How To Love You

How To Love You
Bab 185



Setelah beberapa menit, Tania pun keluar dari kamar mandi. Sepertinya ia kesulitan membuka ritsleting bajunya. Ia pun bermaksud untuk meminta bantuan Radit untuk menurunkan benda penyambung dua sisi kain itu. Betapa terkejutnya saat ia mendapati Radit sedang berbaring sambil telentang di tempat tidur dan hanya mengenakan selembar handuk yang melilit dipinggangnya. Tania merasa malu sendiri melihatnya. Ini pertama kalinya ia melihat laki-laki setengah telanj*ng. Ia pun lalu mengurungkan niatnya meminta bantuan Radit dan berniat menutup kembali pintu kamar mandinya. Namun gerakan tangannya yang mendorong gagang pintu agar pintu kembali tertutup rapat terhenti saat Radit memanggilnya.


"Sayang!" panggil Radit lalu bangun dari posisinya.


"Eh, iya, Dit. Ada apa?"


"Sayang, kenapa pintunya ditutup lagi? Aku kan juga mau masuk," tanya Radit sambil bangkit dari posisinya.


Mendengar kata masuk, Tania buru-buru keluar dari kamar mandi. Ia merasa malu sendiri membayangkan dirinya menyaksikan suaminya mandi didalam sana sambil bertelanj*ng.


"Kenapa kamu keluar? Aku kan mau ngajakin kamu mandi bareng, sayang." ucap Radit sambil menghampiri Tania. Dan benar saja, ucapannya barusan sukses membuat pipi istrinya mengeluarkan blush on alaminya.


"Ap-apa? Mandi bareng." batin Tania sambil menelan air liurnya secara paksa.


"Kamu pasti kesulitan membuka ini. Iya, kan sayang? Kenapa nggak minta bantuanku tadi? Kamu pasti malu yah," kata Radit saat melihat ritsleting baju Tania yang baru turun setengahnya. Ia pun lalu membantu menurunkannya. Radit menelan salivanya melihat punggung putih bersih nan mulus milik istrinya. Karena kulit punggung itu hanya ditutupi dengan sedikit kain yang dinamakan pengait bra.


Radit memutar badan istrinya dan membuatnya menghadap ke arahnya. Tania yang malu-malu hanya menundukkan wajahnya. Radit tersenyum, ia lalu meraih dagu sang istri kemudian mengangkatnya dan membuatnya menghadap ke arah wajahnya.


"Aku baru tau, ternyata istriku ini sungguh pemalu," ucap Radit sambil tersenyum dan menatap lekat wajah cantik milik istrinya. Wajah Tania yang tadinya sudah merona kini dibuat semakin memerah.


Perlahan-lahan Radit mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. Ia ingin mencium bibir yang selalu menggodanya selama ini namun berhasil ia tahan karena takut si pemilik akan marah lagi. Sekarang mereka sudah halal, jadi Radit tidak perlu lagi menahan diri.


Semakin lama jarak antar bibir mereka semakin menipis. Tania memejamkan matanya, ia tahu apa yang ingin dilakukan oleh suaminya itu. Ia tidak akan marah lagi seperti sebelum-sebelumnya karena ia tahu kalau suaminya berhak atas dirinya sepenuhnya. Saat bibir mereka sebentar lagi saling bersentuhan, Radit juga ikut memejamkan matanya. Ia ingin menikmati ciumannya dengan gadis kesayangannya itu.


Tiba-tiba, "Dret dret." ponsel milik Radit berdering diatas meja nakas disamping tempat tidur. Aktifitas mereka terpaksa harus terhenti. Radit merasa sangat kesal sekali. Siapa yang berani mengganggunya disaat seperti ini.


"Ck, siapa sih? Ganggu orang aja. Nggak tau apa kalo pengantin baru itu nggak boleh diganggu. Nggak pengertian banget." batin Radit kesal sambil beranjak menghampiri ponselnya yang berdering.


"Kak Hendra. Ada apa yah?" gumam Radit saat melihat nama kakak sepupunya itu yang tertera dilayar ponselnya tersebut. Ia pun segera menggeser gagang hijau yang tertera di layar benda pintar itu.


