How To Love You

How To Love You
Bab 120



Setelah mereka masuk, Fathur belum memperhatikan kedua mempelai yang berdiri diatas pelaminan sana. Ia hanya terkejut saat melihat Papa dan Mamanya juga ada disana. Saat ia penasaran dan ingin melihat ke arah sang pengantin, perhatiannya bersama seluruh tamu yang ada diruangan besar nan luas tersebut dialihkan oleh seorang pemuda yang sedang menyapa diatas panggung sana.


"Assalamu'alaikum semuanya. Selamat sore!" sapa Radit yang berdiri diatas panggung menggunakan microphone.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh." jawab semua orang yang ada didalam ruangan itu secara serentak.


"Itu kan, Radit! Apa jangan-jangan?" batin Fathur.


Perasaan Fathur mulai tidak enak.


"Sebelumnya, saya ingin mengucapkan selamat pada, Kak Hendra dan Kak Tasya. Selamat atas pernikahan kalian. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Langgeng sampai kakek nenek. Dikaruniai anak yang sholeh dan sholeha. Aamiin."


Mendengar nama Tasya dan Hendra disebutkan, hati Fathur terasa tercubit. Seketika raut wajahnya yang tadi biasa saja kini berubah menjadi pias.


"Seandainya aku tau, Fani mau datang ke pesta mereka, aku tidak mungkin mau ikut dengannya. Aku akan mencari alasan untuk tidak menemaninya datang ke acara ini." batin Fathur.


Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ia ingin pergi meninggalkan tempat itu, tapi ia tidak mau membuat istrinya kecewa. Ia juga tidak punya alasan yang masuk akal untuk ia berikan pada istrinya agar ia bisa meninggalkan tempat itu saat itu juga. Namun, jika ia tetap berada disana, ia juga tidak sanggup melihat orang yang ia cintai bersanding dengan laki-laki lain diatas pelaminan. Meskipun ia tahu sendiri kalau akad nikah Tasya dan Hendra sudah diselenggarakan hampir 2 bulan yang lalu. Namun ia belum bisa menerima kalau ia mesti melihatnya secara langsung. Ia takut usahanya selama ini untuk mencintai istrinya akan sia-sia. Ia takut terbawa perasaan saat melihat mantan calon istrinya tersebut dari dekat.


"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa perasaanku jadi kacau begini? Aku harus bisa menguasai diri. Aku tidak boleh membuat Fani curiga padaku." batin Fathur.


Sementara itu, Radit diatas panggung sedang menyanyikan sebuah lagu yang ia persembahkan spesial untuk Tania. Lagu itu mencurahkan isi hatinya pada gadis pujaan hatinya tersebut.


Aku yang slalu ada untukmu


Slalu memberikanmu cintaku


Tak bisakah kau merasakan itu


Hingga kau pun mencintaku


Cintaku yang slalu ada untukmu


Tak usah kau pernah ragukan itu


Hingga ku tak bisa bila kau pergi


Jauh meninggalkanku


Aku disini untuk kamu


Jangan pernah berfikir


Tuk meninggalkanku


Sendiri tanpa kamu


Aku disini untuk kamu


Jangan pernah berfikir


Tuk pergi dariku


Walau hanya sesaat


Ku tak bisa hidup tanpa dirimu


(Aku Disini Untuk Kamu-Angga Yunanda)


Sementara Radit sedang menyanyikan lagu Angga Yunanda diatas panggung, Fani mengajak Fathur untuk menghampiri Pak Rahman dan Bu Susi. Papa dan Mamanya Fathur sekaligus Ayah dan Ibu mertua dr. Fani.


Bu Susi terkejut melihat anaknya juga ada disana. Sementara menurut Pak Rahman hal itu wajar-wajar saja. Karena ia dan Pak Rudi adalah saudara sepupu. Jadi wajar saja kalau Fathur ada disana menghadiri pesta pernikahan adik sepupunya.


"Pa, Ma," sapa Fathur dan dr. Fani.


Mereka lalu berpelukan melepas rindu karena sudah beberapa bulan tidak pernah bertemu.


"Kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Bu Susi sambil sesekali melirik Fathur dengan tatapan penuh tanya.


"Mama ini bilang apa sih? Memangnya salah kalau mereka datang ke pesta pernikahan adik sepupu mereka?" tanya Pak Rahman.


Pak Rahman merasa aneh dan heran dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh istrinya tersebut.


