How To Love You

How To Love You
Bab 116



Kamar Tania


Setelah menangis cukup lama, Tania pun akhirnya keluar dari kamar mandi. Ia keluar setelah ia berhasil menguasai dirinya. Matanya merah dan sembab akibat menangis cukup lama. Tania masih sangat marah pada Radit. Ia lalu duduk dipinggir tempat tidur sambil mengutak atik smartphonenya. Ia melihat kembali satu per satu foto-foto yang mereka ambil beberapa jam yang lalu di taman. Tania tersenyum menatap foto tersebut. Namun seketika senyumnya pudar setelah mengingat kejadian di kamar Radit beberapa waktu lalu.


"Ngapain aku masih simpan foto-foto ini? Mending aku hapus aja semuanya. Semua ini udah nggak penting lagi. Besok aku akan mengajak kamu bicara Dit. Aku akan mengakhiri hubungan kita mulai besok." ujar Tania bicara sendiri sambil menghapus semua foto-foto kenangannya bersama Radit.


Setelah selesai menghapus semua fotonya, Tania pun lalu membuka applikasi whatsapp nya.


"Nomor nggak penting, mending aku block aja." gumam Tania. Ia lalu memblokir nomor Radit dan menghapus semua isi pesan atas nama Radit di aplikasi hijau tersebut.


Bukannya lega Tania malah semakin merasakan ngilu yang menjalar di hatinya.


"Sudahlah. Untuk apa juga aku menangisinya? Mungkin aja dia udah bersenang-senang didalam sana bersama cewek itu." ucap Tania mencoba menguasai dirinya. Ia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan.


"Sudah larut, besok adalah hari bahagia Kak Tasya dan Kak Hendra. Tapi malah menjadi hari yang ... ah sudahlah, ngapain juga aku mikirin hal-hal yang nggak penting. Mending aku tidur sekarang. Tania, kamu ini gadis yang kuat dan tegar. Kamu pasti bisa hidup lebih baik di hari esok meskipun tanpanya." ucap Tania bermonolog dengan dirinya sendiri. Ia pun lalu bergegas naik ke tempat tidur. Butuh waktu 30 menit untuk ia bisa terlelap dan melupakan segalanya.


Keesokan Harinya


Pukul 04:30


Tantri bangun pagi-pagi sekali untuk mandi dan bersiap-siap. Sedangkan Tania masih asyik bergelut dengan dunia mimpinya. Tantri tidak tega membangunkan kakaknya yang terlihat tidur begitu pulasnya. Tantri tahu kakaknya habis jalan-jalan di taman tadi malam. Mungkin saja ia sedang kelelahan, pikir Tantri.


Tantri beranjak menuju kamar mandi. Ia ingin segera mandi agar ia bisa di rias duluan. Hendra sudah menyewa beberapa orang tukang rias untuk merias anggota-anggota keluarganya. Pukul 05:00 pagi para perias itu diharuskan sudah ada di hotel dan memulai pekerjaannya.


Tiba-tiba, "Tok tok tok."


"Siapa sih jam segini ketok-ketok pintu kamar orang? Nggak tau apa ini masih subuh. Untung aja aku udah bangun. Gimana kalo nggak?" kata Tantri mendumel sambil berjalan membuka pintu.


"Jangan-jangan hantu lagi. Ah, nggak mungkin disini ada hantu." imbuhnya lagi mencoba menepis pikiran buruknya.


"Eh, Kak Radit. Ada apa kak jam segini ketok-ketok pintu kamar orang?" tanya Tantri saat melihat sosok Radit yang berdiri diluar sana.


"Boleh aku masuk?" tanya Radit.


"Ih, ngapain kakak bertamu dikamar orang subuh-subuh begini?" jawab Tantri balik bertanya.


"Aku mau ketemu sama Tania." jawab Radit.