"Assalamu'alaikum, Kak. Ada apa?" tanya Radit saat menjawab panggilan Hendra.


"Wa'alaikum salam. Apa kalian sudah sampai dirumah?" tanya Hendra.


"Iya, Kak. Kami sudah sampai dari tadi," jawab Radit.


"Yah sudah kalau begitu. Selamat beristirahat!"


"Loh, mati. Cuma nanya gitu doang," ucap Radit sambil geleng-geleng kepala lalu meletakkan kembali ponselnya di tempat semula. Ia pun lalu bermaksud menghampiri Tania dan kembali melanjutkan aktifitas mereka yang tadi sempat tertunda. Setelah ia membalikkan badannya, ia sudah tidak mendapati istrinya ditempat semula.


"Loh, sayang! Sayaaang! Nia!" panggil Radit sambil menghampiri kamar mandi. Ia tahu kalau istrinya pasti sedang berada didalam sana.


"Nia! Sayang! Buka pintunya!" panggil Radit sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Tidak lama kemudian Tania muncul dan sudah lengkap dengan piyamanya.


"Loh, sayang. Memangnya kamu sudah mandi? Kok sudah lengkap dengan pakaian tidur," tanya Radit ingin memastikan.


"He'em." gumam Tania sambil mengangguk lalu melangkah menuju kopernya. Ia ingin memindahkan barang-barangnya beserta barang-barang suaminya kedalam lemari.


"Yah, gagal deh acara mandi barengnya." batin Radit sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia juga tidak habis pikir kenapa Tania bisa selesai secepat itu. Padahal ia cuma tinggal sebentar saja untuk menelpon, pikir Radit.


Dengan langkah malas, Radit beranjak masuk kedalam kamar mandi. Gagal sudah rencananya untuk mengajak istrinya mandi bersama.


"Ini semua gara-gara, Kak Hendra. Ngapain sih pake acara nelpon-nelpon segala. Ganggu orang aja. Kayak nggak pernah jadi pengantin baru aja." ucap Radit sambil mendumel didalam kamar mandi. Ia merasa sangat kesal karena acara pembukaannya malam itu gagal total.


Tanpa menunggu lama-lama, Radit segera mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya dengan air dan sabun. Setelah selesai, ia pun melilitkan handuk dipinggangnya dan beranjak keluar dari kamar mandi. Usai berganti pakaian, Radit mengajak Tania untuk turun ke dapur karena ia merasa lapar.


Di dapur, Tania mencari bahan makanan didalam kulkas. Rupanya mertuanya sudah menyiapkan banyak bahan makanan disana. Mungkin cukup untuk persediaan selama setengah bulan.


"Kamu mau makan apa, Dit?" tanya Tania.


"Jangan panggil nama dong, sayang. Kita kan sudah resmi jadi suami istri," ujar Radit.


"Terus aku harus manggil kamu apa? Sayang?" tanya Tania sambil masih berdiri didepan lemari pendingin yang terbuka lebar. Sedangkan Radit duduk di meja makan. Radit kemudian menjawab pertanyaan Tania dengan anggukan.


"Yah udah. Suamiku sayang, kamu mau makan apa?" ucap Tania mengulangi pertanyaannya.


"Apa saja yang kamu masak, pasti akan terasa enak, istriku sayang," jawab Radit seraya tersenyum bahagia. Rasanya ia masih belum percaya bahwa dirinya sudah mempersunting cinta pertamanya itu.


"Beneran, yah. Bagaimana kalau aku masak mie instan aja? Biar lebih praktis. Lain kali aku akan masak makanan yang enak dan sehat buat kamu. Soalnya kalau sekarang, aku masih capek, Dit. Eh, sayang. Aku mau istirahat," jelas Tania.


"Iya, istriku sayang. Kalau kamu mau, suamimu ini bisa memijatmu nanti didalam kamar. Bagaimana?" tawar Radit sambil mengedipkan sebelah matanya.


Pipi Tania kembali merona mendengarkan tawaran suaminya. Ia tahu kalau itu hanya modus belaka, ujung-ujungnya Radit pasti akan meminta jatah malam pertamanya.