How To Love You

How To Love You
Bab 229



Bukan hanya Lyvia yang terkejut. Tapi Anton juga. Tadinya Anton mengira Miko dan Tantri hanya bersandiwara untuk mengusir Lyvia pergi. Ternyata tidak. Anton begitu yakin kalau Tantri dan Miko pasti memang memiliki hubungan spesial. Apalagi saat mereka jalan bertiga tadi, rasanya dunia hanya milik mereka berdua dan Anton hanya ngontrak.


Seketika Lyvia mendudukan dirinya di samping Anton. Ia menangis namun tak bersuara. Hanya buliran air matanya saja yang menetes satu per satu mengalir pipinya. Ketiganya hanya saling pandang melihat reaksi shock dari Lyvia mengetahui Miko sudah mempunyai calon istri.


Lyvia mengambil beberapa lembar Tissu di atas meja lalu menyeka air matanya sendiri. Setelah menarik napasnya dalam-dalam.


"Mik ... apa karena kamu sudah bosan tidur sama aku? Terus kamu tega nyari cewek yang jauh lebih muda dan jauh lebih menggoda dari aku. Hah," tanya Lyvia dengan suara bergetar menahan tangis.


Tantri bagai tersambar petir mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Lyvia barusan. Ia tidak menyangka kalau Miko sebrengs*k itu. Matanya sudah merah dan berkaca-kaca mendengar hal tersebut. Ia juga tidak tahu kenapa hatinya bisa terasa sangat nyeri dan ngilu mendengar ucapan Lyvia barusan.


Sementara itu, Miko rasanya ingin mencomot dan merem*s bibir Lyvia. Ia merasa sangat marah telah di fitnah seperti itu. Apalagi didepan calon istrinya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan jika Tantri sampai mempercayai ucapan Lyvia.


"Jangan ngarang kamu, Lyvia! Sekalipun aku tidak pernah tidur denganmu!" teriak Miko pada Lyvia.


"Tri! Jangan percaya omongan buaya betina ini. Dia itu pembohong, tukang selingkuh. Aku memang pernah berpacaran lama dengannya. Tapi aku sama sekali tidak pernah tidur dengannya. Apalagi sampai bosan seperti yang dikatakannya tadi," jelas Miko pada Tantri. Ia begitu takut Tantri akan mempercayai ucapan Lyvia.


"Jangan percaya! Yang pembohong dan tukang selingkuh itu dia. Sebagai sesama perempuan, aku hanya tidak ingin kamu sakit hati karena disakiti oleh si buaya darat ini. Aku nggak mau kamu mengalami sakit yang pernah aku alami," ucap Lyvia pada Tantri. Ia mencoba memutar balikkan fakta karena dia ingin menghancurkan hubungan Miko dengan Tantri. Dia tidak mau melihat mantan kekasihnya itu bahagia dengan perempuan manapun.


Tantri sudah tidak tahan lagi. Air matanya rasanya ingin tumpah saat itu juga. Ia pun memilih untuk pergi meninggalkan keributan itu. Ia juga merasa sangat malu karena sudah menjadi tontonan gratis para pengunjung di restoran itu.


"Tri! Tantri!" teriak Miko saat melihat Tantri berlari meninggalkan mereka.


"Anton! Cepat susul Tantri. Aku ingin membereskan perempuan ular ini dulu," titah Miko pada Anton.


"Baik, Kak." Anton pun segera berlari mengejar Tantri. Untungnya dia belum kehilangan jejak sahabatnya itu. Ia pun terus berlari mengekor dibelakang Tantri.


Sementara itu Miko merasa sangat marah dan geram pada Lyvia. Rasanya ia ingin melempar mantan kekasihnya itu ke tanah dari lantai 3 mall dimana mereka berada saat itu. Tapi Miko berusaha mengendalikan diri. Seandainya Lyvia itu seorang laki-laki, pasti sudah ia bikin babak belur.


Lyvia menyeka air mata buayanya lalu tersenyum miring. "Aku memang sengaja. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia dengan wanita mana pun," jawab Lyvia.


"KURANG AJAR!" Saking kesalnya Miko sampai menggebrak meja.


"Maaf, Pak Miko, Mbak Lyvia. Kalau mau bikin keributan, silahkan meninggalkan tempat ini." Seorang laki-laki berpakaian formal mengusir mereka secara halus. Laki-laki itu adalah manajer di restoran itu. Manajer itu kenal dengan Miko dan Lyvia karena mereka berdua adalah langganan di restoran itu.


"Sorry, Rey. Gue udah bikin keributan di tempat, Lo," ucap Miko meminta maaf pada manajer yang bernama Reyhan tersebut. Reyhan hanya membalasnya dengan anggukan. Setelah membayar tagihan makanannya, Miko menyeret tangan Lyvia ke tempat yang sepi. Ia ingin mengajak perempuan itu bicara disana.


***


"Tantri! Tri! Kamu mau kemana?" teriak Anton saat mereka sudah keluar dari gedung mall. Tantri menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap ke arah Anton.


"Jangan ikuti aku, Ton! Aku mau sendiri dulu," ucap Tantri. Terlihat jelas kalau air mata gadis itu sudah membasahi pipinya. Anton yang melihatnya jadi merasa kasihan dan tidak tega.


Sepertinya Tantri benar-benar sayang sama kak Miko. Batin Anton.


"Kamu mau kemana, Tri? Jangan macam-macam! Ini tuh bukan daerah tempat tinggal kita. Bagaimana kalo kamu nyasar?" ujar Anton. Tantri terdiam. Yang dikatakan Anton ada benarnya juga, pikirnya.


"Tri! Di dekat sini ada kedai ice cream. Apa kamu mau aku membawamu kesana? Siang-siang begini pasti cocok makan ice cream sambil menenangkan diri," bujuk Anton.


"Yah udah, Ton. Cepat bawa aku kesana," ucap Tantri.


"Ayo!" Anton pun mengajak Tantri untuk ikut dengannya ke parkiran dimana Anton menarkirkan motornya tadi.


"Pakai ini," ucap Anton seraya memberikan helm pada Tantri.