How To Love You

How To Love You
Bab 55



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


"Ba bayaran? Maksudnya bayaran apa sayang?" tanya Tasya makin bingung dengan ucapan Hendra.


"Yah bayaran untuk pekerjaan tanganku barusan." jawab Hendra lalu mengecup bibir istrinya.


"Ap ap apa? Jadi tadi kamu memijatku karena mengharapkan imbalan." Tasya terbata karena mulai mengerti maksud perkataan Hendra.


"Tentu saja sayang." balas Hendra.


"Ta tapi sayang. Aku kan lagi..." Hendra meletakkan telunjuknya di bibir Tasya membuat gadis itu diam dan tidak menyelesaikan ucapannya.


"Hust. Aku tahu sayang. Aku tidak akan 'memasukkannya'. Aku cuma mau bermain-main denganmu sebentar." jelas Hendra. Ia pun mulai menindih tubuh mungil istrinya.


Juniornya sudah menegang dari tadi. Ia pun mulai mel***t bibir ranum Tasya, memasukkan lidahnya kedalam mulut mengabsen gigi istrinya satu per satu. Tasya hanya mengikuti permainan Hendra, ia belum berpengalaman dalam berciuman. Baginya semua pengalaman ia dapat dari suaminya seorang setelah mereka menikah.


Setelah berciuman penuh gairah, Hendra pun membuka kancing piyama Tasya satu persatu. Ia membuka pengait penutup kedua benda kenyal favoritnya yang ingin ia mainkan itu. Setelah melempar semua penghalang ke lantai, Hendar memulai aksinya memainkan benda favoritnya itu, mel****, mengh***p p*****nya membuat Tasya mendesah kegelian. Ia meninggalkan beberapa tanda merah disana.


******* istrinya membuat libidonya semakin meningkat. Ia sudah tidak tahan lagi, ingin sekali ia menancapkan batangannya pada milik istrinya. Tapi sayang sekali, hal itu sangat tidak mungkin ia lakukan, mengingat Tasya yang kini sedang datang bulan. Ia pun memutuskan untuk bangun dari atas tubuh Tasya dan memilih untuk membereskannya sendiri.


"Sayang. Mau kemana?" tanya Tasya. Ia heran melihat suaminya yang tiba-tiba bangun hendak meninggalkannya tanpa berkata apa-apa.


"Aku mau ke kamar mandi dulu sayang." jawab Hendra seraya berjalan menuju pintu kamar mandi.


"Mau ngapain dikamar mandi sayang? kebelet pipis?" tanya Tasya lagi. Ia semakin bingung mendengar jawaban suaminya yang tiba-tiba mau masuk ke kamar mandi disaat mereka sedang menikmati permainan kuda-kudaannya.


Hendra tidak menggubris pertanyaan Tasya. Dalam hatinya berkata,


"Bukan kebelet pipis sayang. Tapi aku mau membereskan adik kecilku dulu yang lagi nakal dikamar mandi."


20 Menit kemudian.


Hendra baru keluar dari kamar mandi. Sedangkan Tasya sudah lengkap kembali dengan baju tidurnya. Tasya sekarang sedang belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi UASnya lusa. Hendra menghampiri Tasya yang sedang duduk belajar di sofa.


"Kok lama sayang, apa yang kamu lakukan didalam?" tanya Tasya penasaran karena Hendra lumayan lama di kamar mandi.


"Mm ... itu tadi ... aku lagi sembelit." bohong Hendra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia juga malu mengakui apa yang ia lakukan didalam kamar mandi tadi. Jadi ia mencari alasan yang kira-kira masuk akal.


"Sembelit??? Kok bisa?" Tasya bingung dengan jawaban suaminya. Karena ia pikir selama ini Hendra tidak kekurangan asupan air putih dan serat.


"Lagi belajar yah sayang." ujar Hendra mengalihkan topik pembicaraan seraya duduk di sofa lalu membaringkan kepalanya berbantalkan paha Tasya.


"Sayang. Jangan ganggu dulu, aku lagi belajar." imbuh Tasya yang merasa sedikit terganggu karena Hendra berbaring di pahanya.


"Tidak kok sayang. Aku tidak akan mengganggumu. Aku cuma mau berbaring dipangkuanmu saja, karena aku merasa sangat nyaman berbaring di pangkuanmu. Aku janji tidak akan bersuara dan tidak akan mengganggumu." ujarnya sambil tersenyum lalu memeluk pinggang istrinya dengan tangan kanannya.


"Mm ... Baiklah. Tapi beneran yah sayang jangan ganggu." kata Tasya ingin memastikan.


