
Di tempat lain, seorang wanita paruh baya sedang membelalakkan matanya melihat foto mesra anak bungsunya bersama dengan seorang gadis remaja. Secepatnya ia menelpon orang yang mengirim foto tersebut padanya.
"Halo, Ma." jawab seorang wanita diseberang telepon.
"Vina, dari mana kamu mengambil foto itu?" tanya Wanita paruh baya yang tidak lain adalah Bu Melda, mamanya Miko.
"Aku sendiri yang mengambil gambarnya langsung, Ma. Aku nggak sengaja melihat mereka waktu aku belanja di supermarket tadi sore," jawab Vina yang tidak lain adalah kakak ipar Miko, istri dari kakak kandung Miko satu-satunya.
"Kamu kenal siapa gadis itu?" tanya Bu Melda.
"Nggak, Ma. Aku juga baru liat. Tapi sepertinya gadis itu masih sangat muda. Mungkin masih seumuran anak SMA." jelas Vina.
"Yah sudah. Mama akan cari tau sendiri," kata Bu Melda sebelum memutuskan sambungan telpon mereka.
"Iya, Ma."
"Siapa gadis itu?" gumam Bu Melda setelah memutus sambungan telponnya dengan Vina. Ia penasaran dan bertanya-tanya mengenai sosok Tantri. Mengingat selama ini Miko tidak pernah bercerita padanya kalau anak bungsunya itu tengah dekat dengan seorang gadis.
"Oh, iya Pak Yadi. Aku harus menanyakannya pada, Pak Yadi." putus Bu Melda kemudian. Setelah mengirim beberapa foto pada Pak Yadi, ia pun segera menekan gagang telpon yang ada di bagian atas layar ponselnya. Setelah panggilannya tersambung dengan supirnya itu, tidak butuh waktu lama untuk Pak Yadi menjawab panggilannya.
"Iya. Halo, Nyonya."
"Halo, Pak Yadi! Buka pesan di whatsappmu. Perhatikan, siapa gadis yang sedang bersama, Miko," perintah Bu Melda.
"Baik, Nyonya. Tunggu sebentar!" Pak Yadi kemudian mengecek foto yang di kirim oleh majikannya itu.
"Bagaimana? Apa, Pak Yadi kenal?" tanya Bu Melda penasaran.
"Oh, gadis itu tadi yang saya jemput bersama, Tuan Miko di bandara siang tadi, Nyonya." jawab Pak Yadi jujur.
"Maksud, Pak Yadi apa? Saya belum mengerti, Coba jelaskan secara detail. Setelah Pak Yadi jemput, apa lagi?" tanya Bu Melda makin penasaran.
"Mm, begini Nyonya, sepertinya mereka akan tinggal bersama di apartemen, Tuan Miko." jawab Pak Yadi. Laki-laki paruh baya itu terlalu menjunjung tinggi kepercayaan dari majikannya. Ia tidak mungkin berbohong pada Bu Melda. Mengingat berkat sikap jujurnya lah yang membuatnya bisa bertahan hingga puluhan tahun bekerja di keluarga itu.
"APAAAA?" Bu Melda membulatkan matanya. Ia begitu terkejut sekaligus geram mendengar anaknya akan tinggal satu atap dengan seorang gadis. Ia pun segera menyambar tas yang ada di kamarnya kemudian menyuruh Pak Yadi untuk mengantarnya ke apartemen Miko.
...----------------...
"Sini aku bantu," ucap Miko yang sedang berdiri dibelakang Tantri sambil memperhatikan gadis itu memasukkan barang-barang kedalam kulkas.
"Nggak usah, Kak. Biar aku aja. Kak Miko istirahat aja sana." tolak Tantri.
"Yah sudah, kalau begitu aku ke kamar dulu sebentar. Aku mau mengambil handphone yang sempat kelupaan tadi," kata Miko. Ia pun beranjak meninggalkan Tantri menuju ke kamarnya. Saat ia hendak memutar gagang pintu kamarnya. Tiba-tiba ia mendengar seseorang sedang menekan password apartemennya. Seketika Miko jadi panik, ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia tahu persis siapa yang sedang berada dibalik pintu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Menyembunyikan, Tantri atau mencegah Mama untuk masuk." batin Miko panik.
"Lebih baik aku mencegah, Mama untuk masuk. Sebab menyembunyikan Tantri pun sepertinya juga sudah terlambat." batin Miko sembari berlari secepat mungkin ke arah pintu. Belum sampai Miko disana, pintu sudah terbuka lebar. Nampaklah seorang wanita cantik meskipun umurnya sudah kepala lima dari balik pintu. Siapa lagi kalau bukan Bu Melda.
"Mamaaaa! Aku kangen banget sama, Mama." seru Miko sembari berhambur memeluk mamanya. Bu Melda hanya diam dengan perlakuan anak bungsunya itu. Ia tahu betul sifat anaknya. Saat Miko melakukan kesalahan ataupun menyembunyikan sesuatu, ia pasti bersikap manis semanis-manisnya agar Bu Melda tidak sampai memarahinya.
"Mama kok diam aja sih. Memangnya, Mama nggak kangen apa sama anak Mama yang tampan ini?" tanya Miko sedikit narsis.
"Percuma ketampananmu itu kalau kamu hanya bisa mengajak anak gadis orang kumpul kebo," ujar Bu Melda mulai menampakkan amarahnya yang sukses membuat tekanan darah meninggi sedari tadi.
"Gawat! Darimana Mama tahu kalau aku akan tinggal bersama seorang gadis disini? Ini pasti kerjaannya, Pak Yadi. Tidak salah lagi. Ini semua salahku. Kenapa aku bisa sebodoh itu meminta bantuan, Pak Yadi untuk menjemputku di bandara? Harusnya aku sama Tantri naik taxi aja tadi." batin Miko.
"Mama ngomong apa sih? Ayo kita keluar cari makan, Ma! Aku kangen banget pengen makan bareng sama, Mama." ucap Miko mengalihkan topik pembicaraan.
"MIKO! Dimana kamu menyembunyikan gadis itu?" tanya Bu Melda dengan nada tinggi. Ia benar-benar marah pada kelakuan anaknya yang membuat malu keluarga, pikirnya.
"Ma, Ma. Tenang dulu, ayo kita bicara di luar!" kata Miko sambil menarik tangan Bu Melda untuk keluar dari apartemennya. Ia tidak mau Tantri mendengar mamanya marah-marah. Sebab gadis itu pasti akan merasa sedih dan tersinggung jika mendengarkan Bu Melda marah-marah.
"Miko, Mama tanya sama kamu. Apa benar kamu tinggal berdua dengan seorang gadis disini, hah?! Jawab," tanya Bu Melda dengan suara lantangnya.
"Ma, jangan ribut-ribut dong. Aku kan malu, Ma kalo sampe orang lain denger,"
"Malu kamu bilang. Kamu pikir bagaimana perasaan, Mama, Miko? Mama lebih malu lagi gara-gara kelakuan kamu. Lepasin tangan, Mama! Mama mau mengusir perempuan itu pergi dari sini," kata Bu Melda sambil memberontak ingin melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Miko.
"Ma, Please! Aku mohon, Ma! Jangan usir, Tantri!" pinta Miko dengan wajah memelas.
"Oh jadi namanya, Tantri. Lepasin tangan Mama, Miko. Mama harus mengusir perempuan itu sebelum kamu melakukan hal yang tidak-tidak bersamanya."