How To Love You

How To Love You
Bab 218



Keesokan harinya, para penghuni rumah itu sudah berkumpul di meja makan kecuali Tantri. Bu Melda dibuat bertanya-tanya, karena biasanya Tantri datang sebelum waktu sarapan di mulai. Bu Melda menyuruh Bi Lastri untuk memanggilnya di kamar tapi Miko mencegahnya.


"Tidak usah, Bi. Pasti dia masih tidur sekarang. Siapa suruh begadang sampai jam 2 dinihari," ucap Miko. Bu Melda dan Pak Afdal mengernyitkan dahi lalu saling pandang.


"Bagaimana kamu bisa tau, Mik kalau Tantri begadang sampai jam segitu? Kamu tidak macam-macam, kan?" tanya Bu Melda menyelidik.


"Tidak mungkin lah, Ma. Mana mungkin aku macam-macam. Tadi malam aku memergokinya online sampai jam segitu jadi aku tahu," jelas Miko.


Oh." ucap Bu Melda sambil membulatkan bibirnya berbentuk hurug O.


"Bi Lastri! Tolong bawakan sarapan untuk Tantri ke kamarnya," titah Bu Melda pada ARTnya.


"Baik, Nyonya." jawab Bi Lastri.


"Tidak usah, Bi. Biar nanti aku saja yang membawakannya," ujar Miko pada ARTnya.


"Kamu perhatian sekali sama calon istrimu, Mik," ujar Bu Melda senang.


"Memang sudah seharusnya kan, Ma," jawab Miko.


"Sudah, nanti saja mengobrolnya. Ayo kita mulai saja sarapannya dulu!" seru Pak Afdal menengahi obrolan keduanya.


***


Miko berjalan memasuki kamar Tantri, ia melihat gadis itu masih betah terlelap dibalik selimutnya. Ia meletakkan menu sarapan yang ia bawa untuk Tantri di atas meja nakas.


Miko kemudian duduk di pinggir ranjang. Ia menatap lekat wajah cantik gadis itu yang terlihat jauh lebih cantik tanpa kain penutup kepalanya.


"Rambutnya ternyata panjang dan lurus," gumam Miko seraya tersenyum. Tiba-tiba ia memiliki ide untuk menjaili gadis yang masih terlelap itu. Ia menarik beberapa helai rambut Tantri dengan pelan. Kemudian ia menyapukan ujung rambut tersebut di lubang hidung Tantri.


Miko mengulum tawanya saat melihat gadis itu menggosok-gosok ujung hidungnya karena merasa geli akibat ulah jailnya. Saat Tantri kembali meletakkan tangannya diatas bantal disamping kepalanya, Miko kembali menjailinya. Kali ini Miko menggerakkan ujung rambut itu lebih cepat dari sebelumnya.


"Ih, apa sih ...." ucap Tantri sambil menggosok ujung hidungnya yang terasa gatal dan geli menggunakan sebelah tangannya. Ia pun lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia merasa sangat malas untuk bangun apalagi hari ini ia diliburkan oleh atasannya.


"Ayo bangun, Tri! Anak gadis kok bagunnya siang. Pantas saja kamu dapatnya calon suami yang usianya jauh lebih tua," ucap Miko sambil terkekeh.


Tantri yang tadinya tidak mau tidurnya diganggu tiba-tiba membulatkan matanya mendengarkan suara Miko. Seketika matanya jadi melek dan rasa kantuknya jadi hilang. Buru-buru ia bangkit dari posisinya. Ia ingin memastikan kalau ia tidak sedang bermimpi. Alangkah terkejutnya saat ia melihat Miko sedang duduk di pinggir ranjang sambil menertawainya.


"Kak Miko ngapain disini?" tanya Tantri dengan ekspressi terkejut.


"Aku kesini mau membangunkan kamu. Masa anak gadis jam segini masih ngorok. Jangan-jangan kamu juga lupa sholat subuh yah," tuding Miko.


"Nggak. Aku bangun kok. Hanya aja abis sholat subuh aku tidur lagi. Soalnya aku masih ngantuk banget," bantah Tantri.


"Siapa suruh kamu begadang?" ucap Miko.


"Nggak ada. Salah matanya sendiri kenapa nggak bisa tidur,"


"Bukan salah mata kamu. Yang salah itu pikiran kamu yang selalu memikirkanku terus sepanjang malam. Jadinya kamu tidak bisa tidur," ucap Miko sambil tersenyum manis.


Blush. Pipi Tantri merona mendengar ucapan Miko. Tapi sebisa mungkin ia masih mau menyangkal.


"Kak Miko apaan sih. GR banget,"


"Auwh sakit. Kak Miko juga ngapain ngawasin aku lagi online tadi malam, hah? Kurang kerjaan banget," tanya Tantri tidak mau kalah.


