How To Love You

How To Love You
Bab 234



1 Tahun lebih kemudian.


3 bulan setelah kelulusan Tantri, dia dan Miko akhirnya menyelenggarakan pesta pernikahan di kota Kartaja.


Kini baby Raisa sudah berusia 1 setengah tahun. Gadis kecil itu sudah bisa berlari dan berbicara ma ma, pa pa, da da, ba ba, dan lain sebagainya.


Sedangkan putra Radit dan Tania baru berumur 7 bulan dan baru belajar merangkak. Begitu pula dengan putra Tama dan Dewi.


...----------------...


Hotel Galaxy.


Di hotel mewah dan megah itu, Tantri dan Miko melangsungkan resepsi pernikahan mereka. Hari ini kedua mempelai yang sudah sah menjadi sepasang suami istri pagi tadi, kini terlihat sangat cantik dan tampan dengan balutan busana pengantin muslimah berwarna putih beserta jas berwarna gold yang dikenakan oleh Miko.


Hari ini, kebahagiaan keduanya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Miko merasa sangat bahagia dan bersyukur, setelah menjalani penantian yang cukup lama, akhirnya dia bisa resmi mempersunting gadis pujaannya itu.


"Hari ini kamu terlihat sangat cantik sekali, Sayang." Miko menatap wajah Tantri lekat-lekat sambil berjalan memasuki ruang resepsi acara pernikahan mereka.


"Makasih, Kak."


Tantri tersenyum malu-malu sambil menundukkan pandangannya sambil mereka berdua berjalan melewati para tamu yang sudah lebih dulu sampai di tempat acara pesta tersebut.


Saat siang hari, Radit, Tania, Tama dan juga Dewi baru sempat hadir di pesta pernikahan Miko dan Tantri. Mereka berempat baru sempat ke sana setelah menidurkan bayi mereka masing-masing.


Baby Kaindra dijaga oleh neneknya, yaitu bu Risna. Sedangakan baby Devano dijaga oleh neneknya juga, ibunya Dewi.


Mereka berempat berjalan menghampiri Tasya dan Hendra yang sedang menggendong Raisya yang tengah rewel.


"Raisya kenapa, Kak?" tanya Tania pada Hendra dan Tasya.


"Raisya dari tadi rewel," jawab Tasya.


"Rewel kenapa, Kak? Raisya mau tidur?" tanya Tania.


"Enggak. Dia baru aja bangun setengah jam yang lalu," jelas Tasya.


"Raisya maunya turun dan lari-lari di tengah pesta, tapi kami tidak menuruti kemauannya, makanya dia rewel terus." Kali ini Hendra yang menjawab.


Mereka berempat menertawai tingkah nakal keponakannya itu. Ya, namanya juga anak kecil, pasti agak sulit diatur karena dia belum mengerti apa-apa.


"Raisya, sini sama Mama Nia, Sayang." Tania mengambil alih Raisya dari gendongan Hendra.


Raisya menurut saja karena dia memang sangat dekat dan akrab dengan para om dan tantenya.


"Ba ba ba. Ba ba." Raisya mengoceh sambil menunjuk ke arah meja prasmanan. Gadis kecil itu meminta tantenya untuk membawanya ke sana.


"Raisya mau ke sana ya, Sayang? Hm? Raisya mau makan ya, Nak."


Tania lalu menggendong Raisya menuju meja prasmanan. Di sana ada beberapa orang tamu yang tengah mengantri untuk mengambil makanan.


"Ba ba ba. Ba ba?" Nada ocehan Raisya seperti sedang bertanya pada tantenya itu.


"Belum boleh, Sayang. Raisya belum boleh makan itu, itu makanan orang dewasa, Nak. Untuk sementara Raisya hanya boleh makan bubur. Yah," jelas Tania.


Meski pun Tania tahu Raisya belum bisa mengerti dengan ucapannya, tapi ibu muda itu tetap saja mengajak keponakannya berbicara.


"Raisya mau kenalan sama anak itu, ya?"


"Eng."


Tania menggendong Raisya menuju anak kecil laki-laki yang tengah digendong oleh mamanya.


Kalo gak salah itu dokter Fani 'kan istrinya kak Fathur.


Saat Tania berjalan menghampiri dokter Fani, tiba-tiba suara seorang laki-laki yang memanggil namanya dan menghentikan langkahnya.


"Tania!"


Tania menoleh. "Kak Fathur."


Wajar saja jika Fathur dan istrinya juga ada di sana. Selain karena mereka ada hubungan kekeluargaan, juga dokter Fani, Miko, dan Hendra adalah sahabat baik sejak SMA.


...----------------...


Setengah jam kemudian. Tania akhirnya baru kembali bersama Raisya.


"Kalian dari mana?" tanya Tasya sambil mengambil alih Raisya dari gendongan Tania.


"Dari sana, Kak. Kami tadi bertemu dan bermain bersama-"


Tiba-tiba ucapan Tania terpotong oleh teriakan Radit.


"Nia! Kaindra bangun, Sayang!"


"Apa? Kenapa dia cepat sekali bangun?"


Tania dan Radit pun segera meninggalkan tempat acara. Untungnya Kamar yang di tempati oleh putranya berada di lantai yang sama dengan tempat resepsi.


"Anak Papa dari mana sih, Sayang ...." Hendra mencium pipi putrinya dengan sangat gemas.


"Habis jalan sama mama Nia, ya? Pergi ke mana sih memangnya?"


"Hehehek." Raisya hanya tertawa saat Hendra mengajakanya berbicara.


Tidak lama kemudian. Hendra pun pamit untuk pergi ke toilet sebentar. Saat Tasya dan Raisya tinggal berdua di sana, tiba-tiba tante Dia datang, adiknya bu Indah.


"Oh ... Raisya sayang ... cucu Nenek. Sini Sayang." Tante Dia mengambil Raisya dari gendongan Tasya.


"Tante, Tasya minta tolong jaga Raisya sebentar, boleh? Tasya haus, Tante, mau ambil minum sebentar," kata Tasya.


"Pergilah. Biar Tante menjaga putrimu."


Berselang beberapa menit kemudian. Dari kejauhan Tasya melihat putrinya mengamuk dalam gendongan tante Dia. Gadis kecil itu sepertinya meminta untuk diturunkan.


"Raisya." Tasya segera terburu-buru untuk kembali begitu melihat tante Dia kewalahan menjaga putrinya.


Sementara itu, tante Dia yang tidak mau cucunya menangis segera menuruti kemauan Raisya. Tidak disangka setelah Rasya turun, gadis kecil itu malah berlari meninggalkannya.


"Raisya. Raisya! Raisya! Berhenti, Nak! Mama ada di sini!" Tasya berteriak sambil mengejar putrinya.