
Usai membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan sang ibunda. Miko kembali ke kamarnya dengan wajah yang berbinar. Entah apa yang mereka bicarakan tadi didalam sana. Yang jelas wajah Miko tampak sangat berseri-seri. Senyum bahagia terus saja mengembang di wajahnya.
Miko menghentikan langkahnya saat berada tepat didepan pintu kamar Tantri. Laki-laki itu pun segera memutar gagang pintu ingin melihat keadaan penghuni didalamnya. Saat pintu sudah terbuka hampir setengahnya, Miko melihat Tantri sedang bersiap-siap untuk menunaikan ibadah sholat maghrib.
Tinggal menunggu waktu beberapa saat lagi. Kamu tidak akan sholat sendirian lagi. Aku yang akan menjadi imammu kelak. Batin Miko sambil tersenyum bahagia lalu kembali menutup pintu kamar Tantri dengan rapat.
Jam menunjukkan 5 menit lagi jam 7 malam. Itu menandakan bahwa sebentar lagi jadwal makan malam rutin dirumah mewah itu akan segera di mulai. Miko dan Tantri keluar dari kamar mereka masing-masing secara bersamaan.
Tidak seperti biasanya, entah mengapa kali ini lidah keduanya terasa keluh untuk saling bertegur sapa. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua. Sejenak mereka saling mengadukan pandangan namun Tantri segera memutus kontak mata mereka dengan menundukkan pandangannya. Gadis itu pun buru-buru berjalan menuju tangga. Ia merasa malu dan canggung dengan calon imamnya tersebut.
Miko tersenyum menatap punggung gadis itu yang semakin lama menjauh dari pandangannya. Ia tahu kalau gadis itu pasti merasa malu padanya karena perjodohan itu. Apalagi setahunya calon masa depannya itu tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan laki-laki mana pun. Berbeda dengan dirinya yang sudah pernah berpacaran selama beberapa kali.
Sesampainya dilantai bawah, Tantri melihat kali ini meja makan lebih ramai dari sebelumnya. Sepertinya bertambah 3 orang peserta. Sepertinya mereka sepasang suami istri dan anaknya yang masih berusia kira-kira 3 tahun setengah.
Bu Melda menyadari kehadiran Tantri. Ia pun segera memanggilnya setelah melihat gadis itu berdiri mematung tidak jauh dari tangga.
"Tantri! Ayo sini, sayang! Jangan malu-malu," panggil Bu Melda.
"I-iya, Tante." Tantri pun segera berjalan menghampiri mereka yang sudah duduk di meja makan.
"Oh iya. Tantri, kamu kenalan dulu sama mereka," ujar Bu Melda. Sepasang suami istri itu pun menyambut uluran tangan Tantri dengan senyuman ramah.
"Tantri, Kak."
"Vina."
"Ricko."
"Kalau adik kecil ini siapa namanya?" tanya Tantri pada gadis kecil yang duduk di antara ayah dan bundanya.
"Namaku Tiara. Nama, Kakak siapa?" tanya gadis kecil itu sambil membalas uluran tangan Tantri. Tiara meskipun masih berusia 3 tahun lebih tapi gadis itu sudah bisa berbicara dengan lancar dan fasih layaknya anak-anak yang jauh diatas usianya. Dia gadis kecil yang ceria dan sangat aktif.
"Nama Kakak, Tantri." jawab Tantri sambil tersenyum senang melihat gadis kecil yang lucu dan imut itu di depannya. Rasanya ia ingin mencubit pipi gembil milik Tiara yang mirip seperti bapao. Setelah berkenalan dengan ketiga orang tersebut, Tantri pun mengambil tempat duduk di seberang meja ketiganya.
"Mana Miko?" tanya Bu Melda saat Tantri mengambil tempat duduk yang kosong.
"Oh."
Tidak lama kemudian, Miko hadir dan bergabung bersama keluarga besarnya. Ia sengaja mengambil tempat duduk disamping Tantri. Gadis yang ada disampingnya itu hanya menundukkan kepalanya malu-malu.
"Makanlah!" ucap Miko pada Tantri.
"Eh," Tantri mendongakkan kepalanya. Ternyata piringnya sudah diisi dengan nasi lengkap dengan lauk oleh Miko. Cukup lama juga ia menundukkan pandangannya sampai-sampai ia tidak menyadari hal tersebut.
Sejenak Tantri menatap wajah laki-laki disampingnya. Pria itu hanya memasang senyum mautnya. Entah mengapa Tantri dibuat terpesona lagi oleh pria dewasa itu.
"Kenapa? Masih ada yang kurang?" tanya Miko saat melihat Tantri hanya menatapnya saja malah tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Ng-nggak ada, Kak." jawab Tantri lalu mengalihkan fokusnya pada makanan dipiringnya. Ia pun mulai menyantap menu makan malamnya bersama Miko dan keluarga besarnya.
Aduh, apa yang terjadi denganku? Kenapa aku selalu terpana ketika menatap wajah kak Miko? Batin Tantri seraya memasukkan makanan suapan pertama kedalam mulutnya.
Mereka pun kemudian makan tanpa ada yang bersuara sedikitpun karena itu aturan dirumah itu. Tidak ada yang boleh berbicara saat makan. Yang terdengar hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Ketika piring Tantri hampir kosong, Miko meletakkan kembali nasi dan lauk di piring Tantri. Gadis itu tidak sadar kalau ia sedang menggigit sendoknya sendiri menyaksikan perlakuan Miko yang begitu perhatian padanya. Apalagi laki-laki itu melakukannya didepan keluarga besarnya.
Kenapa kak Miko berubah jadi perhatian begini sih? Aku kan jadi baper. Ucap Tantri dalam hatinya sambil menatap pria itu.
"Sendoknya bukan untuk digigit, tapi dipakai buat makan," bisik Miko sembari tersenyum membuat Tantri tersadar dari lamunannya.
Ternyata seperti itu cara adikku menggait hati cewek ABG. Batin Ricko.
Keluarga Miko hanya tersenyum menyaksikan pemandangan didepannya. Miko sudah tidak mau lagi menyembunyikan perasaannya dihadapan kedua orang tuanya atau didepan siapapun. Awalnya ia mencoba menyembunyikannya karena ia takut kedua orang tuanya tidak setuju. Tapi karena kedua orang tuanya beserta kedua orang tua Tantri sudah memberikan lampu hijau, Miko pun memutuskan untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada Tantri secara terang-terangan.
Tadi sore saat Bu Melda mengajak Miko ke kamarnya. Ternyata mereka berdua menghubungi kedua orang tua Tantri melalui sambungan telepon untuk membicarakan mengenai rencana perjodohan tersebut. Dan kedua orang tua Tantri pun tidak keberatan dengan hal tersebut. Bahkan mereka merasa sangat senang karena mereka sudah mengenal sosok Miko dengan baik.
Untuk rencana pertunangan mereka belum membicarakannya. Yang jelas hubungan Miko dan Tantri akan diresmikan setelah gadis itu lulus sekolah. Tapi mereka sepakat untuk tidak mengatakan hal tersebut pada siapapun termasuk Tantri. Mereka tidak ingin gadis itu sampai kepikiran dengan hal tersebut. Mereka ingin Tantri fokus menyelesaikan sekolahnya dulu.