
Tantri baru saja keluar dari gerbang sekolahnya. Terlihat Miko sudah menunggunya di dalam mobil. Beberapa bulan lalu gadis itu sudah selesai magang di restoran Miko, dan tinggal menunggu beberapa minggu lagi dia akan ulangan penaikan kelas.
Rencananya, nanti setelah Tantri lulus tahun depan, Miko akan segera menikahinya. Hal itu sudah disepakati oleh dua belah pihak keluarga mereka masing-masing, dan Tantri pun tidak keberatan setelah mengetahui hal tersebut. Biar bagaimana pun, gadis itu juga sudah sangat mencintai Miko.
"Tri, kamu mau kita jalan-jalan dulu atau langsung pulang ke rumah?"
Miko bertanya setelah Tantri masuk ke dalam mobil.
"Langsung pulang aja deh, Kak. Aku mau belajar, bentar lagi 'kan aku ulangan."
"Ya sudah. Pulang ke mana dulu kita? Pulang ke rumah ibu atau ke rumah Raisya?"
Miko tahu kalau Tantri selalu ingin melihat keponakannya itu setiap hari.
"Ke rumah Raisya dong, Kak. Aku pengen ketemu sama Raisya dulu, setelah itu baru aku baru belajar."
...________...
Setelah mandi dan membersihkan diri, Tantri pun segera masuk ke dalam kamar Raisya. Ternyata bayi mungil tersebut sedang terlelap.
"Kamu tidur mulu sih kerjaannya. Kapan bangunnya? Aunty 'kan pengen ngajak kamu main, Sayang."
Tantri mengelus-elus pipi baby Raisya menggunakan punggung jari telunjuknya.
"Waktu tidur bayi dengan orang dewasa ternyata terbalik, ya?" kata Miko, sambil memperhatikan Tantri dan baby Raisya.
"Kata dokter sih emang gitu, Kak. Katanya, itu karena bayi belum bisa bedain mana siang mana malam."
"Kamu kok bisa tahu?" tanya Miko, sambil tersenyum menatap Tantri.
"Karena kemarin aku dengerin langsung dokternya ngomong gitu."
Miko mengulum senyum. "Oh. Kirain."
"Kirain apa?"
Tantri mendongak menatap Miko, calon tunangannya tersebut.
"Tidak. Tidak apa-apa."
Miko masih mengulum senyumnya. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan.
"Ih, apa sih? Kak Miko gaje banget. "
Setelah puas melihat baby Raisya, Tantri pun memutuskan untuk belajar, ditemani oleh Miko.
..._________...
Pada waktu malam hari setengah jam setelah masuk waktu isya. Ponsel Tasya tiba-tiba berdering, panggilan dari Tama, kakak laki-lakinya.
📱 Tasya :
Assalamu'alaikum, Kak.
^^^📱 Tama :^^^
^^^Wa'alaykum salam.^^^
^^^Raisya sudah tidur?^^^
📱Tasya :
Iya, Kak.
Bentar lagi dia bakalan bangun
buat begadang.
Setelah mengobrol basa-basi, Tama pun menyampaikan maksud dan tujuan utamanya dia menelepon adiknya tersebut.
^^^📱 Tama :^^^
^^^Dek, Kakak sudah membuat^^^
^^^rencana untuk tanggal pernikahan^^^
^^^Kakak dengan Dewi.^^^
📱Tasya :
Oh, ya?
Aku seneng banget dengarnya, Kak.
Jadi kapan?
^^^📱 Tama:^^^
^^^bulan depan.^^^
..._______...
1 Bulan lebih kemudian.
Kini Tama dan Dewi sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Pesta pernikahan mereka diselenggarakan di sebuah gedung dan dihadiri oleh kerabat terdekat, para tetangga, teman, dan para kenalan.
Tasya tidak menghadiri pesta pernikahan kakak kandung dan sahabatnya tersebut, dikarenakan baby Raisya masih sangat kecil, baru berusia 2 bulan. Takutnya terjadi apa-apa jika bayi mungil itu dibawa ke tempat keramaian, ditambah lagi suara berisik musik yang mengirim pesta tersebut.
Radit dan Tania sedang naik ke pelaminan untuk berselfie ria bersama kedua mempelai. Setelah mengambil beberapa gambar, mereka pun mengobrol sedikit. Kebetulan tamu yang datang sudah agak sepi dikarenakan memang sudah sore dan sebentar lagi acaranya memang akan usai.
