
Pukul 19:30 Malam
Setelah selesai makan malam bersama di restoran hotel. Radit meminta ijin pada Tasya dan Bu Indah untuk mengajak Tania untuk keluar jalan-jalan sebentar melihat keadaan di sekitar tempat itu.
"Tante, kakak ipar. Boleh nggak saya ajak Tania keluar jalan-jalan sebentar? Nggak jauh kok cuma disekitaran sini aja." ujar Radit.
Tasya dan Bu Indah saling melirik, setelah itu Tasya melirik Hendra seolah-olah meminta persetujuannya. Hendra mengangguk kecil memberi ijin. Tasya kembali melihat ke arah Bu Indah.
"Bagaimana menurut ibu?" tanya Tasya pada Bu Indah.
Bu Indah juga menganggukkan kepalanya, pertanda mengijinkan.
"Kalian boleh keluar, tapi jangan lama-lama, dan ... jangan jauh-jauh. Mengerti!" seru Tasya pada Radit dan Tania.
"Iya kak. Radit mengerti." balas Radit seraya tersenyum.
"Kalau begitu, kami keluar dulu." pamit Radit seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo Nia." ajak Radit pada Tania.
Setelah mereka keluar dan melihat keadaan di sekitar luaran hotel. Radit mengajak Tania untuk pergi ke sebuah taman yang dilihatnya tadi sore sewaktu mereka menuju ke hotel tersebut.
"Nia. Ayo kita ke taman. Tadi sore, waktu kita kesini aku liat ada taman disebelah sana." ajak Radit sambil menunjuk ke arah depan.
"Oh, iya Dit. Aku juga liat tadi. Pasti tempatnya bagus dimalam hari." balas Tania.
"Genggam tanganku, supaya nggak ada yang ganggu kamu nanti di jalan." kata Radit sambil mengulurkan tangannya ke arah Tania.
"Masa sih? Siapa juga mau yang ganggu?" tanya Tania kurang percaya.
"Beneran Nia. Disini tuh nggak sama seperti dikampung kita." jawab Radit mencoba meyakinkan Tania.
"Masa? Nggak percaya." ucap Tania.
"Ck. Terserah kamu Nia, mau percaya atau nggak. Yang jelas aku akan tetap menggandeng tangan kamu." ucap Radit yang tidak tahan dengan sifat keras kepala Tania. Ia lalu menarik tangan Tania lalu mengaitkan tangannya di jari-jari tangan Tania.
"Eh, eh ... Dit. Lepasin nggak." protes Tania saat Radit tiba-tiba menarik tangannya begitu saja tanpa persetujuannya terlebih dahulu.
"Udah. Nggak usah bawel. Nurut aja apa kata calon suami. Nggak ribet kan?" ucap Radit seraya melangkahkan kakinya ke arah taman yang jaraknya lebih kurang 300 meter dari hotel tersebut.
"Apa? Calon sua ..." Tania ingin protes.
"Dilarang protes!" seru Radit lalu melangkahkan kakinya.
Mau tidak mau, Tania harus mengikuti langkah Radit karena tangannya ikut tertarik saat Radit mulai melangkahkan kakinya. Mereka pun berjalan sambil berpegangan tangan dengan erat, atau lebih tepatnya Radit lah yang menggenggam tangan Tania dengan erat seolah-olah tidak ingin melepasnya lagi.
"Ini tuh biar semua orang yang ada disini tau, kalau kamu itu milik aku Nia." ujar Radit sembari menunjukkan tangan mereka yang berkaitan satu sama lain.
Meskipun tidak menggubris, tapi Tania tersenyum sambil menunduk mendengar perkataan Radit. Didalam hatinya, ia merasa senang setiap kali Radit mengucapkan kata-kata yang menurutnya romantis.
Setelah berjalan beberapa menit, sampailah mereka di tempat tujuan. Taman itu terlihat sangat cantik di malam hari. Apalagi dihiasi dengan lampu warna warni dan kursi taman yang melingkar dan berjejer menyerupai bentuk hati yang juga dicat sedemikian rupa. Tempat itu lumayan ramai di malam hari, terlihat banyak anak muda maupun orang dewasa yang datang ke tempat itu.
Radit menyuruh Tania untuk duduk menunggunya di salah satu kursi taman tersebut. Ia melihat seorang kakek tua penjual jagung bakar yang mendorong gerobaknya di sekitar tempat itu. Radit pun berniat untuk membeli beberapa untuk mereka nikmati bersama sambil duduk mengobrol ditaman nanti.
