bergegas berlari masuk ke dalam kamar. Ia ingin memeriksa kondisi Radit yang ia tinggal selama hampir setengah jam.
"Tuh anak masih hidup nggak yah?" gumam Tania sambil terus berlari terburu-buru menuju kamar mandi.
Dengan cepat Tania memutar gagang pintu putih itu. Setelah pintu kamar mandi terbuka, ia sangat terkejut mendapati Radit terbaring lemas di lantai. Sepertinya Radit sedang tidak sadarkan diri.
"Astagfirullah." ucap Tania seraya menutup mulutnya dengan tangan.
"Dit, Radiiit!" pekik Tania.
"Radiiit! Diiit! Bangun Dit." Panggil Tania seraya menepuk-nepuk pipi Radit.
Tania mengangkat kepala Radit dan membaringkan di pangkuannya. Ia merasa panik dan khawatir mendapati kekasihnya dengan kondisi tersebut.
"Diit, bangun dong. Jangan pingsan dulu, nanti kita bisa ketahuan loh."
Selain khawatir dengan kondisi Radit, Tania juga sangat takut kalau mereka sampai ketahuan jika Radit tidak kunjung sadarkan diri.
"Ayo bangun Dit! Diiit, Radit, baaanguun,"
"Oh, aku harus mengambil minyak angin." ucap Tania seraya meletakkan kepala Radit di lantai dengan pelan.
Setelah Tania keluar untuk mengambil minyak angin di tasnya. Senyum tipis tersungging di bibir pemuda itu. Ternyata Radit cuma pura-pura pingsan untuk mengambil perhatian Tania. Ia takut kalau Tania akan marah dan mendiamkannya karena ia telah berani berbuat kurang ajar pada gadis kesayangannya itu.
Tania datang membawa 1 botol minyak angin ukuran sangat kecil di tangannya. Ia kemudian membuka tutup botol tersebut lalu mendekatkan pada hidung Radit.
Mencium aroma yang cukup menyengat tersebut, Radit pelan-pelan membuka matanya. Aktingnya kali ini harus total, pikir Radit.
"Syukurlah kamu sudah sadar," ucap Tania lega.
"Kita dimana?" tanya Radit pura-pura tidak tahu.
Radit memegangi kepalanya, seraya mencoba untuk bangun lalu ia kembali menjatuhkan dirinya di lantai. Ia pura-pura lemah agar Tania kasihan padanya.
"Sini aku bantuin, Dit!" ucap Tania seraya membantu Radit untuk bangun.
Tania pun lalu memapah Radit dan membawanya ke tempat tidur. Lagi-lagi Radit mengambil kesempatan dalam kejadian ini. Saat Tania ingin membaringkan tubuh Radit di kasur, Radit menarik tubuh Tania hingga Tania terjatuh dan menimpa tubuhnya.
Radit tersenyum penuh arti melihat wajah Tania hanya beberapa senti diatas wajahnya. Tania berusaha bangkit secepatnya dari posisinya tersebut. Namun terlambat sudah, Radit sudah terlanjur mengunci tubuh Tania dengan kedua tangannya.