How To Love You

How To Love You
Bab 56



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


Pukul 09:00 pagi.


Tasya dan Hendra duduk di ruang tengah sambil menonton drama korea. Ditemani es krim yang mereka beli beberapa hari yang lalu.


"Sayang. Buka mulutmu." ujar Tasya menyodorkan sesendok es krim ke mulut Hendra.


"Tidak sayang, kamu aja. Aku tidak kuat makan es krim pagi-pagi." tolak Hendra.


Tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi.


Ting tong.


"Eh, ada orang. Tunggu sebentar sayang aku bukakan pintu dulu." Tasya meletakkan kotak es krimnya di meja dan berdiri hendak beranjak membukakan pintu.


"Tidak usah sayang. Biar aku saja. Itu pasti kurir yang mengantarkan undangannya." Hendra menarik tangan Tasya dan membuatnya terduduk kembali. Hendra pun lalu beranjak membuka pintu.


Tidak lama kemudian Hendra dan dua orang kurir masuk menuju ruang tengah membawa paket kiriman untuk Hendra. Dua orang kurir itu mengangkat masing-masing satu buah kardus besar yang berisi undangan pernikahan mereka. Sedangkan Hendra masuk membawa sebuah paket yang tidak tahu apa isinya. Mereka pun meletakkan barang-barang itu di dekat sofa.


"Kata pihak WO, sisa satu kardus lagi mas yang belum selesai di cetak. Katanya besok baru dikirim lagi." jelas salah satu kurir itu.


"Oh iya pak. Mari silahkan duduk dulu. Istri saya sedang masuk membuatkan minum di dapur." ujar Hendra.


Kedua kurir itu pun duduk di sofa. Sedangkan Hendra duduk di sofa tunggal disamping kiri mereka. Tidak lama kemudian, Tasya pun datang membawa nampan yang berisi tiga gelas minuman dan satu piring kue bolu yang ia buat kemarin.


Seorang kurir yang usianya sedikit lebih muda dari Hendra kaget melihat kedatangan Tasya. Setelah Tasya mendekat kurir itu pun menyapanya.


"Tasya?" ucap kurir muda itu.


Hendra terkejut melihat kurir itu kenal dengan istrinya, Tasya juga tidak kalah terkejutnya. Karena dari tadi dia fokus membawa nampan yang berisikan minuman dan kue yang ia bawa. Setelah ia melihat ke arah suara yang menyapanya, ia pun tersenyum. Ternyata kurir itu orang yang ia kenal.


"Loh, Kak Wildan! Kak Wildan kok jadi kurir? Bukannya, ..." seru Tasya sambil meletakkan isi nampan itu di meja.


Ia heran melihat Wildan yang tiba-tiba muncul menjadi kurir. Karena sebelumnya Wildan yang ia kenal merupakan anak orang kaya dari kampung sebelah.


"Oh. Alhamdulillah baik. Iya kak ini rumah saya atau lebih tepatnya ini rumah suami saya." jawab Tasya lalu duduk di samping Hendra.


"Oh ..." ucap Wildan Ia terlihat sedikit kecewa.


"Kamu kenal sayang?" tanya Hendra.


"Iya sayang. Kenalkan ini Kak Wildan, senior aku di kampus sekaligus kakak kelasku dulu di SMK." ujar Tasya memperkenalkan mereka berdua.


"Oh." balas Hendra. Lalu tersenyum ke arah wildan seraya mengangguk. Wildan pun membalasnya serupa.


Hendra sedikit tidak suka dengan cara Wildan menatap istrinya, yang terlihat sok akrab pada Tasya. Apalagi saat melihat raut kekecewaan diwajah Wildan saat Tasya menjawab pertanyaannya dan berkata bahwa rumah ini rumah suaminya. Itu membuatnya semakin tidak nyaman. Apalagi Wildan terlihat cukup tampan dan lebih muda darinya.


"Silahkan diminum." ujar Tasya mempersilahkan tamunya mencicipi makanan dan minuman yang ia suguhkan.


"Iya, terima kasih." ucap kedua kurir itu. Lalu meminum minuman yang disuguhkan tuan rumah.


"Kak Wildan apa kabar?" tanya Tasya.


"Seperti yang kamu lihat, saya baik-baik saja." jawab Wildan sambil tersenyum dipaksakan lalu kembali meneguk minumannya.


Wildan dan kurir yang satunya buru-buru menghabiskan minuman mereka dengan alasan masih banyak paket yang ingin mereka antar. Sebenarnya Wildan sudah tidak tahan melihat kemesraan si tuan rumah. Itu membuat matanya menjadi sakit melihat pemandangan didepannya. Makanya ia buru-buru pamit.


Hendra mengantar kedua kurir itu keluar hingga ke teras. Kurir yang satunya sudah masuk di mobil. Sedangkan Wildan masih berdiri disamping pintu mobil. Ia pun mengurungkan niatnya untuk cepat-cepat masuk dimobil. Ia lalu menghampiri Hendra. Ia ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Mas Hendra. Selamat! Karena Anda berhasil mempersunting mantan gebetan saya. Anda sungguh laki-laki yang sangat luar biasa dan sungguh sangat beruntung. Saya benar-benar iri pada Anda." ujar Wildan seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Hendra.


Hendra sangat terkejut mendengar ucapan Wildan yang begitu berani berkata seperti itu padanya.


"Terima kasih." balas Hendra seraya membalas uluran tangan Wildan dan meremasnya. Hendra merasa geram dan kesal pada Wildan karena berani berkata seperti itu padanya.


"Ternyata feelingku tidak salah. Cih." batin Hendra.


"Mas Hendra. Bisa tolong lepaskan tangan saya. Saya tidak menyangka kalau ternyata Anda juga doyan dengan sesama jenis." ujar Wildan sambil tersenyum kecut.


Hendra melepaskan tangan Wildan tanpa berkata apapun karena ia memang sengaja.


"Permisi." pamit Wildan pada Hendra. Ia pun melangkah menuju mobil sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang kesakitan akibat diremas oleh Hendra tadi.