
"Kenapa tertawa? Apanya yang lucu?" tanya Pria itu.
"Ekspresi, hahaha. Ekspresi, Kak Miko tadi lucu banget tau nggak," jawab Tantri sambil menyeka ujung matanya. Ia berusaha untuk berhenti tertawa.
"Lucu kenapa sih?" tanya Miko bingung.
"Lucu aja. Aku heran loh, Kak. Kenapa cewek tadi bisa ketakutan gitu liat wajah, Kak Miko? Kalo aku malah ngakak liatnya," jawab Tantri lalu kembali terkekeh.
"Ck, kamu ini." ucap Miko sambil mencubit pipi tembem milik Tantri. Ia begitu gemas pada gadis itu.
"Kak Miko ih, sakit." ucap Tantri. Miko hanya tersenyum mendengarnya.
"Oh iya, kamu kenal cewek tadi?" tanya Miko lagi.
"Nggak, Kak."
"Apa kamu pernah lihat dia sebelumnya?"
"Nggak juga."
"Hmm, pelaku penculikan Tania laki-laki dan perempuan. Kira-kira, apa yang mereka inginkan?Kenapa mereka menculik kakak kamu?" ucap Miko sembari berpikir. Tantri hanya mengangkat bahunya pertanda bingung dan tidak tahu menahu apapun.
"Eh, ternyata disini jalan buntu. Jangan-jangan, Kak Tania ada didalam gubuk itu," ucap Tantri saat melihat ada gubuk disamping ujung jalan.
"Ayo cepat keluar, sebelum cewek itu kabur. Oh iya, jangan lupa bawa alat-alat yang kita beli di warung tadi." kata Miko mengingatkan.
"Iya, Kak siap."
Dengan cepat Miko dan Tantri keluar dari dalam mobil dan segera menghampiri mobil Chelsea. Mereka berdua sudah seperti polisi yang sigap menangkap pelaku kejahatan.
"Loh loh loh, mereka kenapa?" ucap Chelsea saat melihat Miko dan Tantri berlari ke arah mobilnya.
"Tok tok tok." Miko mengetuk kaca mobil Chelsea.
"Buka!" seru Miko sambil terus menggedor-gedor kaca mobil tersebut.
"A-ada apa, Bang?" tanya Chelsea terbata setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Turun!" titah Miko. Nada bicaranya tidak pernah terhenti.
Dengan cepat Chelsea turun. Ia begitu ketakutan melihat wajah garang milik Miko yang begitu menyeramkan menurutnya.
"Sa-saya salah apa, Bang?" tanya Chelsea gemetar.
"Pake nanya lagi. Sini tangan kamu!" jawab Miko.
"Ta-tangan? Tangan saya mau diapain?"
"Siapa sebenarnya mereka? Kenapa mereka memperlakukanku seperti ini. Eh, tunggu dulu! Sekilas cewek ini mirip dengan Tania. Apa jangan-jangan, cewek ini saudaranya Tania? Tapi bagaimana caranya mereka bisa mengikuti kami kesini secepat itu? Sial, bagaimana pun caranya aku harus kabur dari sini sebelum mereka menangkapku." batin Chelsea.
"Sini tangan kamu! Cepetan," titah Miko lagi.
"Eh, YUDAAA! Kamu mau bawa Tania kemana?" teriak Chelsea sambil menunjuk ke arah belakang Miko dan Tantri. Spontan saja keduanya menoleh ke arah yang ditunjuk.
"Mana?" ucap Miko dan Tantri bersamaan. Mereka tidak melihat ada siapa-siapa disana.
"Nggak ada." ucap Tantri sambil melihat kembali ke arah depan dimana Chelsea tadi berada.
"Apa? Dimana dia?" tanya Miko.
"Itu, dia sudah lumayan jauh Kak." jawab Tantri sambil menunjuk ke arah Chelsea berlari.
"Sial! Aku harus cepat-cepat menangkapnya." ucap Miko.
"Tantri! Masuk ke dalam mobil dan kunci pintunya," titah Miko. Ia tidak mau terjadi apa-apa pada gadis itu saat ia tinggal nanti.
"Baik Kak." ucap Tantri. Ia pun menuruti apa kata Miko. Setelah melihat Tantri beranjak menuju mobil, Miko pun kemudian berlari dengan sekuat tenaga untuk mengejar Chelsea yang sudah mulai masuk ke dalam hutan.
"Hei! Jangan lari kamu!" teriak Miko.
"Sial! Aku ketahuan. Aku nggak boleh sampai tertangkap." batin Chelsea sambil terus berlari sekuat tenaga.
"Hosh-hosh. M*mpus aku. Aku kehabisan tenaga gara-gara belum pernah makan dari pagi." gumam Chelsea. Kecepatan larinya mulai menurun, ia begitu kelelahan sekaligus kelaparan. Hal itu lebih mempermudah Miko untuk menangkapnya nanti.
