How To Love You

How To Love You
Bab 224



Tantri tersentak kaget saat ia tiba-tiba mendengar ada yang mengetuk pintu yang menuju jalan keluar ke balkon.


"Itu pasti kak Miko. Ada apa lagi sih?" gumam Tantri. Tanpa berlama-lama, ia pun segera membukakan pintu untuk Miko.


"Ada apa lagi sih, Kak?" tanya Tantri saat pintunya sudah terbuka. Tanpa menjawab, Miko segera menerobos masuk sambil menarik tangan gadis itu dan mendudukkannya di pinggir tempat tidur.


"Duduk dulu," kata Miko sambil ia juga ikut duduk bersama Tantri. Posisi mereka sekarang sudah duduk sambil berhadapan.


"Ada apa lagi sih, Kak?" tanya Tantri sedikit kesal.


"Aku kesini karena aku tidak bisa tenang kalau aku tidak tahu penyebab kamu masih marah padaku," jelas Miko sambil masih memegang sebelah tangan Tantri yang ia tarik tadi.


Tantri mendengus sambil memutar bola matanya dengan malas lalu berkata, "Itu lagi. Aku kan udah bilang, Kak kalau aku itu nggak suka kalau, Kak Miko ngelarang-larang aku ketemu sama Anton."


Tantri langsung mengatakan yang sebenarnya pada Miko karena ia tidak ingin berbasa-basi agar Miko tidak melontarkan banyak pertanyaan padanya. Untuk saat itu, ia malas meladeni pertanyaan-pertanyaan Miko yang menurutnya kurang penting dan hanya membuang-buang waktu saja.


"Jadi masih gara-gara itu?" tanya Miko.


"Hem," gumam Tantri karena ia malas menjawab pertanyaan Miko.


"Baiklah. Aku tidak akan melarangmu lagi bertemu dengan temanmu itu. Tapi syaratnya, setiap kalian ingin bertemu, aku juga harus ikut," jelas Miko. Tantri merasa sangat senang karena Miko akhirnya tidak melarangnya lagi bertemu dengan Anton meskipun dengan satu persyaratan. Tapi bagi Tantri itu bukanlah masalah.


"Oke. Aku setuju kalau, Kak Miko mau ikut bergabung bersama kami. Tapi ada syaratnya juga," ujar Tantri sambil tersenyum misterius.


"Apa syaratnya?" tanya Miko penasaran.


"Syaratnya adalah, Kak Miko harus mentraktir kami makan dan belanja sepuasnya."


"Persyaratan yang mudah. Aku setuju."


"Deal," ucap Tantri sambil mengulurkan tangan kanannya ingin berjabat tangan dengan Miko.


"Ok. Deal." balas Miko pertanda ia juga sudah menyetujui persyaratan yang diberikan oleh gadis itu. Kedua sudut bibir Tantri terus-terusan saja melengkung ke atas. Ia merasa sangat senang karena Miko menyetujui persyaratannya tanpa protes sedikitpun.


"Hah? Apaan, Kak?" Tantri panik. Ia pun segera menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Miko. Ia sangat penasaran. Kira-kira apa gerangan yang membuat Miko terlihat begitu terkejut.


Cup.


Kecupan lembut mendarat dipipi chubby milik Tantri. Matanya melebar. Gadis itu menyentuh pipinya yang baru saja dikecup oleh Miko. Ia begitu terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari pria dewasa yang duduk di depannya. Ternyata Miko hanya mengelabuinya untuk mencuri kecupan di pipinya.


Miko mengulas senyum di wajahnya. Ia merasa sangat bahagia sekali sore itu karena ia berhasil mengelabui gadis kesayangannya. Hal tersebut berbanding terbalik dengan gadis yang ia cium pipinya barusan. Tantri merasa sangat kesal sekaligus sangat malu sekali saat itu. Berani-beraninya laki-laki itu mencium pipinya tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.


"Kak Miko, ih ... berani-beraninya menciumku." Tantri meraih bantal hendak memukul Miko menggunakan bantal tersebut. Namun saat tangannya hendak melayangkan bantal tersebut ke arah Miko, dengan cepat Miko menangkap kedua tangannya lalu mencium pipi Tantri yang sebelahnya lagi. Tantri semakin geram sekaligus malu dengan perlakuan Miko. Pasalnya baru kali ini ada laki-laki yang mencium pipinya.


"KAK MIKOOO!" pekik Tantri.


"Kenapa, sayang? Masih minta tambah? Hem," goda Miko sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.


"NGGAK! Keluar sana! Dasar nyebelin!" teriak Tantri. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus karena malu akibat ulah Miko.


"KELUAR! Kenapa sih, Kak Miko berani bersikap kurang ajar ke aku? HAH!" teriak Tantri lagi sambil mendorong tubuh Miko agar segera keluar dari kamarnya.


"Aku cuma mencium pipi calon istriku. Apanya yang kurang ajar? Lagi pula itu tidak berbahaya sama sekali."


Tantri melongo mendengarkan ucapan Miko. Mungkin Miko berpendapat seperti itu tapi tidak demikian dengan Tantri. Seumur hidup, baru kali ini ia dicium oleh lawan jenis. Namun yang membuat Tantri semakin kesal adalah tidak adanya perasaan bersalah maupun perasaan menyesal yang tersirat di wajah laki-laki yang telah mencium pipinya itu. Yang ada hanya senyuman manis dan bahagia yang tergambar jelas di wajahnya setelah ia berhasil mengecup pipi gadis kesayangannya sebanyak dua kali.


"Jangan marah dong. Nanti cantiknya luntur," goda Miko sambil menangkap kedua tangan Tantri yang mendorong tubuhnya.


"Lepasin tangan aku, Kak! Sana, cepetan keluar!"


"Keluar nggak. Keluar!" kata Tantri sambil terus mendorong tubuh Miko. Namun laki-laki itu terlalu kuat. Tidak ada sedikit pun gerakan yang ditimbulkan oleh dorongan Tantri.


"Aku akan keluar sendiri nanti tanpa perlu kamu dorong atau pun kamu seret. Tapi asal kamu tahu, itu tadi balasan karena kamu tega meninggalkanku yang sedang tertidur pulas di kantor," jelas Miko.


"Ih, Kak Miko nyebelin banget sumpah. Dasar pendendam!" Miko hanya tertawa melihat Tantri yang sangat kesal karena ulahnya. Ia pun segera keluar dari kamar itu tanpa perlu diseret dan diusir lagi. Sementara itu Tantri terus saja mengatai Miko dalam hatinya. Hari itu seharian Miko benar-benar telah menguji kesabarannya.