
"Eh mulut lemes, jangan sembarangan yah kalo ngomong. Mulut kamu minta dicabein, yah?" ucap Tantri. Sejak kemarin ia memang sudah gemas dengan sahabatnya yang satu itu.
"Oops, sorry." ucap Sherina sambil menutup mulutnya. Ia sadar kalau Tantri benar-benar kesal kali ini.
"Yang tadi itu siapa sih, Tri? Beneran pacar kamu?" tanya Anton penasaran.
"Bukan, Ton. Ayo masuk! Kalian mau di traktir nggak?" jawab Tantri.
Anton cukup lega mendengarkan jawaban Tantri.
"Mau mau." jawab ketiganya serentak.
Mereka pun lalu berjalan bersama menuju kantin.
Di Kantin
Sherina dan Aldo memesan 2 piring nasi kuning untuk menjadi santapan mereka pagi itu, sedangkan Anton hanya minta dibelikan cemilan saja. Ia sudah sarapan dirumahnya sebelum ia berangkat ke sekolah.
"Emang kalian berdua nggak sarapan apa sebelum ke sekolah?" tanya Tantri pada Sherina dan Aldo yang duduk diseberang mejanya.
"Aku tadi belum sempat sarapan, soalnya aku udah nggak sabar pengen ketemu Bebeb Erin." jawab Aldo sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Sherina.
"Sama, aku juga udah nggak sabar pengen ketemu Yayang Aldo." sambung Sherina sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya dengan cepat.
"Makan tuh Cinta! Emang kalian pikir perut kalian bisa kenyang kalo sarapannya pake cinta doang. Huuuh!" ledek Tantri.
Yang diledek tidak peduli dengan ucapan sahabatnya itu. Anton cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan pasangan sahabat yang jadi cinta itu. Anton melirik ke arah Tantri, ia berharap dirinya dan juga gadis yang ada disampingnya itu bisa mengikuti jejak kedua sahabatnya. Meskipun bukan sekarang, pikirnya. Anton berharap, saat mereka sudah sama-sama dewasa nanti, ia akan memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Tantri.
Tapi itulah Anton. Remaja seusia Tantri yang masih polos pemikirannya. Ia belum berpikir kalau dunia ini penuh dengan saingan. Bagaimana kalau Tantri menjalin hubungan dengan orang lain? Pikirannya belum menjalar sampai kesitu.
***
"Kriiing, kriiiing."
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Terlihat siswa siswi dari masing-masing ruang kelas dari berbagai tingkatan dan jurusan yang berbeda-beda berhamburan keluar satu per satu, begitu pula di kelas Tantri. Keempat sahabat itu berjalan keluar bersama.
"Tri, kamu pulang naik apa nanti? Mau aku anterin?" tawar Anton.
"Nggak usah Ton, entar Kak Miko bakal jemput aku kok." tolak Tantri.
"Oh." Anton sedikit kecewa dengan penolakan Tantri. Tapi ia juga tidak punya alasan untuk memaksa Tantri untuk ikut bersamanya.
"Nggak juga, mungkin cuma hari ini aja." jawab Tantri.
Aldo dan Anton memisahkan diri dengan Tantri dan juga Sherina, kedua anak laki-laki itu berjalan menuju parkiran hendak mengambil motor mereka masing-masing. Sedangkan Sherina menemani Tantri menunggu Miko di bawah sebuah pohon rindang di pinggir jalan, tidak jauh dari pintu gerbang sekolah.
Tidak sampai 1 menit mereka menunggu, tiba-tiba mobil yang dikendarai oleh Miko untuk menjemput Tantri pun akhirnya datang.
"Beep."
"Nah, itu Kak Miko!" seru Tantri. Senyuman manis tiba-tiba mekar dibibir gadis itu saat ia melihat kedatangan Miko.
"Untungnya kamu nggak perlu nunggu lama, Tri." ujar Sherina.
Miko menghentikan laju mobilnya tepat dihadapan kedua anak gadis itu. Setelah mematikan mesin mobilnya, Miko pun turun untuk menghampiri Tantri dan Sherina.
"Hai!" sapa Miko pada kedua gadis itu.
Sherina mengucek kedua matanya. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Ini beneran cowok yang kemarin dan tadi pagi yang aku liat bukan? Aku nggak salah liat, kan? Kenapa bisa jadi ganteng dan muda begini? Kemana Om-Om yang kemarin aku liat itu? Hmm, kalo begini sih, aku juga mau pacaran sama yang lebih dewasa." batin Sherina.
"Wah, Kak Miko ganteng banget hari ini. Nah, Sherin, apa kamu masih mau mengatai Kak Miko Om-Om? Melihatnya saja membuat matamu nggak bisa berkedip. Jangan bilang abis ini kamu mau mutusin si Aldo terus balik mengejar Kak Miko. Hahaha." batin Tantri tertawa puas didalam hatinya.
Miko menghampiri Tantri tanpa mempedulikan keberadaan Sherina yang sudah melongo dari tadi menatapnya.
"Ayo!" ajak Miko sembari mengulurkan tangannya ke arah Tantri. Gadis itu pun meraih uluran tangan Miko dengan senang hati.
"Aku duluan, yah Sherin. Bye!" ucap Tantri sembari menggandeng tangan Miko.
Sherina tidak menjawab, ia masih saja melongo menatap Miko. Sepertinya gadis itu menyesal dan ingin menarik kata-katanya kemarin. Tapi sayang, lidahnya terasa keluh dan tidak bisa berkata-kata. Ia terlalu mengagumi keindahan yang ada didepan matanya sampai ia tidak sadarkan diri. Ia seperti terhipnotis melihat pesona penampilan Miko yang baru
"Eh, iler kamu keluar tuh." canda Tantri.
"Hah?!" Sherina dengan cepat menyeka bibirnya. Ia pikir disana benar ada air liur yang mengalir.
S**lan. Kamu ngerjain aku, Tri. Batin Sherina. Ia merasa malu sendiri saat menyadari kalau dirinya menatap Miko dengan cara yang sedikit berlebihan.
Tantri dan Miko pun segera masuk kedalam mobil meninggalkan Sherina disana yang masih berdiri seperti orang bodoh. Di perjalanan, Tantri terus-terusan saja tertawa. Ia merasa sangat puas sekali melihat tingkah bodoh sahabatnya itu.