
Pak Rudi dan Bu Indah sangat terkejut mendengar pernyataan Pak Rahmat. Mereka tidak menyangka kalau Pak Rahmat mau menikahkan anak mereka di usia yang masih sangat muda. Tania baru saja lulus SMA, sedangkan Radit masih kuliah dan baru semester 5.
"Apa kami tidak salah dengar, Mat? Apakah kamu serius dengan ucapanmu itu? Bukankah mereka masih sangat muda untuk membina mahligai rumah tangga?" tanya Pak Rudi ingin memastikan.
"Iya Mat, tidak bisakah kita menunda hingga beberapa tahun lagi? Biarkan mereka menikmati masa muda mereka terlebih dahulu," sambung Bu Indah.
Pak Rudi dan Bu Indah takut salah dalam mengambil keputusan. Jika mereka memutuskan untuk menikahkan Radit dan Tania, mereka takut kedua anak itu tidak akan sanggup melewati cobaan demi cobaan yang menerpa dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Mengingat usia kedua anak itu masih sangat muda. Mungkin saja pemikiran mereka masih labil, pikirnya.
"Sebenarnya ini bukan kemauanku sama Risna. Tapi ini permintaan Radit sendiri." jelas Pak Rahmat.
"Maafkan kami, Mat. Tapi kami tidak bisa memutuskannya sendiri. Kami harus meminta persetujuan Tania dulu. Sejujurnya, anak kami Tania ini, berbeda dengan kakaknya, Tasya. Jika sebelumnya kami langsung menerima lamaran Gunawan tanpa bertanya pada Tasya terlebih dahulu, itu karena karakter Tasya dan Tania berbeda. Tasya anak yang penurut dan bersifat tenang. Ditambah lagi usia Nak Hendra memang sudah cukup dewasa untuk berumah tangga. Jadi kami pikir, tidak ada salahnya untuk langsung mengiyakan lamaran mereka. Sedangkan Tania, dia sangat keras kepala. Dan usianya juga masih sangat muda. Kami takut, Nak Radit tidak akan sanggup membimbingnya." jelas Pak Rudi.
"Itu betul sekali, Mat. Kalau aku boleh memberi saran, bagaimana kalau kita tunangkan saja mereka dulu? Tunggu mereka sudah cukup dewasa dulu, baru kita nikahkan." usul Bu Indah.
"Mm,, begini saja. Keputusan kita serahkan semuanya pada Tania. Dia pilih yang mana, mau menikah dengan Radit atau bertunangan dengannya. Kami pihak laki-laki akan mengikut apapun keputusannya."
"Baiklah. Ide bagus." ujar Pak Rudi.
Tidak terasa hampir 2 jam Pak Rahmat bertamu dirumah calon besannya. Ia pun pamit pada tuan rumah. Sedangkan Radit masih tetap pada posisinya, duduk di kursi teras sambil mendengarkan pembicaraan para orang tua mereka.
Sesampainya dirumah, Radit segera masuk ke kamarnya. Ia harap-harap cemas menunggu jawaban dari Tania. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui jawaban gadis pujaan hatinya itu. Radit pun memutuskan untuk bertanya pada Tania melalui pesan via whatsapp. Karena berkali-kali ia menghubungi Tania, tapi Tania tidak menjawab panggilannya.
📩 Radit : Sayang. Aku dan papaku datang melamarmu malam ini. Kamu mau kan menikah denganku?
📩 Radit : Sayang
📩 Radit : Kamu masih marah yah?
📩 Radit : Aku minta maaf😔
📩 Radit : Kamu mau kan maafin aku?
📩 Radit : Sayang
📩 Radit : Kok nggak dibaca😢
📩 Radit : Kamu sudah tidur yah?
📩 Radit : Baiklah aku tunggu jawaban kamu besok.
📩 Radit : Selamat tidur sayangku😘 Have a nice dream. Mimpikan aku yah😍😘
📩 Radit : I LOVE YOU SAYANGKU😙😘
Malam itu Radit tidak bisa tidur, ia terus-terusan memikirkan apa jawaban Tania nanti. Hingga tengah malam pun, Radit tidak kunjung mendapatkan balasan dari Tania. Ia jadi takut dan khawatir kalau Tania akan menolaknya. Ia khawatir, jika Tania sampai menolak lamarannya, ia tidak akan sanggup menerima kenyataan.
...----------------...
