How To Love You

How To Love You
Bab 161



Adzan ashar berkumandang di ponsel milik Tantri, membuat Miko terjaga dari tidurnya sore itu. Pelan-pelan Miko bangun sambil menguap dan mengucek sepasang matanya.


Saat Tantri keluar dari kamarnya, ia terkejut saat melihat sosok laki-laki yang ia kepoi tadi itu terbangun.


"Astagfirullah. Ternyata Kak Miko, ngagetin aja." ucap Tantri.


Miko hanya tersenyum menanggapinya. Setelah Tantri berlalu masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu, Miko pun menyusul. Ia juga ingin mencuci wajahnya yang masih terasa ngantuk sehabis bangun tidur.


Miko dengan wajah khas bangun tidurnya mengarahkan pandangannya ke arah gorden dekat pintu kamar Tania. Ia menunggu penghuni kamar tersebut keluar untuk mengambil air wudhu sama seperti yang dilakukan oleh Tantri. Karena yang ditunggu tidak kunjung keluar juga, ia pun menanyakan Tania pada Tantri setelah gadis itu keluar dari kamar mandi.


"Tantri, Tania kemana?" tanya Miko tanpa basa-basi.


"Kak Tania lagi jalan sama Kak Radit." jawab Tantri.


"Oh." ucap Miko dengan nada sedikit melemah karena kecewa.


Padahal tadinya Miko sudah senang karena menurutnya ia akan punya kesempatan lebih banyak untuk dekat dengan Tania. Miko menghembuskan napasnya kasar lalu beranjak masuk kedalam kamar mandi.


Tantri semakin yakin kalau Miko menyukai kakaknya, Tania. Ia kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat mereka sama-sama pergi ke Kota SKG. Ia memergoki Miko selalu mencuri pandang ke arah Tania saat mereka sama-sama berkunjung ke kamar Bu Indah dan Pak Rudi di hotel tempat mereka menginap waktu itu.


Usai shalat ashar, Bu Indah menyuruh Tantri untuk pergi memanen jagung manis di kebun milik mereka karena beliau tidak sempat. Ia masih punya banyak pekerjaan di kebun belakang rumahnya. Tantri memang sudah seperti anak laki-laki, ia bisa melakukan apa saja yang diperintahkan oleh ibunya.


Tantri berjalan keluar sambil membawa selembar karung yang sudah terlipat rapi di tangannya. Ia mendapati Miko sedang duduk sendiri di kursi teras karena Hendra dan Tasya belum juga bangun. Tantri pun berniat mengajak Miko untuk menemaninya ke kebun sekalian mengajak Miko jalan-jalan keliling di desanya.


"Kak Miko!" panggil Tantri.


"Iya, apa?" sahut Miko.


"Ikut aku yuk!" ajak Tantri.


"Kemana?" tanya Miko lagi.


"Jalan-jalan, keliling kampung. Mau nggak?" jawab Tantri.


"Boleh, ayo!" seru Miko antusias.


Miko merasa sangat senang karena Tantri mengajaknya jalan-jalan. Dari tadi ia memang sudah bosan dirumah terus karena Tania gadis pujaan hatinya itu ternyata keluar bersama pacarnya saat ia sedang tertidur. Pak Rudi sedang ada di sawah, sedangkan yang lainnya masih tertidur.


Miko dan Tantri jalan-jalan menggunakan skuter matic kesayangan milik Tantri. Miko sangat menikmati keindahan alam yang disuguhkan di desa itu. Di kotanya, ia tidak mungkin menemukan kesejukan di sore hari seperti saat ini. Yang ada hanya pengap dan polusi dimana-mana.


"Kak Miko mau ikutan masuk atau mau nunggu disini aja?" tanya Tantri.


"Aku ikut masuk aja deh." jawab Miko.


Mereka pun lalu masuk bersama ke kebun itu.


"Tunggu disini yah, Kak. Jangan kemana-mana! Biar aku yang masuk metik jagungnya." titah Tantri menyuruh Miko menunggunya di pinggir kebun.


Tantri pun kemudian membelah barisan tanaman jagung yang berjejer rapi dan teratur itu. Miko tidak mengindahkan ucapan Tantri, ia berjalan masuk mengekori Tantri yang memilih-milih jagung satu per satu yang sudah layak untuk dipetik. Tantri mendengus kesal saat menyadari kalau Miko ikut dibelakangnya.


"Yah Allah, Kak. Ngapain Kak Miko ikutan masuk?" tanya Tantri.


"Aku kan juga penasaran gimana caranya metik jagung," jawab Miko.


Tantri geleng-geleng kepala mendengarkan jawaban Miko. Ia punya alasan sendiri kenapa ia melarang miko untuk ikut masuk kedalam barisan tanaman jagung itu bersamanya. Ia tidak mau Miko gatal-gatal hanya karena kulitnya menyentuh daun jagung karena Miko kesana hanya mengenakan baju kaos lengan pendek beserta celana jeans selutut. Berbeda dengan Tantri yang sudah jelas memakai pakaian serba panjang karena ia berhijab.


"Aku nggak tanggung jawab yah Kak kalau Kak Miko gatal-gatal," ucap Tantri lalu kembali memetik jagungnya satu per satu lalu memasukkannya kedalam karung yang ia bawa.


"Masa sih? Memangnya jagung gatal, yah?" tanya Miko.


"Yah enggak lah Kak. Emang Kak Miko pernah liat jagung  ngegaruk-garuk?" canda Tantri masih sempat-sempatnya.


"Kamu ini, malah bercanda. Aku serius nanya," jelas Miko.


"Daunnya itu loh Kak yang bikin gatal-gatal, bukan jagungnya." jelas Tantri.


"Oh, gitu." ucap Miko mengerti.


Beberapa saat kemudian,


"Eh, iya beneran. Pipiku mulai gatal nih," ujar Miko sembari menggaruk pipinya yang terasa gatal.


"Tuh kan, aku bilang juga apa. Sana cepetan keluar." titah Tantri.


Miko pun buru-buru keluar, karena wajah, tangan sampai lengan beserta betisnya sudah mulai terasa gatal karena menyentuh daun-daun jagung yang ia lewati tadi.