"Nah, kena kamu. Mau lari kemana lagi?" tanya Miko saat melihat Chelsea hanya berjarak beberapa meter saja di depannya. Miko semakin mempercepat larinya melihat targetnya semakin dekat didepan mata.
Chelsea menjatuhkan dirinya ditanah saat Miko menarik ujung jaketnya. Ia menyerah, sungguh melelahkan, pikir Chelsea. Ia tidak mungkin bisa menang melawan Miko lari kejar-kejaran seperti di film India.
"Ayo bangun!" Akhirnya, Miko berhasil menangkap Chelsea.
***
Sementara itu, di waktu yang sama namun tempat yang berbeda. Radit memarkirkan mobilnya tepat dibelakang mobil Hendra yang dipakai oleh Miko tadi. Melihat kedatangan calon kakak iparnya, Tantri pun segera turun dari mobil dan segera menghampiri Radit.
"Apa yang terjadi? Mana Kak Miko?" tanya Radit panik. Ia juga khawatir terjadi apa-apa pada mantan rivalnya itu.
"Dia ngejar cewek yang kabur ke dalam hutan," jawab Tantri.
"Cewek, cewek apaan?" tanya Radit bingung.
"Sudah lah, Kak. Kita nggak usah bahas itu dulu, ayo kita masuk kedalam sana! Barusan aku mendengar Kak Tania berteriak minta tolong. Pasti telah terjadi sesuatu," jelas Tantri sambil menunjuk ke arah gubuk yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Ia begitu khawatir terjadi sesuatu pada kakaknya, sama halnya dengan Radit yang sangat takut terjadi apa-apa pada calon istrinya itu.
Radit dan Tantri berlari menghampiri gubuk itu. Tanpa berpikir panjang, Radit segera menendang pintu gubuk itu hingga rusak karena memang sudah rapuh.
Radit mengepalkan tangannya melihat pemandangan didepannya. Sedangkan Tantri hanya bisa menutup mulutnya lalu segera menjauh dari tempat itu. Ia tahu kalau Radit pasti bisa mengatasinya sendirian.
Radit begitu marah dan geram menyaksikan pemandangan tidak mengenakkan itu dengan mata kepalanya sendiri secara langsung. Amarahnya memuncak hingga sampai ke ubun-ubun. Dengan mata merah, napas memburu, serta tangan yang terkepal siap menghajar laki-laki yang ia kenal sejak SMA itu sedang menungga*gi calon istrinya.
"Yuda b******k! B*******n kamu! HIYAAA!" seru Radit lalu menghajar Yuda hingga jatuh tersungkur ditanah. Ia lalu mendaratkan bogem mentah hingga berkali-kali ke wajah si Yuda hingga babak belur. Laki-laki mana pun tidak akan tinggal diam jika melihat kekasihnya dilecehkan seperti itu.
Setelah berhasil membuat Yuda babak belur tanpa perlawanan, Radit pun menghampiri Tania yang duduk sambil meringkuk diatas panggung. Ia begitu sedih melihat kondisi kekasihnya yang terlihat sangat berantakan. Hijab terbuka, baju sobek-sobek, tapi untunglah, Radit merasa lega karena celana lejeans yang dikenakan oleh Tania masih utuh melekat dibetisnya, serta roknya yang juga masih terlihat utuh. Berarti Yuda tidak berhasil menodai Tania, pikir Radit.
"Nia!" panggil Radit lirih. Namun gadis itu tidak menjawab. Ia hanya terus-terusan saja menangis. Radit kemudian duduk disampingnya.
"Sayang, maafkan aku. Aku nggak becus jagain kamu. Aku janji, kejadian seperti ini nggak akan terulang lagi," janji Radit sambil memeluk Tania.
"Huhuhu." Tangisan Tania semakin pecah. Ia lalu membalas pelukan calon suaminya itu.
"Kamu tenang yah, sayang. Sudah nggak apa-apa," ujar Radit mencoba menenangkan Tania.
Mereka berdua tidak sadar kalau Yuda bangun sambil membawa sebuah pisau belati ditangannya. Entah dimana ia mengambil benda tajam itu. Yang jelas ia memang sudah menyiapkan benda itu untuk berjaga-jaga semisalnya terjadi sesuatu tidak diinginkan yang bisa merusak rencananya seperti saat itu.
Bermesra-mesraan lah selagi kalian masih bisa. Karena sebentar lagi, aku akan menghabisi nyawa kamu Radit si**an. Batin Yuda sambil menyunggingkan senyum jahatnya. Ia berjalan sepelan mungkin ke arah Radit dan Tania tanpa disadari oleh keduanya. Ia sudah bersiap-siap untuk menancapkan benda tajam itu ke tubuh bagian belakang Radit.