"Memangnya salah kalau aku mengawasi calon istriku sendiri, hem?" Pertanyaan Miko membuat mulut Tantri terkunci rapat dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Oh iya, jangan lupa habiskan sarapanmu! 15 Menit lagi, aku akan datang lagi kesini," titah Miko sambil beranjak menuju pintu.


"Kak Miko mau ngapain kesini lagi?" tanya Tantri.


"Mau mengajak kamu olahraga bareng. Kamu sudah lama tidak olahraga, kan?" tanya Miko. Tantri hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Nah, itu. Makanya cepat habiskan sarapanmu!" titah Miko lalu berjalan keluar meninggalkan Tantri. Tantri pun kemudian melaksanakan titah laki-laki itu setelah melihatnya keluar dari kamar.


3 Hari Kemudian,


Pagi itu Miko dan Tantri sudah berangkat ke restoran. Selama 3 hari terakhir, mereka benar-benar memanfaatkan waktu libur dengan sangat baik. Dihari pertama, mereka gunakan untuk beristirahat dirumah. Dihari kedua, Miko mengajak Tantri untuk jalan-jalan ke taman hiburan terbesar yang ada di kota tempat tinggalnya. Sedangkan dihari ketiga, Miko mengajak gadis kesayangannya itu pergi ke pantai.


Tentunya hal tersebut tidak luput dari campur tangan Bu Melda. Ia ingin mendekatkan kembali anaknya dengan Tantri. Jadi ia sengaja merencanakan semua itu. Karena semenjak mengetahui perjodohannya dengan Miko, Tantri sepertinya sedikit segan pada laki-laki itu.


Untungnya rencana mereka berhasil dan Tantri kembali bersikap seperti sebelumnya pada Miko. Gadis itu sepertinya sudah menerima perjodohan mereka. Ia sudah tidak canggung lagi pada calon suaminya.


Miko menghentikan laju mobilnya tepat di depan restoran. Setelah melihat Tantri masuk kedalam restoran, ia pun kembali melajukan mobilnya. Kebetulan pagi itu Miko sedang ada urusan mendadak diluar sebentar, jadi ia menyuruh Tantri untuk masuk duluan.


Saat melihat Tantri berjalan memasuki restoran, Jonathan mengembangkan senyumnya lalu segera berlari menghampiri gadis itu.


"Tantri!" panggil Jonathan. Tantri menengokkan kepalanya ke arah sumber suara. Ia melihat Jonathan sedang berlari ke arahnya. Ia pun lalu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Iya, Pak Jo. Ada apa, Pak Jo memanggil saya?" tanya Tantri penasaran.


"Tidak. Aku hanya ingin bertanya. Kenapa 3 hari belakangan ini kamu tidak masuk?" tanya Jonathan to the point.


"Oh itu. Hari minggu kemarin kesehatan saya sedang drop, Pak. Jadi pak Miko memberikan saya waktu istirahat selama 3 hari," jawab Tantri.


"Kenapa kamu tidak bilang? Aku kan bisa menjengukmu kalau tau kamu lagi sakit," ujar Jonathan perhatian.


"Maaf, Pak Jo. Saya lupa," jawab Tantri sambil tersenyum dipaksakan.


"Lain kali kalau ada apa-apa, jangan lupa kasih tau aku," ujar Jonathan.


"Baik, Pak." balas Tantri sambil masih memaksakan untuk tersenyum.


"Oh iya. Apa hari ini pak Miko tidak masuk?" tanya Jonathan. Ia sangat berharap atasannya itu tidak datang ke restoran. Karena menurutnya, bosnya itu terlalu over protektif pada adik sepupunya. Setiap dirinya maupun pelayan laki-laki lainnya yang ingin mendekati Tantri, selalu saja mendapat tatapan tajam dari bosnya itu.


"Tidak, pak Miko sedang ada urusan mendadak diluar. Setelah urusannya itu selesai, beliau akan kembali kemari," jawab Tantri.


"Oh." ucap Jonathan. Ia merasa kecewa mendengar jawaban Tantri. Sebenarnya Jonathan merasa sedikit aneh pada Miko. Dulu, sebelum Tantri magang di restoran itu, Miko sangat jarang sekali datang ke restoran. Beruntung kalau Miko menyempatkan diri datang sekali seminggu ke restorannya itu. Karena ia memiliki 3 buah restoran di daerah yang berbeda-beda. Jadi ia harus pandai-pandai mengatur jadwal untuk berkunjung di setiap restorannya setiap minggunya. Kenapa semenjak ada Tantri, Miko malah datang setiap hari ke restorannya. Aneh. Pikir Jonathan.


"Kalau begitu, saya permisi masuk dulu yah, Pak Jo," ucap Tantri.


"Oke. Silahkan!"