
Keesokan harinya.
Sekitar jam 7 pagi, Hendra sudah datang menjemput Tasya menggunakan mobilnya. Tasya dan bu Indah memang sudah menunggunya di teras rumah mereka.
Sebelum mereka berangkat, Hendra turun hanya sekedar untuk menyapa calon ibu mertuanya tersebut sebagai penghormatan kepada beliau.
"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Hendra, lalu meraih tangan bu Indah untuk bersalaman.
"Wa'alaikum salam," jawab bu Indah.
Sementara itu Tasya diam saja, dia menjawab salam Hendra dalam hati. Entah mengapa kali ini berbeda dengan yang kemarin, pagi ini gadis itu merasa agak malu-malu dan canggung pada calon suaminya tersebut.
"Duduk dulu, Nak Hendra," kata bu Indah.
"Tidak usah, Bu. Sebaiknya kami berangkat sekarang, takutnya nanti Tasya terlambat masuk kuliah."
"Ya sudah, kalau begitu kalian hati-hati di jalan."
Tasya dan Hendra pun kemudian berangkat. Di perjalanan, Hendra sesekali melirik Tasya yang diam saja sedari tadi sambil tersenyum.
"Nanti kamu masuk kelas jam berapa?" Hendra mulai membuka pembicaraan.
"Jam 9," jawabnya singkat.
"Berarti kita masih punya waktu sekitar hampir 2 jam lagi. Lumayanlah, sebentar lagi kita sampai," kata Hendra sambil melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya.
Aku sebaiknya memberikan beberapa pertanyaan padanya sekarang. Sekarang adalah waktu yang tepat. Batin Tasya.
"Mm ... Kak Hendra, aku boleh nanya sesuatu gak?" Tasya memberanikan diri untuk bertanya.
"Boleh lah. Bertanyalah sesukamu pada calon suamimu ini." Hendra tersenyum setelah menjawab pertanyaan Tasya. Mendapatkan gelar sebagai calon suami gadis itu benar-benar membuatnya merasa sangat bahagia dan bangga.
"Mm ... kenapa Kak Hendra cepat sekali melamar saya?" tanya Tasya pelan.
Hendra mengerutkan dahinya sembari menatap sejenak ke arah calon istrinya tersebut.
"Apanya yang kamu bilang cepat sekali? Menurutku ini tidaklah cepat. Apa kamu lupa kalau aku sudah hampir 3 tahun mengejarmu. 3 Tahun bukanlah waktu yang sebentar."
Tasya kembali terdiam setelah mendengar jawaban Hendra. Setelah itu, dia kembali bertanya.
"Kenapa Kak Hendra mau menikahiku?"
"Apa itu masih perlu kamu tanyakan? Hm?"
Tasya terdiam, lalu menunduk. Sebenarnya dia bingung harus menanyakan apa pada calon suaminya tersebut.
"Apakah perjuanganku selama ini belum cukup untuk membuatmu yakin kalau aku ini sangat mencintaimu? Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku begitu yakin kalau kita ini berjodoh sejak pertama kali kita bertemu? Apa kamu lupa itu? Aku kan sudah pernah menceritakannya padamu waktu itu."
"Kenapa Kak Hendra begitu yakin? Apakah Kak Hendra tau kalau saya gak punya perasaan apa-apa sama Kak Hendra?" tanya Tasya.
"Aku tahu. Kamu hanya belum mencintaiku saja. Belum bukan berarti tidak akan pernah bukan? Kamu hanya belum mengenalku dengan baik karena sebelumnya kamu tidak pernah memberikanku kesempatan untuk dekat denganmu. Aku yakin, saat kamu sudah mengenalku dengan baik nantinya setelah kita menikah, kamu tidak akan pernah mau jauh-jauh dariku." Hendra berkata dengan begitu percaya diri.
Idih, pede banget. Batin Tasya.
"Kenapa Kak Hendra begitu yakin kalau saya akan seperti itu?"
"Tentu saja aku harus yakin. Segala hal itu, memang harus didasari dengan keyakinan. Begini saja, nanti kamu akan lihat buktinya setelah kita menikah. Aku akan mengajarimu bagaimana cara mencintaiku." Hendra kembali tersenyum setelah mengatakannya.