Keesokan Harinya, Rumah Pak Rudi
Pagi itu mereka sedang sarapan bersama. Setelah mereka selesai sarapan, Pak Rudi dan Bu Indah pun bermaksud untuk menyampaikan maksud kedatangan Pak Rahmat ke rumah mereka tadi malam pada Tania.
"Tania, kamu tidak kerja hari ini Nak? Tumben kamu belum siap-siap," tanya Bu Indah.
"Tania libur Bu." jawab Tania berbohong.
Tania tidak mungkin menceritakan kepada siapapun tentang kejadian yang ia alami kemarin bersama Radit. Selain karena takut, Tania juga merasa sangat malu jika mengingat kejadian itu.
"Oh. Bukankah kemarin kamu sudah mengambil jatah liburmu?" tanya Bu Indah.
"Mm, ituuuu, itu,"
Tania sedang memikirkan alasan yang tepat dan masuk akal untuk menjawab pertanyaan ibunya.
"Langsung ke intinya saja Bu, tidak usah berbasa-basi." kata Pak Rudi.
Tania mengernyitkan kening mendengar ucapan Pak Rudi. Ia tidak mengerti maksud ucapan ayahnya tersebut.
"Silahkan Ayah saja yang jelaskan pada anak kita!" seru Bu Indah.
"Baiklah," ucap Pak Rudi.
Pak Rudi berdehem di sela kalimatnya.
"Tania, Ayah tidak suka berbasa-basi. Ehhem. Begini, tadi malam Rahmat dan Radit datang kemari menemui kami," ujar Pak Rudi mulai menjelaskan.
"Apa lagi maunya cowok bre***ek itu? Mendengar namanya saja bikin aku muak." batin Tania.
"Lalu?" tanya Tania pelan.
"Tadi malam mereka datang melamarmu Nak," jawab Pak Rudi.
"Deg." Jantung Tania berdegup kencang. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apakah aku sedang bermimpi?" batin Tania.
"Me melamar Tania, Ayah?" tanya Tania.
"Iya Nak, apa kamu bersedia menerima lamaran Nak Radit?" tanya Pak Rudi lalu melirik ke arah istrinya.
Pak Rudi dan Bu Indah merasa sedikit tegang menunggu jawaban dari anak mereka.
Tania terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia juga bingung harus menjawab apa nantinya. Didalam hatinya ia masih sangat marah dan benci pada Radit. Ia sudah terlanjur kecewa pada pemuda itu.
"Aku harus memberikan cowok bre***ek itu pelajaran, biar tau rasa dia." batin Tania.
"Maafkan Tania, Ayah. Tapi Tania belum siap untuk menikah." jawab Tania seraya menunduk.
Pak Rudi dan Bu Indah kembali saling melirik, mereka juga tidak mau memaksa anaknya untuk menikah muda.
"Apa kamu yakin Nak? Kenapa, apa alasanmu menolak lamaran Nak Radit? Bukankah selama ini kalian saling mencintai?" tanya Bu Indah.
"Tania yakin 100 %, Ayah, Ibu. Tania benar-benar belum siap berumah tangga. Tania masih muda, Tania masih mau menikmati masa muda Tania. Tentang cinta, itu urusan belakangan." jawab Tania mantap.
"Baiklah, kami mengerti Nak. Karena kamu menolak untuk menikah dengan Nak Radit, jadi bagaimana kalau kalian bertunangan saja." ujar Bu Indah.
"Maaf Bu, Tania juga belum siap untuk bertunangan. Untuk saat ini Tania nggak mau terikat hubungan dengan siapapun. Tania masih mau bebas Bu." jelas Tania.
"Apa kamu yakin Nak? Lebih baik kamu tidak memutuskannya sekarang. Bagaimana kalau kami memberikanmu waktu beberapa hari untuk berpikir?" tanya Pak Rudi.
"Maaf Ayah, Ibu. Kalian tidak perlu memberikan Tania waktu untuk berpikir. Tania benar-benar belum siap untuk semua itu." jelas Tania.
"Pikirkan dulu matang-matang Nak, sebelum kamu mengambil keputusan. Tidak baik mengambil keputusan tanpa memikirkannya terlebih dahulu." ujar Bu Indah menasehati anaknya.
Untuk sementara Tania tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada siapapun bahwa hubungannya dengan Radit sudah ia akhiri. Ia tidak mau orang lain tahu penyebab berakhirnya hubungan mereka.
"Maaf, Yah, Bu, keputusan Tania sudah bulat. Tania permisi ke kamar dulu." pamit Tania.