"Dek, kalian berdua buruan punya momongan gih, takutnya nanti keduluan sama kita," kata Tama, sambil tersenyum. Sedangkan Dewi hanya menunduk malu-malu.
"Aku sih sejak lama udah pengen, Kak. Tapi Nia nya yang gak mau," kata Radit.
"Aku belum siap punya anak, Kak," ucap Tania.
"Loh, terus kapan kamu siap? Apa kamu mau didahului oleh kakak ipar kamu? Hem?"
"Ck, Kak Tama ih. Memangnya kita sedang mengikuti perlombaan apa? Gak, 'kan?" Tania membela diri sendiri.
"Memang kita tidak sedang mengikuti perlombaan, Dek, tapi dengan kehadiran seorang anak di dalam sebuah rumah tangga, tentunya akan semakin menambah kebahagiaan. Coba lihat Tasya sama Hendra sekarang, mereka semakin bahagia 'kan dengan kehadiran Raisya."
"Iya juga sih."
Tania mencoba memikirkan ucapan Tama. Sepertinya ucapan kakak laki-laki satu-satunya itu ada benarnya juga.
Bukan hanya dari Tama, sebelumnya Tania juga pernah mendapat nasehat dari beberapa orang. Dari Tasya, ibunya, ibu mertuanya, tantenya, juga beberapa orang temannya yang sudah menikah muda sama seperti dirinya.
Apa sebaiknya aku menuruti kemauan Radit aja kali ya. Orang-orang juga sudah banyak yang mendukung agar kami segera punya anak. Batin Tania.
..._________________...
Rumah Radit dan Tania.
Saat malam hari sepulang dari pesta. Usai mandi dan membersihkan diri, Tania berdiri sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
Usai melakukan skincare malam rutinnya, dia pun segera mengganti piyama tidurnya dengan baju tidur yang lebih terbuka. Mumpung saat itu Radit sedang berada di dalam kamar mandi, jadi dia bisa lebih leluasa mempersiapkan diri.
Begitu dirinya sudah siap untuk mempersiapkan diri untuk acara malam ini, Tania pun segera duduk di pinggir tempat tidur untuk menunggu Radit keluar dari kamar mandi.
Beberapa menit kemudian. Radit keluar dari kamar mandi. Dia begitu terpesona melihat penampilan istrinya malam ini.
Tania menggerakkan jari telunjuknya memanggil Radit untuk berjalan ke arahnya.
Radit menelan salivanya, lalu berjalan menghampiri istrinya.
"Sayang, tumben kamu memberiku kejutan."
"Kamu suka, Dit?" tanya Tania.
"Tentu saja, Sayang. Sering-seringlah seperti ini. Aku suka kalau kamu yang berinisiatif duluan."
Keduanya pun lalu melakukan pemanasan. Saat Radit sudah sangat siap melanjutkan pertempuran, dia mencari sesuatu di dalam laci. Sesuatu yang menjadi kewajiban sebelum dia memulai acaranya dengan Tania.
Mereka berdua menyebut benda tersebut sebagai tiket (pengaman). Jika Radit tidak punya tiket, maka Tania tidak akan mengijinkannya masuk.
Saat Radit tengah merobek kemasan tiketnya, Tania malah mencegahnya.
"Tidak usah pakai tiket." Tania menggeleng pelan sambil mencegah tangan Radit.
"Kenapa, Sayang?" tanya Radit, Heran.
Dengan malu-malu Tania menjawab, "Simpan saja. Aku sudah siap."
Mendengar hal itu Radit menjadi sangat senang. Seketika semangatnya menjadi menggebu-gebu.
"Benarkah, Sayang. Aku senang sekali mendengarnya."
Cup. Radit mencium kening Tania sebelum akhirnya dia mulai menjamah istrinya.
.
.
1 Bulan berlalu semenjak kejadian malam itu, Tania akhirnya menghadiahi Radit dengan tespek garis dua.
Radit merasa sangat senang istrinya itu akhirnya hamil anaknya. Begitu pun dengan keluarga yang lainnya. Terutamanya bu Risna yang memang sudah sangat lama menantikan kehadiran cucu pertamanya.
Semenjak Tania hamil, Radit dan bu Risna begitu memanjakannya. Mereka memperlakukan Tania bak seorang ratu saja. Dilayani dengan sangat baik, dan dituruti semua keinginannya.
Kalau tahu akan diperlakukan seperti ini, aku pasti sudah lama hamil. Batin Tania.