How To Love You

How To Love You
Bab 193



Setelah meminum segelas air untuk membasahi tenggorokannya yang sudah kering sedari tadi, Bu Indah pun membuka kain berbentuk persegi yang ia gunakan untuk membungkus bekal makanan mereka.


Tantri membantu ibunya untuk menyiapkan makanan. Setelah semuanya siap, mereka berempat pun lalu makan bersama.


"Enak juga ternyata makan di sawah, ditambah lagi angin sepoi-sepoi." ucap Miko. Ini pengalaman pertamanya makan di dangau. Ketiganya hanya tersenyum mendengar penuturannya.


Usai makan bersama, Tantri mencuci semua peralatan makan yang mereka gunakan tadi. Sedangkan Bu Indah sedang menyiapkan kopi dan kue yang ia bawa dari rumahnya untuk mereka nikmati bersama.


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Setelah beristirahat beberapa jam, Pak Rudi pun beranjak untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Om! Saya ikut, Om." kata Miko sambil buru-buru turun menyusul Pak Rudi.


"Nak Miko mau ikut kemana?" tanya Pak Rudi sambil menoleh ke arah Miko.


"Itu, Om. Saya mau belajar menanam padi," jawab Miko yang sudah berdiri tepat dibelakang Pak Rudi.


"Tidak usah, Nak Miko. Nanti kaki, Nak Miko bisa terkena cangkang keong mas. Kaki, Nak Miko bisa sakit dan berdarah." ujar Pak Rudi mengingatkan. Cangkang keong itu sangat berbahaya. Apabila mengenai kaki, kaki bisa terluka dan berdarah. Lukanya mirip ketika kaki menginjak pecahan kaca. Tingkat keparahan lukanya tergantung seberapa besar cangkang keong yang diinjak.


"Tidak apa-apa, Om. Saya akan hati-hati."


"Yah sudah. Terserah, Nak Miko saja."


Miko pun kemudian mengekor dibelakang Pak Rudi. Setelah mendapat 1 ikat bibit padi dari Pak Rudi, Miko pun kemudian menginjakkan kakinya ditanah sawah yang berlumpur dan berair untuk yang pertama kali seumur hidupnya. Ia kemudian mengikuti instruksi dari laki-laki paruh baya disampingnya untuk menancapkan bibit padi satu per satu di lahan.


Setelah habis satu ikat bibit padi Miko tanam, ia menyerah. Ia tidak tahan dengan panas terik yang menerpa tubuhnya. Kepalanya juga terasa sedikit sakit nyut-nyutan karena terpapar sinar matahari cukup lama. Ia beranjak meninggalkan tanah berlumpur itu menuju ke gubuk sawah dimana Tantri sedang duduk disana memperhatikan mereka bekerja tadi.


"Aku menyerah," ucap Miko sembari mencuci kakinya yang penuh dengan lumpur menggunakan air sawah.


"Kenapa, Kak?"


"Kepalaku sakit. Ternyata pekerjaan menanam padi tidak semudah kelihatannya," jawab Miko sambil berusah naik ke gubuk.


"Bagaimana kalau kita pulang aja, Kak?" tanya Tania.


"Iya, tapi tunggu dulu, aku mau istirahat sebentar." kata Miko sambil membaringkan tubuhnya di lantai gubuk yang terbuat dari papan. Selain kepalanya, punggungnya juga terasa pegal karena berbungkuk menancapkan bibit padi satu per satu selama hampir satu jam. Ia terlalu memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaannya tadi. Karena ia merasa pantang meninggalkan pekerjaan ia belum ia selesaikan.


"Yah udah, Kak Miko tiduran aja sebentar. Biasanya habis tidur sakit kepala agak mendingan." ujar Tantri.


Setelah tertidur selama kurang lebih setengah jam, mereka pun kembali ke rumah melewati jalan yang semula mereka lewati. Setelah sampai dirumah, Miko segera pamit untuk pulang ke rumah Hendra. Ia ingin mandi membersihkan badannya yang terasa lengket akibat keringat.


***


1 Bulan yang lalu, resepsi pernikahan Tama dan Dewi sudah diselenggarakan. Sedangkan hari itu adalah hari keberangkatan Tantri ke Kota SKG untuk mengikuti program magang yang wajib diikuti oleh setiap siswa dan siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).


Tantri hanya seorang diri mengikuti program itu di restoran Miko nantinya. Ia tidak punya teman sesama pelajar karena Miko hanya menerima 1 orang anak magang saja. Sherina sempat menawarkan diri, tapi Miko menolak. Alasannya ia tidak butuh banyak-banyak siswa magang di restorannya. Ia cuma butuh satu orang saja, yaitu Tantri.


Selama 6 bulan ke depan, Tantri akan tinggal bersama Miko di apartemen milik Miko. Awalnya Tantri menolak untuk tinggal bersama dengannya. Ia ingin menyewa kost-kostan yang dekat dengan tempat magangnya. Tapi Miko bersikeras untuk tetap membawa Tantri untuk tinggal bersama dengannya. Bahkan Miko sudah membicarakan semuanya pada kedua orang tua Tantri beserta anggota keluarga lainnya dan mereka pun mengijinkan. Kalau sudah seperti itu, Tantri tidak bisa menolak lagi.


"Tolong jaga Tantri yah, Nak Miko!" pesan Pak Rudi sambil memegang bahu Miko.


"Iya, Om. Om tidak usah khawatir. Saya akan menjaga, Tantri dengan baik seperti adik saya sendiri." balas Miko.


"Terima kasih." ucap Pak Rudi sembari memeluk Miko. Rasanya ia memiliki anak laki-laki selain Tama dan kedua anak menantu laki-lakinya.


"Kami titip, Tantri yah, Nak Miko," ucap Bu Indah berpesan.


"Iya, Tante."


"Jaga diri kamu baik-baik yah, Dek," pesan Tasya sembari memeluk Tantri.


"Iya, Kak." ucap Tantri seraya membalas pelukan sang kakak.


"Jaga calon ponakan aku yah, Kak." pesan Tantri pada Tasya.


"Iya."


"Baik-baik yah kamu disana," pesan Tania yang kini memeluk adiknya.


"Iya, Kak."


"Mik, jaga calon masa depan, Lo yah." bisik Hendra sambil berpesan pada sahabatnya itu.


"Pasti Hend, Lo nggak usah khawatir." balas Miko.


"Selama adik ipar Gue nanti tinggal sama, Lo. Lo jangan macam-macam, yah."


"Iya, iya. Lo nggak usah khawatir. Gue pasti ngejagain dia dengan sangat sangat sangat baik nanti."


Setelah berpamitan pada semuanya, Miko dan Tantri pun masuk ke ruang tunggu Bandara. Beberapa saat lagi jadwal penerbangan mereka tiba.