Itu lagi, apa dia pikir jatuh cinta semudah itu? Aku aja yang udah 21 tahun hidup di dunia ini, baru 1 kali merasakan yang namanya jatuh cinta. Batin Tasya.
"Apa kamu pernah pacaran?" tanya Tasya penasaran.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu itu. Tapi aku ingin kamu tahu dulu sedikit fakta tentang diriku," jawab Hendra.
Pemuda itu pun mulai bercerita. "Dulu, sebelum bertemu denganmu, aku tinggal di kota Kartaja hingga 1 tahun setelah lulus kuliah. Dulu di kampus, aku seorang playboy. Anehnya, meski pun hampir semua orang tahu kalau aku ini seorang playboy, tapi tetap saja banyak gadis di kampus yang mengantri untuk menjadi pacarku. Ya aku pacari saja semuanya yang cantik-cantik. Hehe. Hingga akhirnya aku pulang ke sini karena waktu itu mama sedang sakit. Tadinya aku berencana untuk tinggal selama seminggu saja, tapi setelah aku melihatmu waktu itu di toko om Rahmat, aku menjadi tidak ingin lagi kembali ke Kartaja. Semua pacar-pacarku di sana langsung aku putuskan detik itu juga karena aku ingin mengejarmu. Karena saat itu aku begitu yakin bahwa kamu adalah jodohku, aku rela melakukan apa pun agar akubisa mendekatimu. Tapi anehnya, aku pertama kali mendapatkan perlakuan dingin dari seorang wanita itu pertama dari kamu, aku tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya oleh seorang wanita. Akhirnya aku tersadar, kalau kamu itu berbeda."
"Oh jadi cuma karena saya berbeda makanya Kak Hendra mengejarku, begitu?"
"Tidak, bukan begitu. Meskipun kamu sama seperti mereka, aku akan tetap menyukaimu. Seandainya kamu dulu meresponku dengan cepat, aku pasti sudah menikahimu sejak lama."
"Jadi gimana sekarang nasib pacar-pacar, eh bukan, mantan-mantan Kak Hendra maksudnya?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah mendengar kabar mereka lagi setelah kami putus. Yang jelas, yang harus kamu garis bawahi sekarang adalah, bahwa kamu itu punya banyak saingan."
Elah, pede amat. Tasya bergumam dalam hati.
"Apa Kak Hendra pernah benar-benar jatuh cinta sebelumnya?" Tasya benar-benar penasaran ingin tahu banyak hal mengenai calon suaminya tersebut.
"Tentu saja. Aku dulu pernah sangat mencintai seseorang. Dia cinta pertamaku. Aku rela melakukan apa pun demi dia. Hingga pada suatu ketika, aku tidak sengaja memergokinya berselingkuh. Aku sangat sakit hati dan sangat kecewa dikhianati. Dan semenjak saat itu, aku memutuskan untuk tidak setia. Aku pikir dengan menjadi playboy aku bisa membalasnya, membalaskan sakit hatiku."
"Membalas? Maksudnya?"
Tasya tidak mengerti karena dia tidak terlalu berpengalaman tentang cinta.
"Ya, aku mau membuktikan padanya kalau aku juga bisa memacari banyak gadis secantik dia dan dia tidak berarti apa-apa lagi untukku."
Serumit itukah cinta? Untung aja dulu aku gak pernah berpacaran. Jadinya ... ya gak bisa dipungkiri aku juga pernah benar-benar mencintai seseorang, meskipun kami gak pernah terikat status apa pun, tapi hatiku juga terasa sangat sakit harus berpisah dengannya.
Setelah memasuki toko, Tasya mulai mencoba satu per satu menyematkan cincin di jari manis kanannya.
"Bagaimana, kamu suka yang itu?" tanya Hendra.
Tasya mengangguk. Gadis itu memilih cincin emas polos seberat 3 gram. Sama halnya dengan Tasya, Hendra juga memilih satu cincin yang cocok untuk disematkan di jarinya.
"Kak, apakah saya bisa meminta dituliskan nama saya dan nama istri saya di bagian dalam cincinnya?" Hendra bertanya pada penjaga toko.
Hei, aku masih calonmu tau, belum jadi istrimu. Tasya melakukan aksi protes dalam hati.
"Bisa, Kak, tapi inisialnya saja. Dan Kakak juga harus menunggu selama 1 jam lagi baru cincinnya bisa Kakak ambil," jelas penjaga toko.