"Orangnya masih tidur. Nanti aja yah kak datang lagi kesini kalo Kak Tania nya udah bangun." ujar Tantri mencoba menutup pintu kamarnya. Ia malas menerima tamu di jam sepagi ini.


"Tunggu Tantri! Sebentar aja, aku mohon. Aku cuma mau liat Tania sebentar, nggak bakalan lama kok." seru Radit sambil menahan pintunya agar tidak sampai tertutup.


"Tapi Kak Tania nya masih tidur Kak Radit." jelas Tantri. Ia mencoba memberikan penjelasan pada Radit agar Radit mau mengerti.


"Nggak apa-apa. Sebentar aja kok. Aku janji nggak bakalan ganggu tidur Tania." jelas Radit. Ia sangat berharap Tantri mau mengijinkannya masuk.


"Tapi aku udah kangen banget sama Tania, Tantri. Boleh yah, boleh yah, aku mohon." Radit memohon sambil mengatupkan kedua tangannya membuat Tantri merasa kasihan padanya.


"Dasar bucin. Sana masuk, tapi sebentar aja yah. Jangan sampe Kak Radit bangunin Kak Tania." ucap Tantri memperingati.


"Oke. Makasih yah." ucap Radit setuju seraya ia melingkarkan jari telunjuk dan jempolnya. Ia merasa sangat senang sekali karena Tantri akhirnya mengijinkannya masuk.


Radit mengekori Tantri masuk kedalam kamar.


"Itu dia orangnya. Cepetan sana diliatin, abis itu cepat keluar sana." ucap Tantri.


"Judes banget sih nih calon adek ipar." sindir Radit.


"Biarin." balas Tantri.


"5 minute please." ucap Radit dengan wajah memelas.


"Yah udah. Aku mau mandi dulu. Tapi, Kak Radit sudah harus meninggalkan tempat ini sebelum aku keluar. Mengerti." tegas Tantri.


"Iya, iya. Kamu tenang aja." balas Radit.


Setelah Tantri masuk ke dalam kamar mandi, Radit pun mendekati Tania. Ia lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap lekat wajah gadis pujaan hatinya yang sedang tertidur dengan sangat lelap tersebut.


"Maafin aku yah sayang. Sepertinya kamu abis nangis. Pasti gara-gara aku yah." Radit melihat kelopak mata Tania yang sedikit bengkak.


"Aku ngelakuin itu semua karena aku pengen tau isi hati kamu yang sebenarnya ke aku itu gimana. Aku nggak benar-benar mengkhianati kamu kok, Nia."


"Aku sayang banget sama kamu. Aku nggak mungkin mengkhianati kamu."


"Bahkan aku rela ngelakuin apa aja asalkan itu demi kamu. Yang penting kamu nggak ninggalin aku."


"Aku janji, aku nggak akan memaafin siapapun yang mencoba mengusik hubungan kita, sayang. Nggak akan." janji Radit sambil mengepalkan tangannya. Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Chelsea semalam.


"Aku balik ke kamarku dulu yah. Aku harap kamu akan mengerti penjelasanku nanti dan kamu nggak ngambek lagi." ucap Radit sambil tersenyum.


"Cup." kecupan lembut mendarat di kening Tania.


Tania menggeliat, Radit pun buru-buru keluar dari tempat tersebut karena takut ketahuan Tania. Setelah Radit hampir sampai di dekat pintu, perlahan-lahan Tania membuka matanya ia melihat Radit membuka pintu dan keluar dari kamar itu.


"Apa aku sudah gila yah? Kenapa aku terus memikirkan cowok breng*ek itu. Semalaman aku mimpiin dia terus. Dan sekarang aku malah melihat bayang-bayangnya keluar dari kamar ini. Aku nggak boleh kayak gini terus, nggak boleh." batin Tania.


"Aku nanti harus berbicara sama Radit. Aku harus mengakhiri hubungan yang nggak jelas ini." batinnya lagi lalu kembali melanjutkan tidurnya karena ia masih sangat mengantuk.