10 Menit kemudian
Radit kembali dengan membawa satu kantong kresek yang berisikan jagung bakar dan satu botol air mineral di sebelah tangannya.
"Ini." ucap Radit menyodorkan satu buah jagung bakar pada Tania.
Tania pun mengambil jagung bakar pemberian Radit.
"Masih panas Dit." ucapnya saat jagung itu sudah ada ditangannya.
"Nggak usah. Aku bisa sendiri kok." tolak Tania.
"Kok, airnya cuma satu? Buat aku mana?" tanya Tania.
"Aku sengaja sayang. Kita minum sebotol berdua. Biar tambah romantis." jawab Radit sambil tersenyum.
"Emangnya kamu nggak takut apa aku tularin virus?" tanya Tania.
"Justru aku yang mau nularin virus ke kamu sayang. Tapi ... virus cinta." goda Radit.
"Dasar, raja gombal." balas Tania seraya mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Radit hanya tersenyum melihat Tania yang malu-malu saat ia melontarkan gombalan mautnya. Mereka pun lalu memakan jagung bakar itu bersama-sama.
"Tempatnya bagus yah Nia." ucap Radit lalu kembali mengigit jagung bakar yang ia pegang menggunakan kedua tangannya.
"Iya. Bagus." balas Tania setelah menelan jagung yang ada dimulutnya.
"Lain kali, ayo kita jalan lagi ke tempat ini." kata Radit.
"Boleh." balas Tania.
"Aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat yang bagus sebelum kita kembali ke kampung." ucap Radit.
"Oh yah. Dimana?" tanya Tania penasaran.
"Ada deh, rahasia. Yang jelasnya, tempatnya lebih romantis dari tempat ini." jawab Radit.
"Hah? Romantis? Emang taman ini romantis yah?" tanya Tania sambil menatap Radit yang duduk di sampingnya.
"Ck. Romantislah Nia sayang. Tuh, liat, tamannya aja berbentuk hati. Lampu-lampunya juga mendukung suasana romantisnya tau. Tapi ... tanpa kehadiran kita berdua, tempat ini nggak ada romantis-romantisnya sama sekali." ucap Radit sambil menunjuk kearah sekelilingnya. Tania juga ikut menyapukan pandangannya melihat ke sekeliling taman tersebut.
"Elah. Tapi kenapa tempatnya kok nggak sama kayak tempat romantis di film-film?" tanya Tania dengan polosnya.
"Kalo yang di film itu kan sengaja di buat-buat." balas Radit.
"Oh gitu yah." ucap Tania mengerti.
"Hm." gumam Radit sambil menggigit jagung bakarnya.
"Emangnya tempat yang kamu bilang bagus itu dimana sih Dit?" tanya Tania penasaran.
"Mm ... tempatnya nggak jauh dari apartemen Kak Hendra tadi." jawab Radit.
"Oh yah. Kok kamu bisa tau kalo disana ada tempat yang romantis." tanya Tania lagi.
"Waktu Kak Hendra masih tinggal disana. Aku sering ke tempat itu. Bahkan dulu, aku hampir tiap hari kesana." jawab Radit lagi.
"Oh. Jadi kamu sering kencan di tempat itu. Terus kamu mau bawa aku kesana buat ngingetin kenangan kamu sama mantan kamu. Gitu?" tuduh Tania sewot. Tanpa ia sadari ucapannya barusan seperti orang yang sedang cemburu.
"Yah enggaklah, kamu itu yang pertama buat aku sayang. Nggak ada yang lain." jelas Radit sambil mengusap-usap kepala Tania yang ditutupi hijab.
"Terus, kamu ngapain ke tempat romantis kalo kamu nggak punya pacar? Apa kamu kesana mau nyari pacar?" tanya Tania.
"Ck. Itu, itu sebenernya aku ikut Kak Hendra dulu, waktu Kak Hendra kencan sama si Salsa." jawab Radit sambil berdecak.
"Salsa? Siapa Salsa? Pacarnya Kak Hendra?" tanya Tania penasaran.
"Iya. Salsa itu pacarnya Kak Hendra dulu. Sekaligus teman kampusnya." jawab Radit.
"Oh ... jadi, Kak Hendra dulu pernah punya pacar." gumam Tania.