
Pagi itu Miko dan kedua orang tuanya sudah duduk di meja makan. Mereka belum memulai acara sarapan paginya karena mereka menunggu Tantri turun dari kamarnya.
"Mik, Mama begitu terkejut ketika Papa kamu bilang kalau kamu sudah kembali. Mama pikir kamu masih enggan untuk kembali ke rumah. Bukankah kemarin kamu masih menolak ajakan Mama saat Mama mengajak kamu untuk kembali ke rumah,"
"Aku tiba-tiba berubah pikiran, Ma. Kenapa sih sepertinya, Mama tidak senang kalau Miko pulang?"
"Bukan begitu, sayang. Mama cuma heran aja dengan sikap kamu. Memangnya apa alasan kamu tiba-tiba dalam sekejap kamu berubah pikiran dan ingin pulang?" tanya Bu Melda penasaran.
"Kan, Mama sendiri kemarin yang bilang kalau Mama sama Papa kesepian setelah Miko pergi meninggalkan rumah."
"Kamu yakin cuma gara-gara itu. Apa benar tidak ada alasan lain?" tanya Bu Melda menyelidik. Sama seperti suaminya semalam, ia juga menaruh curiga pada putranya itu.
"Yakin lah, Ma. Memangnya ada alasan lain apa lagi?" jawab Miko mencoba mengeles.
"Mama curiga kamu pulang karena---" Bu Melda menggantung ucapannya.
"Karena apa sih, Ma?"
"Karena ... gadis itu. Si Tantri."
Miko begitu terkejut mendengarkan ucapan mamanya. Bagaimana bisa mamanya berpikir demikian. Meskipun pada kenyataannya, alasan terbesarnya memang adalah gadis itu. Tapi apakah kepulangannya itu begitu mencurigakan, pikirnya.
Blush on alami muncul menghiasi wajah tampan milik Miko. Sebenarnya ia merasa malu pada kedua orang tuanya jika keduanya sampai mengetahui kalau dirinya pergi meninggalkan rumah karena seorang wanita dan kembali karena seorang wanita juga. Apa kata orang tuanya nanti jika mereka sampai mengetahui hal tersebut.
Awalnya Miko membuang mukanya ke arah samping sebelum akhirnya ia mencoba menyangkal tuduhan mamanya yang memang benar adanya.
"Mama ini bicara apa sih? Aku itu cuma menganggap Tantri seperti adikku sendiri, Ma."
"Aku takut, jika aku mengakuinya didepan kalian, kalian tidak akan menyetujuinya seperti yang telah berlalu." batin Miko.
"Kamu yakin hanya menganggapnya sebagai seorang adik saja?" tanya Bu Melda dengan tatapan menyelidik.
"Iya lah, Ma. Mau di anggap apa lagi?"
"Yah, sebagai seorang wanita,"
"Ma, sudahlah. Anak kita baru saja pulang. Papa tidak mau dia pergi lagi karena capek berdebat sama, Mama." bela Pak Afdal. Sejujurnya laki-laki paruh baya itu sudah tidak rela jika anaknya harus pergi meninggalkan rumah untuk yang kedua kalinya. Ia teramat sangat menyayangi anaknya meskipun ia sangat jarang sekali mengungkapkannya.
Perdebatan kecil mereka terhenti saat Tantri muncul dari arah tangga hendak menghampiri mereka bertiga. Jantung Tantri berdegup cukup kencang, ia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa malu dan canggung untuk bertemu anak bungsu si pemilik rumah jika ia mengingat kejadian semalam.
Andai saja pemilik rumah itu tidak memiliki aturan waktu makan bersama, pastilah dirinya lebih memilih untuk sarapan setelah Miko sudah tidak ada di meja makan.
"Tantri! Sini sayang." panggil Bu Melda.
"Iya, Tante. Maaf membuat kalian menunggu,"
"Tidak apa-apa. Maklum, ini kan hari pertama kamu sarapan dirumah ini. Jadi wajar lah kalau kamu sedikit terlambat. Besok-besok jangan lagi, yah." ujar Bu Melda.
"Baik, Tante." jawab Tantri. Ia mengambil tempat duduk di seberang Miko. Ia merasa malu dan canggung kalau harus duduk disamping pria itu.
"Kenapa, Tantri seperti menghindariku? Apakah dia marah karena kejadian semalam?" batin Miko. Ia mulai merasa tidak tenang. Ia memperhatikan gadis itu seperti tidak sudi menatapnya. Padahal itu hanya perasaannya saja. Gadis yang duduk diseberangnya itu hanya merasa sangat malu karena kejadian itu.
"Tapi sungguh, aku tidak sengaja melakukannya. Aku pikir, aku hanya bermimpi. Seandainya aku tau dia tidur dikamarku, tidak mungkin aku masuk kedalam sana. Aku bukan lelaki bre***ek yang suka mengambil kesempatan seperti itu."
"Ayo kita mulai sarapannya!" seru Pak Afdal. Mereka pun memulai sarapan bersama. Tantri terus saja menunduk dan fokus pada makanannya. Sedangkan Miko selalu mencuri pandang ke arah gadis itu. Ia tidak sadar kalau papanya memperhatikan gerak-geriknya.
Usai sarapan bersama, Tantri kembali ke kamarnya. Hari ini ia masih beristirahat. Besok adalah hari pertama ia PKL di restoran milik Miko. Karena bosan sepagian di kamar terus, ia pun berjalan keluar dari kamarnya lalu turun ke lantai dasar. Ia ingin pergi ke taman yang ia lihat dijendela kamarnya tadi.
Saat ia turun, suasana rumah nampak sepi. Kemana perginya penghuni rumah besar ini, pikirnya. Setelah menanyakan pintu keluar ke taman tersebut pada asisten rumah tangga yang ia temui, ia pun akhirnya menemukan jalan menuju ke tempat itu.
"Wah, cantik sekali. Aku yakin Tante Melda pasti suka bunga." tebaknya saat ia melihat banyak jenis bunga berwarna-warni yang berjejer rapi di taman itu. Ia juga merasakan hawa sejuk disana. Padahal jarum pendek jam sudah sedikit melewati angka 10. Ia pun kemudian mengambil tempat duduk di kursi taman yang terletak dibawah sebuah pohon yang rindang.
****************
Kediaman Hendra dan Tasya
Tidak terasa usia kehamilan Tasya sudah menginjak usia 6 bulan. Perutnya semakin buncit dan badannya juga semakin berisi. Bagaimana tidak, selain rajin minum susu ibu hamil, ia juga doyan makan. Apalagi makanan manis seperti ice cream dan cokelat adalah makanan favoritnya. Dokter menyarankan agar ia menghindari mengomsumsi makanan manis tersebut karena bobot janinnya sudah diatas rata-rata.
Sepulang dari memeriksakan kandungannya, Tasya dan Hendra mampir dirumah Radit dan Tania. Tulisan "CLOSED" yang menempel di pintu rumah itu sudah lama dilepas oleh si pemilik rumah. Selama satu bulan lamanya tulisan itu terus tertempel di pintu putih itu. Maka selama itu pula orang-orang yang ingin berkunjung ke rumah mereka terusir oleh tulisan tersebut. Sebagian orang memaklumi, sebagian pula dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd si pemilik rumah.