How To Love You

How To Love You
Bab 210



"Sepertinya, kamu begitu bahagia, Mik."


"Mama, Miko kan malu, Ma." ucap Miko sembari menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya.


"Kenapa mesti malu? Sekarang, Mama ingin bertanya sama kamu sekali lagi. Apa kamu menyukai Tantri?" tanya Bu Melda. Sebenarnya wanita paruh baya itu sudah tahu jawabannya. Tapi ia ingin melihat dan mendengarkan sendiri secara langsung pengakuan dari anaknya itu.


"Iya, Ma," jawab Miko disertai anggukan.


"Sejak kapan?"


"Sudah lama. Semenjak Miko sering bolak balik dari sini ke desa tempat tinggal Hendra," jelas Miko.


"Berarti sudah semenjak beberapa bulan yang lalu."


"Iya, Ma."


"Apa gadis itu juga menyukaimu?"


"Miko nggak tau, Ma. Yang jelas, rencana Mama ini jangan sampai diketahui dulu oleh Tantri. Miko takut dia menjauh kalau dia tidak menyukai Miko, Ma."


"Kamu takut ditolak?"


"Bukan begitu, Ma. Syukur-syukur kalau Tantri juga suka sama Miko. Kalau nggak, gimana dong? Miko nggak mau dia menjaga jarak sama Miko. Jadi sebaiknya rencana, Mama ini di tunda dulu sampai waktu benar-benar memungkinkan."


"Kamu tenang saja, sayang. Kamu tidak usah khawatir. Serahkan semuanya pada Mama. Mama akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu."


***


Selepas berbicara dengan Miko, Bu Melda segera menghampiri Tantri yang masih sibuk membantu para asisten rumah tangga dirumah besar nan mewah itu membersihkan sisa-sisa acara.


"Tantri! Apa yang kamu lakukan, sayang? Kenapa kamu mengerjakan pekerjaan itu? Dirumah ini banyak ART yang bisa membereskan semua pekerjaan seperti itu. Kamu tidak perlu membantu mereka."


"Tidak apa-apa kok, Tante. Tantri juga sering mengerjakan pekerjaan seperti ini dirumah."


"Itu dirumah kamu, sayang. Kalau disini Tante melarang kamu melakukan pekerjaan rumah. Lain kali Tante tidak mau melihat kamu mengerjakan pekerjaan rumah lagi. Karena kalau Tante masih mendapati kamu melakukan pekerjaan seperti itu, Tante akan marah sama kamu. Kamu pasti tidak tahu kan, Tante itu kalau lagi marah melebihi seramnya Suzanna," cerocos Bu Melda.


Tantri hanya terkikik mendengarkan ocehan wanita paruh baya itu. Ternyata Bu Melda memiliki sisi humoris juga, pikirnya.


"Tante Melda bisa aja bercandanya."


"Sayang, tinggalkan pekerjaanmu itu. Ayo kamu ikut Tante ke kamar! Tante ingin menunjukkan sesuatu sama kamu."


"Apa, Tante?" tanya Tantri penasaran.


"Sudah, kamu ikut saja. Tidak usah banyak tanya. Nanti kamu juga akan tau sendiri." jawab Bu Melda. Tantri pun kemudian mengekor dibelakang Bu Melda. Di tengah perjalanan mereka menaiki tangga, Miko juga sedang berjalan menuruni tangga tersebut. Kali ini Miko terlihat berbeda. Ia terlihat malu-malu kucing bertemu dengan calon masa depannya tersebut. Berbeda dengan Tantri, gadis itu terlihat sama saja. Ia tetap memasang wajah cerianya dan mengulas senyum manis saat bertemu pria itu karena ia belum tahu apa-apa.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Bu Melda pada putranya.


"Ya sudah, habis itu kamu datang ke kamar Mama. Mama tunggu kamu disana."


"Iya, Ma."


Kira-kira apa yang mau, Mama lakukan? Batin Miko.


