
"Begini, Om. Saya mau ngajak, Om dan keluarga makan malam di restoran saya," ujar Miko membuka pembicaraan.
"Oh, boleh." jawab Pak Rudi setuju.
"Tunggu sebentar, Om! Radit kesini juga mau nyampaiin pesan, Papa ke, Om." ujar Radit menimpali.
"Pesan apa, Nak Radit?" tanya Pak Rudi.
"Mmmm, Papa mau ngajakin, Om makan malam juga. Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin, Papa bicarakan sama, Om dan Tante." jelas Radit sambil sesekali melirik ke arah Tania.
"Sesuatu yang sangat penting apa, Nak Radit?" tanya Pak Rudi penasaran.
"Radit juga kurang tau, Om." jawab Radit.
Pak Rudi terlihat seperti sedang berpikir.
"Mm, bagaimana ini, Nak Miko? Apa sebaiknya makan malamnya ditunda dulu?" tanya Pak Rudi bingung.
Miko juga sedang berpikir.
"Bagaimana kalau semuanya makan malam di restoran saya? Kita juga ajak anggota keluarganya Radit, Om. Soalnya tadi, saya juga udah ngajakin, Om Gunawan dan Tante Arini." usul Miko.
"Oh nggak bisa, Om. Yang mau, Papa bicarain ke, Om itu urusan yang sangat penting dan bersifat pribadi. Jadi nggak boleh ada orang lain yang ganggu." jelas Radit menyela pembicaraan Pak Rudi dan Miko.
Pak Rudi semakin bingung sekaligus penasaran dibuatnya.
"Penting dan bersifat pribadi. Apa kira-kira itu, Nak Radit?" tanya Pak Rudi.
"Radit juga kurang tau, Om. Tapi kata, Papa yah begitu." jawab Radit.
"Yah sudah. Nanti, Om akan bicara dengan, Papamu di telpon." ujar Pak Rudi.
"Iya terserah, Om aja." ucap Radit.
"Oh iya, kapan, Om dan Tante akan kembali ke kampung?" tanya Miko.
"Rencananya besok sore, Nak Miko." jawab Pak Rudi.
"Kenapa cepat sekali, Om? Padahal saya mau ngajak kalian jalan-jalan di tempat hiburan yang bagus di Kota ini," jelas Miko agak kecewa.
"Maaf, Nak Miko. Nanti jalan-jalannya lain kali. Kami juga harus segera kembali ke kampung. Karena padi-padi di sawah kami harus segera dipanen." jawab Pak Rudi.
"Apa tidak bisa ditunda dulu, Om?" tanya Miko lagi.
"Tidak bisa, Nak Miko! Ini saja panennya sudah lama tertunda karena Papanya Hendra selaku pedagang yang membeli semua hasil panen disana akhir-akhir ini lagi sibuk mengurus resepsi pernikahan Tasya dan Hendra." jelas Pak Rudi.
"Oh, begitu yah, Om." ucap Miko.
Setelah cukup lama berbincang-bincang. Pak Rudi pun akhirnya menghubungi Pak Rahmat melalui sambungan telepon.
π Pak Rahmat : Assalamu'alaikum, Rudi!
π Pak Rudi : Wa'alaikum salam. Begini, Mat kata Radit, kamu ingin mengajakku membicarakan hal yang sangat penting malam ini. Ada apa?
π Pak Rudi : Oh baiklah, aku mengerti. Bagaimana kalau kita bicarakan di restoran Nak Miko saja. Dia mengundang kita dan keluarga kita untuk makan malam direstorannya malam ini.
π Pak Rahmat : Mm, mungkin sebaiknya hal itu kita tunda dulu. Bagaimana kalau kita bicarakan hal itu nanti setelah kita kembali ke kampung?
π Pak Rudi : Baiklah. Sepertinya lebih baik begitu. Sebaiknya kalian juga bersiap-siaplah sekarang. Karena sebentar lagi kita akan berangkat.
π Pak Rahmat : Baiklah, Rud.
Setelah semua orang berkumpul di lobi hotel, mereka pun lalu berangkat menggunakan mobil Miko. Sebagian juga naik taxi karena mobil Miko tidak muat.
Malam itu, Miko dan yang lainnya sengaja tidak mengajak Hendra dan Tasya karena mereka ingin membiarkan keduanya beristirahat. Karena besok sore mereka harus siap-siap ke bandara untuk berangkat bulan madu ke Turki.
Radit dan Tania memilih naik taxi ke restoran milik Miko. Sebenarnya Radit tadinya menolak dan tidak ingin ikut kesana. Berbagai alasan sudah ia gunakan untuk menolak ajakan Miko. Tapi karena Pak Rudi dan juga Bu Indah terus memaksanya ia pun akhirnya terpaksa menurut dan mau ikut kesana.
Didalam taxi yang ditumpangi Radit berdua dengan Tania.
"Nia!" panggil Radit.
"Iya, Dit ada apa?" sahut Tania yang duduk disebelahnya.
"Sebenarnya aku malas tau, ikut makan malam bersama mereka," ujar Radit cemberut.
"Iya, aku tau," balas Tania.
"Kalau bukan karena permintaan kedua camerku pasti aku nggak mau ikut kesana, meskipun aku dikasih makanan gratis seharga jutaan." cerocos Radit.
Tania hanya tertawa mendengarnya.
"Kenapa ketawa? Kamu pasti seneng, kan diajak kesana? Ayo ngaku!" tuding Radit.
"Nggak." bohong Tania karena tidak mau membuat Radit tambah marah.
"Siapa juga yang nggak seneng di ajak makan gratis direstoran mewah, Dit? Apalagi makanan disana enak-enak lagi. Kecualiiii, kamu aja yang nggak seneng." batin Tania.
"Jangan pasang muka cemberut gitu dong. Ayo, senyum!" seru Tania mencoba menghibur Radit.
"Nggak mau, Nia. Padahal tadinya aku mau ngajakin kamu ke taman. Karena besok kita sudah pulang." ujar Radit kurang bersemangat.
"Kamu juga masih punya utang janji sama aku." kata Tania sambil menunjuk Radit dan menyipitkan matanya.
"Iya, aku tau. Aku juga nggak lupa kok, sayang. Tapi orang-orang maunya kita juga ikut pulang besok. Gimana dong?" jelas Radit.
"Yah nggak apa-apa sih." ujar Tania santai.
"Apaaa kita bilang aja ke orang-orang kalo kita bakal pulang besok lusa?" usul Radit.
"Nggak usah, Dit. Kamu belum ngomong aja aku udah tau jawabannya. Ayah pasti nggak bakalan ngijinin." jelas Tania.
"Aish, padahal aku pengen banget bawa kamu kesana." ujar Radit.
"Nggak apa-apa. Lain kali aja yah, sayang." kata Tania.