How To Love You

How To Love You
Bab 155



Keesokan harinya


Pagi-pagi sekali Hendra beserta rombongan keluarganya meluncur menuju ke tempat Pak Udin. Ini pertama kalinya ia mengajak keluarganya kesana.


Pak Udin sudah mendirikan tenda diantara dua pohon mangga yang rindang yang terletak di pinggir empang. Bu Sarina juga sudah menggelar tikar disana untuk ditempati anggota keluarga Hendra nantinya.


Sawah.


Sesampainya disana, Tania melihat Bu Risna turun dari mobil bersama dengan Pak Rahmat dan juga Rindi. Ia merasa agak canggung dan malu-malu bertemu dengan keluarga Radit. Ia merasa tidak enak pada kedua orang tua Radit karena ia telah menolak lamaran mereka beberapa minggu yang lalu. Ditambah lagi kedua orang tua Radit begitu baik padanya. Ia pun memilih untuk menghindar dari Pak Rahmat dan Bu Risna. Ia tidak tahu harus berkata apa jika berhadapan langsung dengan mereka nanti.


"Dit, aku malu ketemu Papa sama Mama kamu," ucap Tania.


"Kenapa?" tanya Radit yang baru saja turun dari mobil Hendra.


Radit yang membawa mobil Hendra tadi.


"Jangan pura-pura nggak tau deh. Aku duluan yah," ucap Tania.


"Sayang, tunggu aku!" panggil Radit.


"Yah udah, ayo cepetan!" seru Tania.


Mereka berdua pun lalu berjalan duluan masuk ke tempat Pak Udin. Tasya dan Hendra masih ada didalam mobilnya. Mereka belum juga keluar karena seperti biasanya, pagi-pagi begini Tasya pasti merasakan kantuk yang sangat luar biasa. Hal seperti itu memang sering terjadi. Hampir semua ibu hamil mengalaminya di trimester awal kehamilan mereka.


Bu Risna heran melihat Radit dan Tania yang selalu bersama. Setahunya, beberapa minggu lalu hubungan kedua anak itu sedang renggang. Ia belum tahu kalau Radit dan Tania sudah berbaikan.


"Mungkin mereka sudah baikan. Syukurlah kalau begitu. Pantas kalau aku perhatikan dari kemarin Radit suka senyum-senyum sendiri. Oh, jadi ini penyebabnya." batin Bu Risna.


Mobil Pak Gunawan yang di kemudikan oleh Miko baru saja sampai. Pak Rudi, Bu Indah, dan juga Tantri bergabung bersama Pak Gunawan dan Bu Arini. Miko sulit mendekati Tania karena Radit tidak memberikan ruang untuk Miko mendekati Tania. Miko pun memutuskan untuk mendekati keluarga Tania, seperti yang ia lakukan dulu saat Pak Rudi dan Bu Indah pergi ke Kota SKG.


***


Pak Udin sudah menyiapkan alat pancing dan jaring untuk mereka pakai nanti menangkap ikan. Semua laki-laki disana kecuali Miko, bekerja sama untuk menjaring ikan. Miko tidak bergabung karena ia tidak tahu bagaimana caranya. Ini juga merupakan pengalaman pertamanya pergi ke sawah dan empang.


Kali ini tidak ada yang memancing, mereka lebih memilih menangkap ikan menggunakan jaring ataupun jala. Karena dengan cara itu mereka bisa mendapat ikan yang banyak dalam kurun waktu yang singkat. Setelah beberapa saat, mereka pun sudah mendapatkan cukup banyak ikan mas dan ikan mujair dengan ukuran yang lumayan besar.


Setelah ikannya dibersihkan oleh kaum perempuan, kini tibalah saatnya giliran Chef Miko yang turun tangan. Miko membuatkan bumbu dan sambel untuk ikan bakarnya. Pak Udin dan yang lainnya membantu menyiapkan tungku dan arang untuk mereka pakai membakar ikannya nanti.


Selalu berbeda selera dengan yang lainnya, si calon bapak ngidam alias Hendra, selalu punya selera makannya sendiri. Jika yang lainnya ingin menikmati ikan bakar dengan sambal dabu-dabu, lain halnya dengan Hendra. Ia ingin memakan ikan bakar dengan sambel mangga muda dicampur dengan kelapa sangrai yang sudah dihaluskan.


Hendra tidak mau memakan ikan bakar dengan sambal dabu-dabu karena ia trauma dengan bawang merah mentah yang selalu berhasil membuatnya muntah saat ia mencium aromanya. Ia pun lalu meminta Pak Udin untuk mengambilkan beberapa buah mangga muda yang bergelantungan diatas tenda mereka.


Setelah selesai makan, Bu Risna ingin mengajak Tania berbicara. Ia sadar anak itu selalu menghindar darinya sejak tadi pagi. Ia pun lalu menyuruh Radit untuk membawa Tania menemuinya.


Awalnya Tania menolak ajakan Radit, ia merasa sangat malu sekali harus bertemu dengan calon mama mertuanya. Tapi Radit terus saja membujuknya hingga akhirnya ia pun mau meskipun terpaksa. Radit dan Tania menemui Bu Risna di kolong rumah Pak Udin. Disana aman dan tidak akan ada yang mendengarkan pembicaraan mereka. Karena yang lainnya masih menikmati aktifitas mereka di dekat tenda sambil membakar jagung.


"Tania, tante mau bicara sama kamu," ujar Bu Risna.


"I iya tante, ada apa?" tanya Tania seraya menunduk.


Mereka bertiga duduk di sebuah panggung yang tersedia di kolong rumah panggung milik Pak Udin.


"Apa kamu serius menjalin hubungan dengan Radit?" tanya Bu Risna.


Tania melirik ke arah Radit yang duduk disampingnya, Radit hanya memberikan kode dengan anggukan kecil.


"I iya tante. Saya serius." jawab Tania sambil masih menunduk.


"Kalau kamu serius, apa kamu sudah memikirkan jawaban untuk Radit?" tanya Bu Risna.


Bu Risna tahu betul bagaimana keadaan Radit beberapa minggu yang lalu. Saat hubungan Radit dan Tania sedang tidak baik. Sebagai seorang ibu, hati Bu Risna bagai tersayat-sayat, sakit sekali melihat anaknya murung dan menderita hanya karena ditolak seorang gadis.


"Iya tante. In sha Allah, 3 minggu lagi saya akan memberikan jawaban." jelas Tania.


"Jangan sampai menolak lagi, yah!" kata Bu Risna.


"In sha Allah tante. Kalau kami memang berjodoh, pasti akan dimudahkan." jawab Tania.


"Iya, kamu benar. Tania, tante masih ingin bertanya sesuatu sama kamu. Tapi kamu harus berjanji untuk menjawabnya dengan jujur." tegas Bu Risna.


"In sha Allah. Saya akan jawab kalo saya bisa Tante," balas Tania.


"Apa alasan kamu menolak lamaran kami?" tanya Bu Risna.


Tania bingung harus menjawab apa. Sebenarnya ia merasa malu dan takut menceritakan kejadian waktu itu pada orang lain. Ia melirik ke arah Radit, Radit sepertinya lebih gugup darinya. Radit yakin, jika mamanya sampai tahu kejadian waktu itu, Bu Risna pasti akan marah besar padanya.


"Kenapa kamu tidak menjawab? Tante tau kalian berdua pasti sedang ada masalah waktu itu. Iya, kan? Ayo, jawab!" seru Bu Risna.


"Jangan sampai Mama tahu kejadian yang sebenarnya." batin Radit.