"Bukan begitu Pa, maksud Mama, apa mereka diundang datang kesini?"


"Kenapa tidak? Bukankah Fathur dulu cukup akrab dengan Tasya?" balas Pak Rahman.


Pak Rahman tidak tahu apa-apa tentang hubungan antara Fathur dan Tasya dulu. Bu Susi tidak pernah mengatakannya pada suaminya karena ia yakin kalau suaminya pasti akan merestui hubungan keduanya kalau seandainya Pak Rahman mengetahuinya waktu itu. Sedangkan ia sendiri tidak mau memiliki menantu yang tidak selevel dengan keluarganya. Makanya ia memilih untuk menjodohkan Fathur dengan dr. Fani, anak temannya. Yah, meskipun tidak bisa dipungkiri, waktu itu, Tasya juga berperan dalam memilihkan calon istri untuk Fathur.


"Adik sepupu? Jadi istri Hendra itu adik sepupunya, Fathur? tanya Fani bingung.


"Iya. Apa Fathur tidak cerita pada, Nak Fani?" tanya Pak Rahman balik.


Sementara itu Bu Susi sudah tidak mau lagi berkomentar. Ia takut salah bicara yang bisa membuat suami dan menantunya curiga.


"Nggak, Pa. Aku juga baru tau kalo mereka yang menikah setelah aku sampai disini." jelas Fathur.


Fathur tidak mau istrinya tahu tentang hubungannya dengan Tasya di masa lalu. Fathur tidak mau lagi menatap kearah mamanya. Menatap mamanya hanya akan membuatnya mengingat kenangan pahit dimasa lalunya. Bukannya ia benci, tapi perasaan marah dan kesal terhadap orang yang sudah membuat hubungannya dengan gadis yang sangat ia cintai berakhir itu masih ada. Meskipun tidak sebesar dulu.


"Lalu, kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Pak Rahman bingung.


"Oh, kalo soal itu, saya dapat undangan dari Hendra, Pa. Hendra itu sahabat baik saya di SMA dulu." jelas Fani.


"Oh, begitu rupanya." ujar Pak Rahman mengerti.


Fathur terus melihat ke arah mempelai wanita. Ia merasa sangat sedih dan sakit hati melihat orang yang ia cintai terlihat sangat bahagia bersanding dengan orang lain diatas sana.


"Tasya, seandainya Mamaku mau merestui hubungan kita dulu, pasti aku yang berdiri diatas sana bersanding denganmu." batin Fathur sedih.


Diatas pelaminan, Tasya berpamitan sebentar pada Hendra untuk ke toilet. Ia sudah berjam-jam menahan hajatnya hendak buang air kecil. Ia sudah tidak tahan lagi.


"Sayang, aku ke toilet sebentar yah. Aku sudah tidak tahan lagi," ujar Tasya pada Hendra.


"Aku temani yah, sayang."


"Nggak usah, sayang. Kamu disini aja ngobrol sama teman-teman kamu."


"Yah sudah, kamu hati-hati yah!"


"Iya, sayang."


Tasya segera beranjak keluar menuju toilet. Setelah beberapa menit didalam sana, ia pun lalu keluar setelah selesai membuang hajatnya dan merapikan gaunnya.


Saat ia keluar dari dalam toilet, ia sangat  terkejut melihat sosok yang berdiri  dihadapannya. Mulut Tasya seperti terkunci rapat, ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Yang ia rasakan sekarang ialah hatinya terasa sangat ngilu melihat sosok yang sangat akrab baginya berdiri dihadapannya. Laki-laki itu menatapnya dengan wajah sendu dengan mata merah dan berkaca-kaca.


Tatapan laki-laki itu masih tetap sama seperti sebelum-sebelumnya, tidak ada yang berubah sedikitpun pada sorot mata laki-laki itu saat memandang dirinya. Membuat hati Tasya terasa sangat sakit sekali melihatnya.


Terbesit kenangan mereka beberapa bulan silam, saat mereka ingin meminta restu pada mama laki-laki tersebut. Kenangan pahit itu secara otomatis terputar kembali dipikiran mereka berdua. Disitulah awal berakhirnya kisah cinta mereka. Dan juga kenangan saat mereka berdua terpaksa harus mengakhiri hubungan mereka karena tanggal pernikahan laki-laki itu sudah ditetapkan pun otomatis ikut terputar.


"Tasya, apa, kabar?" tanya laki-laki tampan itu lirih dengan suara bergetar menahan tangis.