
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
...----------------...
"Aaargh." pekik Tasya. Ia kaget saat suaminya memeluknya.
"Kenapa berteriak sayang?" katanya lalu mengecup pipi istrinya.
"Ka kamu membuatku kaget sayang." jawabnya gugup.
"Sayang. Kamu tidak perlu melakukan ini untuk menggodaku." bisiknya di telinga istrinya.
"A ap apa? Aku aku menggodamu? Ti tidak ini tidak seperti yang kamu bayangkan sayang. Aku aku hanya lupa mengambil baju ganti tadi." ucapnya terbata-bata. Ia semakin ketakutan.
"Tidak tidak. Jangan lakukan 'itu'. Jangan, aku mohon. Bukankah kamu sendiri yang sudah memberikanku waktu satu minggu lagi untuk mempersiapkan diri." batinnya.
"Kamu harus tanggung jawab." bisiknya lagi sambil menggigit pelan telinga istrinya. Napasnya sudah tak beraturan.
Tasya tidak sengaja menjatuhkan baju gantinya mendengar bisikan suaminya. Firasatnya mengatakan dia tidak akan selamat kali ini.
Hendra melucuti handuk istrinya dan melemparkannya agak jauh dari situ.
"Sa sayang apa yang kamu lakukan. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan padaku akan memberikanku waktu untuk mempersiapkan diri? Tolong lepaskan tanganmu! Aku ingin mengambil handukku kembali dan memakainya." katanya dengan suara gemetar. Ia menutupi miliknya yang berharga dengan kedua tangannya karena malu sekaligus semakin ketakutan.
"Sayang ayolah. Sekarang kamu sudah menjadi istriku, kenapa juga aku harus memberikanmu waktu untuk mempersiapkan diri. Lagipula untuk apa juga seorang suami menahan diri untuk menggauli istrinya sendiri. Cukup sudah dulu aku tidak pernah menyentuhmu karena aku
menghargaimu." bisiknya lagi. Napasnya semakin tak beraturan.
Hendra tidak memperdulikan ucapan istrinya. Ia lalu menggendong tubuh telanjang istrinya menuju tempat tidur. Ia melempar istrinya ke atas ranjang lalu ia melepas pakaiannya sendiri satu per satu tanpa sisa. Tasya semakin ketakutan dibuatnya, ia mencoba menarik selimut untuk menutupi dirinya dan menutup matanya dengan kedua tangannya. Ia malu sekaligus takut melihat sesuatu yang ada dihadapannya.
Hendra menarik dan menjatuhkan selimut itu di lantai. Ia lalu naik ke atas tempat tidur mencoba mencumbu istrinya. Tasya hanya menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa. Pesan ibunya terus terngiang-ngiang dipikirannya.
"Sayang. Jangan menangis, karena kamu sendiri yang membuatku seperti ini. Aku jadi tidak kuasa menahan diriku lagi." katanya lalu memulai aksinya.
Dan terjadilah yang terjadi, 'kikuk-kikuk'. Ia mencumbu istrinya dengan sangat lembut lalu menghujam pusakanya untuk pertama kalinya pada milik istrinya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan tangisan istrinya. Syahwatnya sudah memenuhi dirinya hingga ia tidak kuasa mengendalikan diri untuk tidak memangsanya. Ia melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati agar istrinya tidak terlalu kesakitan. Hingga terjadilah sampai beberapa kali ronde sampai akhirnya Hendra benar-benar puas.
"Terima kasih sayang karena kamu telah menjaga kesucianmu selama ini. Aku benar-benar beruntung sekali memilikimu. Aku sangat mencintaimu, sayangku." batin Hendra.
...----------------...
Sekarang sudah malam. Tasya baru terjaga dari tidurnya, sedangkan ia melihat suaminya masih tertidur lelap setelah menjamah dirinya hingga berkali-kali. Ia merasakan sakit dan perih di pangkal pahanya. Ini pasti gara-gara ulah Hendra tadi. Ia pun mencoba melepaskan tangan suaminya mencoba untuk bangun dan mandi kembali. Sayangnya Hendra sangat mudah sekali terjaga dari tidurnya.
"Maaf sayang, aku membuatmu terbangun lagi." katanya dengan malu-malu karena masih belum bisa melupakan kejadian tadi.
"Tidak, tidak apa sayang." katanya lalu memeluk tubuh polos istrinya sambil menciuminya.
"Bagaimana? Apa kamu masih mau menangis lagi?" goda Hendra. Ia tersenyum mengingat kalau istrinya juga mulai menikmati permainannya.
Tasya tidak menjawab, ia menutupi wajahnya yang memerah karena malu.
"Sayang, apa kamu ingin melakukannya lagi?" ia berusaha menggoda istrinya lagi.
"Apa Puss? Lagi? Apa kamu belum puas dengan yang tadi? Kamu bahkan melakukannya sampai berkali-kali. Apa masih belum cukup?" batinnya.
"Sa sayang. Tunggu dulu, aku lapar." ujarnya membuka pelan tangan yang menutupi wajahnya. Ia mencari alasan yang masuk akal dan berusaha untuk menghindar.
"Aku juga lapar. Ayo kita bangun, aku juga sudah menghabiskan banyak energi tadi." ujarnya seraya melepas pelukannya.
"Tapi aku mau mandi dulu sebentar sayang." lanjut Tasya.
"Baiklah, ayo kita mandi bersama." usulnya bersemangat.
"Apa? Mandi bersama? Bukankah itu artinya ..." batinnya. Belum sempat berpikir, Hendra sudah menggendongnya menuju ke kamar mandi dengan tubuh yang masih sama-sama polos tanpa sehelai kain pun dan terjadi lagi untuk yang kesekian kalinya.
Sekarang mereka sudah ada di ruang makan. Tasya duduk melihat Hendra yang sigap melayaninya di dapur. Hendra mengenakan celemek berwarna pink. Ia ingin memasak telur dadar untuk makan malam mereka, karena hanya itu yang bisa ia buat. Ia tidak membiarkan istrinya memasak makan malam untuk mereka malam ini karena ia kasihan melihat istrinya yang kesulitan berjalan.
"Tenang Tuan Putri, saya akan memasak untuk makan malam Anda malam ini. Anda cukup duduk manis disitu menunggu saya selasai. Anda seperti itu, juga karena ulah saya. Jadi saya akan bertanggung jawab melayani Anda malam ini." ujar Hendra sambil mengocok telur dengan garpu. Gaya bicaranya bak pelayan istana.
"Hahaha." Tasya tergelak melihat tingkah lucu suaminya. Sejujurnya ia merasa bahagia dan nyaman menikah dengan Hendra. Hanya saja untuk saat ini, ia belum bisa memberikan hatinya untuk suaminya.
Beberapa menit kemudian, telur dadar ala Hendra sudah siap. Mereka pun makan sepiring berdua, kali ini mereka memegang sendok masing-masing jadi tidak butuh waktu lama seperti tadi pagi untuk menyelesaikan makanan mereka. Mereka makan saling suap.