
2 Minggu Kemudian
Hari itu merupakan hari yang dinanti-nantikan oleh Radit dan Tania. Hari itu merupakan hari paling bersejarah sepanjang perjalanan hidup mereka. Dimana digelar sebuah resepsi yang menjadikan mereka resmi menjadi pasangan suami istri diusia mereka yang masih tergolong sangat muda. Para keluarga, kerabat dekat, serta para tamu yang hadir turut menyaksikan momen sakral tersebut. Pernikahan mereka diselenggarakan dengan sangat meriah disebuah gedung di kota kecil yang tidak jauh dari desa tempat tinggal mereka.
Kedua mempelai sudah berdiri diatas pelaminan menyalami tamu yang datang mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Dari kejauhan seorang pria berjas biru dongker sedang memperhatikan pasangan pengantin yang sedang berbahagia itu diatas pelaminan sana. Kedua sudut bibirnya terus saja terangkat melihat pasangan itu berbahagia. Ia juga turut berbahagia melihat pasangan yang hampir saja ia rusak hubungannya itu berbahagia. Dan ia menyesali perbuatannya dulu yang pernah berniat untuk merebut mempelai wanita dari pelukan si mempelai pria.
"Woiiii! Jangan melamun, entar kesambet loh." kata Tantri yang tiba-tiba mengagetkan Miko.
"Kamu ini bikin kaget saja," ucap Miko sambil memegangi dadanya.
"Hahaha. Lagi mikirin apa sih, Kak?" tanya Tantri.
"Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya sedang melihat mereka. Mereka terlihat sangat bahagia sekali hari ini." jawab Miko sambil menunjuk ke arah kedua mempelai dengan dagunya.
"Aku tau, Kak Miko pasti cemburu, kan. Hayo ngaku," tuduh Tantri sambil menunjuk Miko. Ia pikir Miko masih menyukai Tania.
"Cemburu, ada-ada saja kamu bocah." bantah Miko sambil menurunkan telunjuk Tantri yang menudingnya.
"Ah, nggak mau ngaku. Aku tau kok kalo, Kak Miko suka sama Kak Tania." ujar Tantri.
"Ya, aku akui. Dulu aku memang suka pada Tania. Tapi sekarang, aku sukanya sam--" ucapan Miko terhenti saat Tasya berteriak memanggil Tantri.
"Tantri! Dek, sini! Ayo foto bareng sama pengantinnya. Kak Miko juga, ayo!" seru Tasya memanggil keduanya.
"Iya, Kak." balas Tantri.
"Ayo, Mik!" timpal Hendra yang juga ikut mengajak sahabatnya itu untuk ikut bergabung berfoto bersama keluarga besar kedua mempelai.
"Kak Miko, ayo!" ajak Tantri sambil menarik pergelangan tangan Miko.
"Mungkin memang belum saatnya aku menyatakan perasaanku. Tapi aku bahagia bisa dekat denganmu seperti ini." batin Miko sambil tersenyum dan mengikuti langkah kaki Tantri yang menariknya.
"Kak Tama, Dewi, ayo!" ajak Tasya lagi pada kakak dan calon iparnya itu.
Setelah semuanya selesai berfoto bersama dengan kedua mempelai, yang lainnya pun turun kecuali Tama dan Dewi. Tama masih ingin menggoda pasangan pengantin itu.
"Ah, kamu, Dit. Masa kamu mendahului yang lebih tua sih. Padahal aku lebih dulu loh ngelamar Dewi." ujar Tama sambil menyenggol bahu Radit yang terlihat sangat gagah dengan jas yang ia kenakan.
"Hahaha. Siapa suruh, Kak Tama geraknya lambat," canda Radit.
"Hahaha. Iya juga, yah."
"Makanya Kak, cepetan halalin, Kak Dewi. Jangan cuma diikat aja pake cincin," balas Tania balik menggoda kakaknya.
"Hahaha. Kamu bisa aja."
"Oh iya Kakak Ipar, kapan rencana kalian melangsungkan pernikahan?" tanya Radit.
"Kalau bisa sih secepatnya. Aku tidak mau anak kalian lebih tua dari anak kami nanti," jawab Tama lalu tergelak. Dewi merasa malu sendiri mendengar jawaban Tama. Ia lalu mencubit pinggang calon suaminya itu.
"Kenapa, Wi? Kamu malu sama mereka," goda Tama pada Dewi. Dewi hanya menunduk sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah merona.
"Hahaha. Kakak Ipar bisa aja. Tenang aja Kak, kami juga berencana untuk menunda punya momongan dulu. Iya, kan sayang?" jelas Radit.
"Iya. Kami masih mau menikmati masa muda kami dulu, Kak." jawab Tania membenarkan ucapan Radit.
"Terserah kalian kalau begitu. Aku tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Kalau begitu, kami turun dulu, yah." pamit Tama.
"Iya, kak." jawab Radit dan Tania bersamaan.
"Oh iya. Dek, kamu jadi istri yang nurut yah apa kata suami kamu nanti." pesan Tama pada Tania.
"In sha Allah, Kak." ucap Tania.
"Dit, aku harap kamu bisa membimbing dan melunakkan istrimu ini. Soalnya dia itu, keras kepala." pesan Tama sambil berbisik ke arah Radit di ujung kalimatnya. Radit mengangguk sambil tertawa mendengar pesan kakak iparnya. Ia memang tahu persis seperti apa sifat gadis yang sekarang menyandang status sebagai istrinya itu.
Tania memicingkan matanya melihat kakak kandung laki-lakinya berbisik pada suaminya. Ia tidak ingin kakaknya berkata yang aneh-aneh pada suaminya itu mengenai dirinya.
Setelah Tama dan Dewi turun usai memberikan ucapan selamat kepada keduanya. Tania yang penasaran dengan apa yang dikatakan Tama kepada Radit pun memutuskan untuk bertanya.
"Dit, Kak Tama ngomong apa sih tadi ke kamu?" tanya Tania penasaran.
"Oh, itu. Kak Tama bilang kalau istriku itu wanita tercantik di dunia." jawab Radit.
"Halah, gombal. Aku serius," kata Tania. Ia tidak percaya dengan jawaban suaminya barusan.
"Kak Tama bilang, aku harus mendapatkan jatahku malam ini, tidak boleh tidak." bisik Radit ditelinga istrinya. Kata-katanya itu sukses membuat bulu kuduk Tania berdiri. Wajah gadis itu bersemu merah menahan malu.
"Dasar genit!" ucap Tania sambil mencubit lengan Radit. Radit terkekeh karena berhasil menggoda istrinya. Dengan pelan namun pasti, ia lalu memeluk bahu sang istri. Kebahagiaan yang mereka rasakan hari itu sungguh tiada tara.