"Baiklah, Kak, tidak apa-apa, kami akan menunggunya."
"Silahkan Kak urus dulu pembayarannya di sebelah sana beserta inisial yang mau diukir," kata penjaga toko tersebut sambil menunjuk ke arah kasir.
Setelah selesai mengurus pembayaran, Hendra memutuskan untuk mengajak Tasya berbelanja.
"Ayo kita belanja. Pilihlah sesukamu, dan jangan sungkan, karena sebentar lagi kamu akan menjadi istriku. Jadi semua kebutuhanmu akan menjadi tanggung jawabku seutuhnya."
Tasya hanya menurut dan memilih beberapa lembar baju, rok dan hijab yang sesuai dengan..selera berpakaiannya. Hendra juga memilih beberapa lembar baju kaos dan kemeja untuk dirinya sendiri. Setelah beberapa saat memilih-milih pakaian. Hendra tidak sengaja menemukan pakaian tidur wanita yang terjejer rapi di dalam toko.
"Shuut. Apa kamu mau ini?"
Hendra mengangkat satu buah pakaian tidur wanita yang sek*i dan terbuka lalu menunjukkannya pada Tasya.
"Ah, gak mau. Baju macam apa itu? Sama juga bohong." Tasya menolak. Wajahnya berubah menjadi merah karena malu.
Hendra mengulum tawa melihat reaksi calon istrinya.
"Aku akan membelikan semua warna untukmu. Pakailah nanti setelah kita menikah."
"Gak. Gak usah dibeli, aku gak mau pakai baju tidur yang seperti itu. Titik."
Dengan perasaan kesal, Tasya melangkah meninggalkan Hendra.
Biasanya gadis itu mengenakan pakaian tidur celana panjang dan baju lengan panjang. Dia merasa sangat malu membayangkan dirinya harus mengenakan pakaian tidur kekurangan bahan seperti tadi.
Setelah selesai belanja dan mengambil cincin pesanan mereka, Hendra pun mengantar Tasya ke kampus. Setengah jam lagi pelajaran dimulai.
Setelah sampai di depan kampus.
"Makasih," ucap Tasya sambil melepas safety belt.
"Tidak usah berterima kasih, ini memang sudah menjadi bagian dari tugasku, mengantar calon istriku pergi ke kampus. Toh sebentar lagi ini akan menjadi rutinitasku."
"Kalau begitu saya masuk dulu, ya, Kak Hendra hati-hati dijalan."
"Nanti dulu. Aku masih mau sama kamu. Lagipula, masih ada waktu setengah jam lagi, kan?"
Tasya menurut. Dia tidak jadi keluar dari mobil.
"Aku lapar, tadi aku buru-buru berangkat karena aku takut kamu terlambat, jadi aku tidak sempat sarapan di rumah." Hendra berkata sambil mengelus-elus perutnya.
"Kak Hendra mau makan? Ayo kita ke kantin," ajak Tasya.
"Boleh."
Sesampainya di kantin.
"Kamu kenapa tidak memesan makanan?" tanya Hendra.
"Gak usah, Kak. Saya masih kenyang."
"Oh, mau aku suapin?"
Tasya menggeleng. "Gak, gak. Kak Hendra aja yang makan. Saya masih kenyang."
"Ayolah, satu kali suapan saja. Ya." Hendra sedikit memaksa.
"Mm ... ya udah deh, satu kali aja ya."
Tasya membuka mulutnya lalu disuapi oleh Hendra. Pemuda itu tersenyum bahagia hanya karena hal sepele seperti itu.
"Sekarang giliran Kak Hendra yang makan," ujar Tasya setelah menelan makanannya.
"Minumnya juga dong, aku mau memakan dan meminum sisa istriku."
"Calon," protes Tasya, lalu menghisap sedotan es jeruk yang tadinya dia pesan untuk Hendra.
"Iya, aku tahu. Tapi aku lebih suka menyebutmu istriku ketimbang calon istri," jelas Hendra, lalu tersenyum.
" Sebaiknya Kak Hendra makan sekarang, karena sebentar lagi saya masuk kelas."
Dilihat dari caranya memperlakukanku sepertinya dia akan menjadi suami yang baik, penuh perhatian dan penyayang.