
Setelah selesai makan malam, mereka semua berkumpul diruang keluarga. Sesama laki-laki mengobrol dengan sesama laki-laki. Begitu pula dengan sesama perempuan. Tiara si gadis kecil yang lucu dan imut sedang mengajak Tantri bermain bersama dan Tantri pun menurutinya. Ia memang menyukai anak kecil. Baginya, anak kecil itu makhluk polos yang sangat lucu dan menggemaskan.
Mainan Tiara sudah berserakan diatas permadani. Tadi mereka sudah bermain boneka-bonekaan. Sekarang Tiara mengajak Tantri untuk main masak-masakan.
"Kakak Cantik! Ayo kita main masak-masakan!" ajak Tiara sambil mengambil peralatan masak mainannya.
"Ayo!" seru Tantri sambil membantu Tiara menata kompor, wajan, panci, piring, dan peralatan masak mainan lainnya.
"Kakak Cantik! Kalau, Kakak Cantik nanti sudah besar, Kakak Cantik mau jadi apa?" tanya Tiara.
"Dulu, waktu kecil Kakak bercita-cita jadi Polwan. Tapi sekarang nggak lagi. Kalau, Tiara cita-citanya kalau besar nanti mau jadi apa?" jawab Tantri.
"Kalau Tiara besar nanti, Tiara mau jadi chef seperti om Miko sama oma sama opa," jawab Tiara.
"Oh," ucap Tantri sambil sedikit memonyongkan bibirnya.
"Kalau, Kakak Cantik tidak mau jadi Polwan lagi, terus cita-cita, Kakak Cantik sekarang apa?" tanya Tiara lagi.
"Mm ... sekarang Kakak mau jadi ... mau jadi apa, yah?" jawab Tantri seraya berpikir. Ia juga bingung dengan cita-citanya.
"Ah, Kakak mau jadi-"
"Mau jadi ibu untuk anak-anak Om," ucap Miko memotong ucapan Tantri. Ia terus menyunggingkan senyum sambil menatap lekat wajah Tantri.
Tantri begitu terkejut dan malu-malu mendengar Miko memotong ucapannya secara tiba-tiba. Seketika wajahnya bersemu merah. Apalagi ia menyadari kalau Miko sedang menatapnya. Saat itu iahanya bisa menekuk wajahnya yang sudah merona tersebut. Ia tidak bisa membalas ataupun menyanggah ucapan Miko.
"Cieee pepet teroos!" ledek Tiara sambil menunjuk Miko dan Tantri dengan kedua jari telunjuk mungilnya.
"Hah?!" Tantri melongo mendengar ledekan gadis kecil itu. Bagaimana mungkin seorang anak kecil sudah mengerti tentang cinta-cintaan. Sedangkan dirinya yang sudah berusia 17 tahun tidak pernah pacaran bahkan jatuh cinta sekali pun.
****************
Malam itu Tantri tidak bisa tidur, begitu pula dengan Miko. Mereka berdua sama-sama gelisah di tempat tidur mereka masing-masing. Tantri merasa ada yang aneh dengannya malam ini. Biasanya saat kepalanya sudah menyentuh bantal, ia sangat mudah sekali untuk tertidur. Tapi sekarang kenapa rasanya begitu sulit.
Wajah Miko selalu saja terngiang-ngiang di pikirannya. Wajahnya yang tampan dan senyumnya yang manis. Serta perlakuannya manis pria itu yang mampu membuat Tantri sampai terbawa perasaan.
Karena tak kunjung mengantuk juga, Tantri pun memutuskan untuk memainkan ponselnya. Ia membuka kunci layar ponselnya. Pertama-tama yang ia lihat fotonya bersama Miko yang sudah ia jadikan wallpaper. Foto itu mereka ambil tadi siang. Di foto tersebut, terlihat Miko sedang merangkul bahu Tantri dan mereka sama-sama tersenyum ke arah kamera.
Kerlap-kerlip bintang yang menghiasi langit malam saat itu membuat Tantri betah berlama-lama mendongakkan kepalanya menatap indahnya langit malam itu.
"Kenapa jam segini kamu belum tidur?" suara seorang laki-laki membuat Tantri terlonjak kaget.
"Kenapa kamu belum tidur?" Miko kembali bertanya saat ia berdiri tepat disamping Tantri.
Tantri begitu terkejut. Ia tidak tahu sejak kapan laki-laki itu berdiri disampingnya. Ia tidak menyadarinya kedatangan Miko sama sekali.
"Kak Miko," ucapnya lirih.
"Kenapa kamu belum tidur, hem?" ujar Miko mengulang kembali pertanyaan yang sama.
"Ak-aku, aku belum ngantuk, Kak," jawab Tantri.
"Kenapa? Biasanya kamu tidurnya cepat,"
"Mm ... nggak tau. Belum ngantuk aja," jawab Tantri seadanya.
"Apa jangan-jangan kamu tidak bisa tidur karena kamu kepikiran perjodohan kita?"
"Nggak. Bukan gitu, Kak." sanggah Tantri.
"Terus apa?" tanya Miko.
Aku bukannya kepikiran dengan perjodohan itu. Tapi wajah kak Miko yang selalu terngiang-ngiang dan membuat aku nggak bisa tidur. Batin Tantri.
"Mm ... Kak, aku mau nanya sesuatu. Boleh nggak?" tanya Tantri. Sekilas ia melirik ke arah Miko.
"Apa? Tanyakan saja tidak usah sungkan," jawab Miko.
"Mm ... kata tante Melda, Kak Miko suka sama aku. Apa itu benar?" tanya Tantri pelan. Sebenarnya ia merasa malu untuk menanyakan hal tersebut tapi ia juga penasaran dan ia ingin mendengar pernyataan cinta itu secara langsung dari bibir pria yang berdiri disampingnya.
"Iya, itu benar adanya. Aku cinta dan sayang sama kamu," jawab Miko mantap. Tantri membuang pandangannya lalu tersenyum. Entah mengapa hatinya terasa berbunga-bunga mendengar pernyataan cinta itu langsung dari bibir pria itu sendiri.