
Setelah beberapa saat di ruang ganti, Tantri pun keluar dari tempat itu. Ia terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan gaun pengantin berwarna biru muda dengan model cinderella. Miko saja sampai tidak bisa berkedip dibuatnya.
Tantri menundukkan wajahnya malu-malu. Sejujurnya didalam hatinya ia juga merasa sangat senang dan bahagia bisa mencoba gaun cantik itu. Miko berjalan menghampiri Tantri yang diam mematung didepan ruang ganti.
"Kamu cantik sekali, Tri," ucap Miko lalu menarik tangan Tantri dan menghadapkannya ke sebuah cermin yang berukuran sangat besar. Tantri mengembangkan senyum saat melihat pantulan dirinya di cermin.
Aku cantik juga yah ternyata kalo pakai gaun pengantin. Batin Tantri sambil menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan saat melihat pantulan dirinya di cermin besar itu.
"Kamu suka?" tanya Miko.
"He'em." Tantri menjawab disertai anggukan dan senyuman.
"Bagaimana kalau kita meminta tante Laura untuk menyimpan gaun ini untuk kamu pakai dihari pernikahan kita nanti?"
"Siapa itu tante Laura?" tanya Tantri sambil mendongak menatap wajah Miko.
"Desaigner terkenal sekaligus pemilik butik ini. Temannya mama," jawab Miko.
"Oh, pantas gaunnya cantik-cantik semua. Jadi ternyata pemilik butik ini desaigner terkenal toh," guman Tantri sambil manggut-manggut.
"Bagaimana? Kamu setuju," tanya Miko.
"Mm ... gimana yah, Kak? Apa nanti gaunnya nggak ketinggalan jaman kalo kita belinya sekarang?"
"Ketinggalan jaman? Maksud kamu?" tanya Miko tidak mengerti.
"Iya. Kalau kita nikahnya 5 tahun lagi, bisa-bisa model gaunnya udah nggak tren lagi, Kak," jelas Tantri. Miko terkesiap mendengar jawaban gadis itu. Ia tidak menyangka kalau Tantri akan membuatnya menunggu selama itu.
Apa? 5 Tahun? Apa aku sanggup menunggu selama itu? Bisa keburu tua aku nantinya. Batin Miko.
"Kak Miko kok mukanya gitu?" tanya Tantri saat melihat ekspresi Miko yang lain dari biasanya.
Miko memutar badan Tantri lalu membuat gadis itu menghadap ke arahnya. "Tri, kamu yakin mau membuatku menunggumu selama itu? Apa kamu tidak kasihan padaku, hem? Aku ini sudah tua, Tri." Miko memasang wajah sendu sambil menatap dalam kedua bola mata gadis kesayangannya. Tantri segera menundukkan wajahnya. Ia merasa malu bersitatap seperti itu dengan Miko. Apalagi jarak mereka sangat dekat.
"Jawab aku, Tri." Miko mengangkat dagu Tantri dan membuat gadis itu menatap wajahnya kembali.
"Mm ... mau gimana lagi, Kak? Usiaku kan masih sangat muda. Lagian, Kak Miko juga nggak tua-tua amat kok," jawab Tantri.
"Baiklah. Aku mengerti. Sebaiknya aku memang harus bersabar menunggumu. Tapi aku tidak janji akan menunggumu sampai selama itu."
"Maksud, Kak Miko? Kak Miko mau nyari perempuan lain gitu buat dinikahin? Nggak mau nunggu aku siap?" Tantri salah paham. Ia segera menepis tangan Miko yang masih memegang dagunya. Tantri segera memutar badannya lalu mengangkat sisi kiri dan kanan gaun pengantin yang ia kenakan dan segera buru-buru masuk ke dalam ruang ganti. Entah kenapa ia merasa sakit hati mendengar jawaban Miko.
"Yah, ngambek lagi."
"Tri! Aku tidak bermaksud seperti itu!" teriak Miko. Tapi Tantri tidak menghiraukannya.
"Tantri! Dengar dulu," panggil Miko sambil mengikuti langkah Tantri. Namun langkahnya dicegah oleh karyawan butik yang sedang berjaga.
"Maaf, Pak. Anda tidak boleh masuk."
"Ah, iya. Maaf, Mbak." Miko pun memutuskan untuk menunggu Tantri didepan ruang ganti.
Sementara itu, Tantri segera melepas gaun pengantin yang ia kenakan dibantu oleh salah satu karyawan butik. Dengan wajah cemberut dan perasaan kesal, ia terus mengomel dalam hati.
Katanya cinta sama aku. Katanya sayang sama aku. Masa nunggu lima tahun aja nggak sanggup. Enak banget yah dia. Begitu mudahnya dia mau nyari cewek lain buat dinikahin. Apa jangan-jangan kak Miko emang cuma mau mainin perasaan aku aja. Batin Tantri.
Tidak lama kemudian, Tantri keluar dan sudah kembali lengkap dengan pakaiannya semula. Miko pun segera menghampirinya.