Setelah gadis itu hilang dari pandangannya bersama mamanya, barulah ia melanjutkan langkahnya menuruni tangga beranjak ke arah dapur.


****************


Kamar Bu Melda dan Pak Afdal


"Duduklah!" titah Bu Melda pada Tantri saat mereka baru memasuki kamar besar nan mewah itu.


"Makasih, Tante."


Wow! Ini kamar apa istana. Batin Tantri yang kagum melihat kemewahan yang tersuguh dikamar itu.


Tantri pun kemudian duduk disebuah sofa yang tersedia kamar itu. Ia lalu mengitarkan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan. Tampak kamar milik tuan dan nyonya rumah itu sangat luas, sudah sebesar rumah orang tuanya saja. Didalamnya ada ruang tamu yang lengkap dengan sofa, lemari, televisi, kulkas, AC dan lain sebagainya.


Kamar itu begitu mewah dengan kombinasi warna emas, perak dan putih. Begitu pula dengam perabot-perabot didalamnya. Tidak ada warna lain selain ketiga warna tersebut. Benar-benar kamar sultan. Ucap Tantri dalam batinnya.


Sebuah cermin dengan ukuran yang sangat besar yang menjadi penyekat antara ruang tamu yang ada didalam kamar itu dengan tempat tidur si pemilik kamar. Bagian luarnya saja terlihat sangat bagus dan mewah, apalagi bagian dalamnya. Ia begitu penasaran seperti apa ranjang milik si empunya kamar. Apakah ranjangnya terbuat dari emas juga? Pikirnya.


Kamar itu sungguh berbeda dengan kamar milik Miko yang sekarang Tantri tempati. Kamar Miko masih sama seperti kamar pada umumnya. Hanya saja, luas kamar itu yang lebih besar dari kamar rata-rata. Bahkan lebih luas dari kamar di rumah Hendra dan Tasya.


Tidak lama kemudian, Bu Melda keluar sambil membawa sebuah kotak perhiasan kecil yang sudah terlihat usang. Sepertinya usang karena dimakan usia. Bu Melda pun kemudian duduk tepat disamping Tantri.


"Tantri! Tante punya sesuatu buat kamu. Tapi, Tante harap kamu bisa menjaganya dengan sangat baik. Dan jangan pernah sesekali kamu melepasnya. Dulunya isi kotak ini ada 2 buah, tapi sekarang tinggal 1 karena Tante sudah memberikan satu buah pada Vina," jelas Bu Melda.


"Apa itu, Tante?" tanya Tantri penasaran. Bu Melda pun kemudian membuka kotak perhiasan tersebut. Isinya adalah cincin emas polos. Beratnya kira-kira 3 gram. Tantri begitu terkejut mengetahui isinya adalah cincin.


"Untuk apa, Tante Melda memberikan aku cincin?" batin Tantri kebingungan.


"Sayang! Ini cincin peninggalan almarhum ibu, Tante. Dan Tante memberikannya padamu karena Tante berharap selanjutnya kamu yang akan menjaga cincin ini." jelas Bu Melda sembari memasang cincin itu di jari tengah kanan Tantri. Tantri hanya pasrah saja menerima perlakuan itu. Ia takut menolak karena ia tahu setegas apa wanita dihadapannya itu.


"Tapi, Tante, cincin ini untuk apa? Kenapa, Tante memberikan cincin peninggalan ibu, Tante pada saya?" tanya Tantri semakin kebingungan.


"Tante memberikan ini karena Tante pikir kamu satu-satunya gadis yang berhak menerima cincin ini."


"Maksudnya apa, Tante? Saya benar-benar tidak mengerti."


"Begini, biar Tante jelaskan dulu. Om sama Tante memilih kamu untuk menjadi menantu kami. Dan kelak kamu akan menjadi pendamping hidup Miko."


"APAAA?" Tantri begitu terkejut mendengarkan penjelasan wanita paruh baya yang duduk disampingnya. Saking terkejutnya, Tantri sampai menjatuhkan diri ke lantai karena ia telah kehilangan kesadarannya.