
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
...----------------...
Mr. A : Halo bos! Saya sudah mengikuti mereka sampai mereka kembali.
Fathur : Baik. Kirimkan foto-fotonya sekarang.
Mr. A : Siap bos! Tunggu sebentar.
Tut tut tut.
Dret dret, dret dret.
Fathur membuka pesan di WhatsAppnya dari Mr. A.
"Tasya. Sepertinya kamu sudah bahagia bersamanya. Aku turut bahagia melihatmu bahagia." ucap Fathur sambil menggeser foto itu satu per satu.
Sampailah pada sebuah foto, saat Hendra mencium Tasya di mini market saat ingin membeli ice cream.
"Apa ini?" mencoba memperbesar foto untuk memperjelasnya.
"Cih, dia menciummu di tempat umum." Menyeringai sinis lalu menggeser fotonya lagi.
"Sepertinya dia ingin memanjakanmu. Baguslah, semoga kalian bahagia." ucapnya saat melihat foto Tasya dan Hendra yang melangkah masuk kedalam salon kecantikan.
Fathur meremas handphonenya, entah kenapa hatinya terasa ngilu melihat Tasya bahagia bersama Hendra.
"Ada apa denganku? Kenapa aku begini? Kenapa hatiku masih terasa sakit? Aku pikir aku akan bahagia melihat kamu bahagia. Nyatanya tidak." batin Fathur.
"Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Fani sedang mengandung anakku. Aku tidak boleh melukai perasaannya." batin Fathur mencoba berpikir positif kembali.
***
Keesokan harinya,
"Sayang. Lepaskan tanganmu aku mau bangun." pinta Tasya mencoba melepas pelukan Hendra dari dirinya. Tapi Hendra malah semakin mempereratnya.
"Sayang. Aku mau bangun. Aku kebelet." Tasya semakin berusaha melepaskan diri dari pelukan Hendra.
"Cium dulu dong sayang. Ciuman selamat pagi seperti biasanya." ucapnya dengan suara khas bangun tidur.
"Muah muah muah muah. Sudah yah sayang, aku mau masuk kamar mandi dulu." mencium Hendra diseluruh bagian wajahnya.
Setelah Hendra melepaskannya, Tasya pun berlari masuk ke kamar mandi dia sudah kebelet BAB dan BAK dari tadi, tapi Hendra menghalang-halanginya.
Poop poop sreeet.
Setelah selesai buang hajat, ia pun berdiri di depan wastafel.
"Akhirnya dapat tamu bulanan juga." gumam Tasya lega.
"Berarti aku bisa tenang mengikuti Ujian Akhir Semesterku lusa. Haaah leganya." gumamnya lega sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
"Bagus juga perawatan di salon, bangun tidur saja aku masih tetap kelihatan cantik. Hehe." ujarnya tertawa kecil.
"Rambutku juga terlihat cocok denganku. Seumur-umur baru kali ini mewarnai rambut. Lihat, bangun tidur saja tidak terlihat kusut sama sekali." gumamnya sambil menyisir rambutnya dengan jemarinya.
"Dia benar-benar ingin memanjakanku. Beruntung sekali aku ini. Lama-lama, aku bisa benar-benar jatuh cinta padanya." imbuhnya sambil tersenyum.
Tasya pun keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaian ganti dan pembalut. Ia ingin mandi sebelum beraktifitas.
"Sayang ,sini dulu." panggil Hendra dengan nada manja sambil menepuk-nepuk kasur disampingnya.
"Duduk sini dulu, aku masih mau peluk kamu sayang." ucap Hendra masih dengan nada memanja.
"Mm ... sayang. Aku lagi datang bulan sekarang. Takutnya kalau aku duduk, darahnya nempel lagi di seprai." kata Tasya sambil berdiri di samping tempat tidur.
"Yah ... aah hiks hiks hiks." Hendra pura-pura menangis sambil guling-guling dikasur seperti anak kecil yang sedang merengek minta sesuatu tapi tidak dikasih. Hendra sedikit kecewa karena Tasya harus datang bulan secepat itu. Padahal mereka belum genap seminggu menikah.
Tasya hanya tertawa geli melihat tingkah konyol suaminya.
"Hiks. Kasihan kamu adik kecil, harus puasa disaatĺ lagi **********nya." ujar Hendra pada juniornya.
"Biasanya berapa hari sayang?" imbuh Hendra bertanya.
"Biasanya satu minggu sayang." ucap Tasya masih berdiri di samping tempat tidur.
"Hah? Apa? Satu minggu?" Hendra kejang-kejang.
***
Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi-pagi sekali Tasya membuat sarapan untuk Hendra. Hendra duduk murung sambil menunggui istrinya di meja makan.
"Kok cemberut sih sayang? Nanti gantengnya luntur loh." goda Tasya sambil meletakkan sebuah nampan berisi dua gelas susu dan beberapa lembar roti beroleskan selai nanas dan selai stroberi.
Hendra tidak menggubris, ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu istrinya yang sedang duduk disampingnya.
"Manja banget sih sayangku." ujar Tasya sambil memisahkan sarapannya dari nampan.
Hendra tiba-tiba mengembangkan senyumnya mendengar Tasya berkata 'sayangku' padanya. Ia semakin gemas pada istri mungilnya itu. Ia lalu memeluk pinggang Tasya dengan kedua tangannya lalu mengecup pipi istrinya. Tasya sudah mulai terbiasa dengan perlakuan suaminya yang manja tapi penyayang. Ia hanya membalasnya dengan tersenyum lalu berkata.
"Sayang. Buka mulutmu." ucap Tasya mencoba menyuapi Hendra dengan sebuah roti.
Hendra mengikuti intruksi istrinya dan membuka mulutnya. Tasya pun menyuapinya sampai sarapanya habis. Setelah mereka berdua selesai sarapan. Tasya melanjutkan pekerjaannya di dapur mencuci gelas dan piring kotor. Sehabis itu memasak nasi dan lauk pauk.
Hendra memperhatikan istrinya bekerja didapur sambil bermain bersama Puss.
"Istriku sayang. Kamu adalah sosok pasangan yang paling sempurna yang pernah aku temui. Aku sangat mencintaimu, sayangku." batin Hendra seraya melengkungkan kedua sudut bibirnya keatas.
Hendra pun lalu menghampiri Tasya yang sedang sibuk bekerja didapur. Seperti biasa, saat Tasya sedang memasak, Hendra selalu memeluk istrinya dari belakang, menciumi pipi kiri dan kanannya lalu menenggerkan dagunya di bahu istrinya.
"Sayang ih ... geli tau." ucap Tasya. Ia merasa geli saat Hendra mencium tengkuknya.
Hendra tersenyum lalu bertanya, "Mau masak apa sayang?"
"Aku mau masak ayam geprek," jawab Tasya belum selesai.
"He." Gumam Hendra.
"Oseng tempe," lanjut Tasya.
"He. Apa lagi?" tanya Hendra.
"Sayur kol, perkedel sama sambel." jawab Tasya selesai.
"Jadi laper sayang." ujar Hendra.
"Sabar dulu sayang. Tunggu satu jam lagi." balas Tasya.
"Mau aku bantu sayang." tawar Hendra.
"Boleh sayang." balas Tasya.
Hendra pun lalu membantu Tasya memasak. Satu jam lebih kemudian semuanya sudah terhidang di meja makan.