"Tri, jangan marah dong, sayang. Kamu cuma salah paham," jelas Miko sambil memegang kedua tangan gadis itu. Tapi Tantri malah membuang mukanya. Ia tidak mau mempercayai ucapan Miko begitu saja.
"Sayang, jangan marah yah," bujuk Miko.
Miko memegang dagu Tantri. "Lihat aku! Aku tidak mungkin mencari wanita lain untuk dinikahi. Aku sangat mencintai dan menyayangi kamu. Kalau aku tidak menikah sama kamu, lebih baik aku membujang seumur hidup. Bagiku, kamu itu satu-satunya wanita yang akan mengisi hati dan hidupku sampai akhir hayatku."
Tantri bisa melihat kesungguhan dimata Miko. Ia begitu yakin kalau Miko sedang tidak berbohong. Semarah apapun dirinya, ternyata dengan mudahnya Miko meruntuhkan amarahnya hanya dengan melontarkan kalimat-kalimat yang menurutnya sangat romantis dan menyentuh.
"Jangan marah lagi yah, sayang," ucap Miko lalu melingkarkan tangannya memeluk Tantri. Mungkin karena merasa bahagia, Tantri juga membalas pelukan Miko. Ia menenggelamkan wajahnya didada bidang milik pria itu. Menikmati aroma parfum yang sangat ia sukai. Rasanya ia ingin berlama-lama menenggelamkan wajahnya disana. Pelukan Miko terasa begitu hangat dan nyaman.
Miko mulai melepaskan pelukannya. Tapi anehnya, Tantri masih terus memeluknya dengan erat. Miko tersenyum. Sepertinya gadis itu benar-benar merasa nyaman di pelukannya. Miko mencium pucuk kepala Tantri lalu kembali melingkarkan tangannya memeluk gadis kesayangannya. Ia ingin membiarkan gadis itu berada dipelukannya barang beberapa saat lagi sampai gadis itu merasa puas dan mau melepaskan dirinya sendiri.
Sebelum adzan maghrib berkumandang. Mereka kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, Miko terus menggenggam tangan Tantri dan sesekali mencium punggung tangannya. Ia merasa sangat bahagia sekali sore itu, begitu juga dengan Tantri.
Tanpa mereka berdua sadari ternyata Bu Melda memperhatikan gerak-gerik mereka berdua lewat kaca spion mobil. Wanita paruh baya itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anaknya sedang dimabuk cinta.
***
Keesokan Harinya, setelah makan siang dan shalat zhuhur berjama'ah. Tantri duduk di sofa sambil chating-an dengan Anton karena waktu jam istirahat masih ada sekitar 20 menit lagi. Lagi pula semua pekerjaannya juga sudah beres. Jadi ia tinggal berleha-leha saja dan menunggu waktu jam pulang kerja.
π© Tantri : Ton
π© Tantri : Hari minggu nanti jalan yukπ
π© Anton : Aku sih mau-mau aja Tri. Tapi aku takut sama body guard kamu
π© Tantri : Body guard? Body guard apaan?π€
π© Anton : Itu loh. Bos kamu
π© Tantri : Maksud kamu kak Miko?
π© Anton : Iya. Siapa lagiπ
π© Tantri : ππ Ton Ton. Bisa aja kamu
π© Anton : Gimana nih? Kamu udah minta ijin nggak nih sama body guard kamu itu?
π© Tantri : Udah dong. Kamu tenang ajaππ
π© Anton : Yaudah kita jalan dimana nanti?
π© Tantri : Ke mall yang paling deket dari sini aja
π© Anton : Oke. Jam berapa?
Tantri : Nanti aku kabarin
π© Anton : Siipπ
****************
Siang itu Miko berada di ruangan Jonathan. Setelah membahas urusan pekerjaan, Jonathan pun bermaksud untuk mengutarakan isi hatinya pada Miko mengenai keseriusannya pada Tantri.
"Mm ... Pak Miko. Sebelumnya saya minta maaf kalau saya lancang," ucap Jonathan. Miko mengernyitkan kening bingung sekaligus penasaran dengan apa yang akan dibahas oleh manajernya itu.
"Saya ingin membicarakan sesuatu dengan Anda tapi tidak ada kaitannya dengan pekerjaan," lanjut Jonathan. Setelah bersusah payah mengumpulkan nyawa dan keberanian, Jonathan pun akhirnya bisa mengucapkan kata-kata itu didepan atasannya.
"Bukan soal pekerjaan. Lalu apa, Jo?" tanya Miko penasaran.
"Mm ... ini mengenai ..."
Astaga! Kenapa aku jadi gugup begini? Batin Jonathan.
"Mengenai apa, Jo?"
"Mm ... mengenai keseriusan saya pada adik sepupu Anda, Pak." Jonathan pun akhirnya memberanikan diri mengatakan hal tersebut. Miko begitu terkejut mendengarkan pengakuan Jonathan.
...----------------...
Hai Readers!
Selesai membaca bab ini, jangan lupa mampir juga di karya-karya Author yang lainnyaπ