45 Menit kemudian.


Selama tiga per empat jam berlalu, Hendra benar-benar tidak bersuara sedikit pun. Tasya merasa kakinya sudah kram dan sedikit pegal karena Hendra menjadikan pahanya sebagai bantal selama itu.


Tasya pun meletakkan bukunya disamping pahanya. Ia berniat menyuruh Hendra untuk pindah ke tempat tidur dan ternyata ia mendapati Hendra sudah tertidur pulas dipangkuannya.


"Yah ampun sayang. Pantas kamu tidak bersuara dari tadi. Ternyata kamunya lagi tidur toh." gumam Tasya tersenyum seraya mengelus-elus kepala Hendra.


Hendra terjaga karena merasa ada yang menyentuh kepalanya.


"Sayang. Kamu sudah selesai belajarnya?" tanya Hendra sambil mengucek-ngucek matanya dengan kedua tangannya.


"Iya sayang. Aku ngantuk." jawab Tasya.


Hendra pun bangun dan duduk di sofa.


"Sayang. Ayo kita naik ke tempat tidur." ajak Hendra.


Tasya setuju dan mengangguk. Mereka pun lalu melangkah naik dan berbaring di tempat tidur. Hendra mencium kening Tasya cukup lama lalu memeluk tubuh mungil istrinya. Tasya pun membalas pelukan Hendra dan membenamkan wajahnya didada suaminya. Mereka kemudian tertidur tanpa banyak bicara lagi. Tidak butuh waktu lama untuk keduanya terlelap karena keduanya memang sudah sama-sama mengantuk.


Keesokan harinya.


Tasya membangunkan Hendra untuk shalat subuh. Biasanya mereka shalat subuh berjamaah setelah mandi wajib. Tapi sekarang Tasya sedang kedatangan tamu bulanan. Jadi kali ini Hendra shalatnya sendirian.


Seperti hari biasanya, Tasya turun ke lantai bawah menuju dapur untuk membuat sarapan. Kali ini Tasya ingin membuat nasi goreng untuk sarapan mereka berdua. Karena masih ada nasi sisa kemarin. Tasya membuka kulkas dan mengambil 1 buah dada ayam yang sudah membeku di freezer. Ia ingin membuat ayam kentucky sebagai teman nasi gorengnya. Dan tak lupa pula ia mengambil satu buah mentimun yang ada di rak bawah tempat sayuran di kulkas.


30 Menit kemudian.


Hendra pun turun menyusuri anak tangga satu persatu menuju lantai bawah dan selanjutnya menuju ruang makan. Ia turun setelah selesai menunaikan ibadah shalat subuh dan melantunkan dua lembar ayat suci Al-Qur'an.


Tasya masih belum selesai dengan pekerjaannya, tinggal ayamnya yang belum selesai digoreng. Tasya menyadari kedatangan suaminya.


"Pagi sayang." Sapa Tasya sambil membalikkan ayam yang ia goreng di wajan.


"Pagi juga istriku sayang." balas Hendra tersenyum sambil menarik kursi lalu duduk memperhatikan istrinya yang lagi sibuk menyiapkan sarapan di dapur.


"Ternyata menikah itu memang enak yah. Apalagi menikah dengan orang yang sangat kita cintai." batin Hendra. Ia merasa ada sesuatu yang sejuk menyeruak didalam hatinya.


"Makan ada yang masakin, tidur ada yang nemenin. Segala kebutuhan juga ada yang nyiapin. Mau ******** pun juga ada yang bisa diajak. Ckckck." batin Hendra.


"Alhamdulillah Yaa Allah. Engkau telah memberiku nikmat yang begitu luar biasa didalam kehidupanku. Engkau memberiku istri yang mampu menentramkan hatiku, membuat hidupku terasa damai. Ia mampu menyenangkanku, membahagiakanku dan membuatku lebih bersemangat menjalani kehidupan. Ia benar-benar mengubah hidupku dengan kehadirannya. Yaa Allah jangan ambil kebahagiaan kami. Melainkan buatlah kebahagiaan kami menjadi semakin besar setiap harinya. Dan hamba mohon Yaa Allah, titipkanlah malaikat kecil didalam rahim istri hamba secepatnya. Agar kebahagiaan kami semakin lengkap dengan kehadiran buah hati yang menghiasi hari-hari kami. Aamiin." pinta Hendra dalam batinnya.


Beberapa menit kemudian.


Nasi goreng beserta ayam kentucky, dihiasi dengan irisan mentimun, kerupuk bawang dan juga sedikit sambal ditambah dua gelas teh manis hangat menemani sarapan pagi mereka. Seperti biasa, Tasya menyuapi Hendra, begitu pula sebaliknya hingga mereka kenyang. Tak lupa pula jatah si Puss kucing peliharaan mereka