How To Love You

How To Love You
Kamu Jual, Aku Beli



Usai shalat jum'at Hendra dan Fathur akhirnya bertemu di kantin sekolah. Hendra sudah memesan 2 cangkir kopi untuk menemani mereka mengobrol nantinya.


Kedua pemuda tampan itu sekarang sudah duduk dan saling berhadapan di dalam kantin sekolah. Fathur yang pertama kali membuka pembicaraan.


"Ada apa kamu mengajakku ke sini?" tanya Fathur. Dia sudah sangat penasaran dari tadi.


"Oke. Aku tidak suka berbasa-basi, jadi kita langsung to the point saja. Aku ingin mengajakmu bersaing secara sehat untuk mendapatkan Tasya," jawab Hendra.


"Hei, Tasya itu bukan barang yang harus kita berdua perebutkan, apalagi dijadikan bahan taruhan. Kamu ini lucu sekali," protes Fathur. Mendengar pernyataan Hendra seketika membuatnya semakin kesal.


"Memangnya siapa yang bilang dia barang? Aku hanya ingin mengajakmu bersaing untuk mendapatkan seorang wanita, bukan barang," balas Hendra, tidak mau kalah.


Fathur terdiam. Dia berusaha menahan gejolak emosi yang ada di dalam dadanya. Jangan sampai dia tidak bisa mengendalikan diri kemudian menghajar Hendra di sana.


"Aku sudah lama menyukai Tasya dan juga sudah lama mengejarnya. Ketika aku berpikir usahaku semakin lama semakin mengalami kemajuan, kamu tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya. Tapi jika kamu ingin berbaik hati merelakan dia untukku, aku akan sangat berhutang budi padamu," cerocos Hendra.


"Jangan mimpi," ucap Fathur yang semakin jengkel dengan rivalnya itu. Dia lalu menyeruput kopi panas yang ada di hadapannya.


Kopinya terasa masih sangat panas, tapi lebih panas lagi hatinya saat ini. Jika saja tidak takut terkena undang-undang atau apa pun itu, Fathur pasti sudah menyiramkan kopi panas itu ke wajah Hendra saking marahnya dia pada pemuda yang telah menobatkan diri menjadi rivalnya.


"Ternyata kamu tidak rela, ya?" Hendra memasang ekspresi tidak puas.


"Tentu saja." Fathur kembali menyeruput kopinya. "Jika ini maumu akan aku ladeni, kamu jual aku beli."


Sepertinya sainganku sangat berat, aku tiba-tiba menjadi tidak percaya diri. Ah, tidak boleh, tidak boleh. Aku harus tetap semangat berjuang sampai titik darah penghabisan, demi cintaku pada Tasya.


"Oke. Yang kalah harus menyerah dan tidak boleh muncul dan mengganggu Tasya lagi," ucap Hendra. Dari luar dia terlihat sangat percaya diri, tapi dari dalam dia sebenarnya takut kalah taruhan.


"Aku sangat setuju. Yang penting, kamu jangan menggunakan cara kotor untuk bersaing denganku," kata Fathur, lalu menenggak kopinya sampai habis.


"Terima kasih atas jamuannya. Permisi." Fathur lalu beranjak meninggalkan Hendra.


Melihat Fathur melangkah pergi, Hendra segera bangkit dari duduknya. Dia belum selesai berbicara.


"Heh, asal kamu tahu, ya? Jika aku ingin melakukan cara kotor untuk mendapatkannya, sudah aku lakukan sejak dulu. Aku hanya perlu menjebaknya, lalu menghamilinya. Mau tidak mau dia harus menikah denganku. Dan asal kamu tahu, aku bukan orang yang licik seperti itu."


Mendengar ucapan Hendra, Fathur segera putar badan.


"Bagus. Aku suka orang sepertimu. Mari kita bersaing secara gentle," ucap Fathur, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Hendra.


"Oke, deal. Laki-laki sejati tidak akan melakukan hal yang merugikan wanita yang dicintai," ucap Hendra, sambil membalas uluran tangan Fathur.


"Deal."


Kedua pemuda tampan itu sudah sepakat untuk bersaing secara sehat untuk mendapatkan gadis pujaan mereka.


..._______________...


Keesokan harinya.


"Aku harap, kamu bisa menjaganya dengan baik dan tidak akan pernah menyakitinya, apalagi sampai mengkhianatinya," pesan Fathur.


"Tentu saja. Tanpa kamu minta pun aku akan tetap melakukannya," ujar Hendra.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Aku titip Tasya padamu." Fathur berpesan sambil memegang bahu kanan Hendra, setelah itu dia melangkah pergi.


Setelah Fathur pergi, Hendra pun segera masuk menghampiri Tasya yang sudah menunggunya sedari tadi di dalam rumah. Tasya terlihat sangat bahagia, sama seperti Hendra. Gadis itu lalu berlari memeluk Hendra. Mereka berdua berpelukan agak lama, rasanya Hendra tidak rela melepaskan pelukannya.


"Aku sangat mencintaimu," ucap Hendra sambil mengelus-elus punggung Tasya dengan lembut.


"Aku juga sangat mencintaimu," balas Tasya, sambil memeluk Hendra dengan erat.


Hendra mencium puncak kepala Tasya, lalu pelan-pelan pemuda itu mulai melonggarkan pelukannya. Kini kedua tangannya sudah dia letakkan dan memegang kedua bahu gadis kesayangannya dengan lembut.


Tasya balas menatap bola mata Hendra dengan sorotan mata yang berbinar dan penuh cinta, wajah gadis itu juga terlihat sangat berseri-seri.


"Jangan pernah tinggalkan aku, Sayangku." Hendra menatap Tasya dengan penuh cinta dan penuh harap.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kecuali maut yang memisahkan kita." Tasya terlihat begitu yakin.


"Kamu janji?" tanya Hendra.


"Iya, aku janji," jawab Tasya disertai anggukan.


Hendra menyentuh kedua pipi Tasya dengan lembut, ujung jemarinya menahan tengkuk gadis itu. Hendra menempelkan dahinya pada dahi Tasya sambil mereka sama-sama memejamkan mata.


Perasaan cinta yang teramat mendalam membuat Hendra harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan cinta gadis itu.


Dengan pelan tapi pasti Hendra mulai mendekatkan bibirnya hendak mencium bibir gadis itu.


Namun tiba-tiba, terdengar suara gedoran pintu yang lumayan keras.


Tok tok tok!


"Hend! Hendra! Bangun, Nak! Sudah jam berapa ini?! Ayo cepat bangun!" teriak Bu Arini dari balik pintu kamar putranya.


Hendra pun kemudian terbangun dari mimpi indahnya.


"Iya, Ma! Iya!"


"Ayo cepat bangun! Sekarang sudah jam 9! Jangan mentang-mentang hari ini hari libur kamu jadi bermalas-malasan!"


"Iya ...! Ini Hendra sudah bangun kok, Ma!"


"Hoam ... ternyata cuma mimpi. Ih mama ganggu aja, padahal tinggal sedikit lagi." Hendra bergumam dengan kesal sambil merem4s-rem4s guling yang ada di dalam pelukannya.