
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
"Kalau aku datang bulan, berarti nanti aku bisa mengikuti Ujian Akhir Semesterku dengan tenang. Hahaha leganya." batin Tasya seraya senyum kemenangan.
"Kok senyum-senyum?" tanya Hendra curiga.
"Eh tidak ada apa-apa kok sayang." jawab Tasya.
"Jangan senang dulu. Karena aku akan berusaha lebih keras lagi setelah kamu berhenti datang bulan. Aku sudah tidak sabar membuat kamu hamil anakku secepatnya." ujar Hendra lalu berpindah tempat duduk di sofa karena sedikit kesal. Tasya dengan susah payah menelan ludahnya mendengar ucapan Hendra.
"Oh iya, aku kan belum beli pembalut." batin Tasya.
"Sa sayang. Apa aku boleh minta ijin keluar sebentar?" tanya Tasya dengan perasaan ragu karena tahu suaminya sedang kesal.
"Minta ijin kemana?" tanyanya balik. Ia masih kesal tapi berusaha untuk tidak meninggikan suaranya.
"Aku mau keluar sebentar ke warung. Mau beli pembalut." jawab Tasya.
"Ayo aku antar. Sekalian kita belanja kebutuhan rumah tangga di mini market terdekat." ajak Hendra.
"Padahal rencananya tadi aku cuma mau ke warung sebentar. Tapi dia maunya belanja di mini market, agak jauh berarti. Yah sudahlah, itung-itung aku keluar jalan-jalan setelah beberapa hari tidak keluar, xixi. Keluar pun tadi hanya kerumah mertua." batin Tasya senang.
Mereka pun lalu berangkat dengan naik mobil.
"Sayang. Apa kamu sudah memeriksa bahan-bahan yang kurang?" tanya Hendra sambil fokus mengemudi.
"Sudah sayang." jawab Tasya sambil melihat ke arah Hendra.
Tanpa mereka sadari, sebuah mobil sedan hitam sedang mengikuti mereka. Mobil itu mengikuti mereka semenjak mobil Hendra keluar dari pintu gerbang rumah mereka tadi.
Setelah melajukan mobil sekitar dua puluh menit, sampailah mereka di mini market terdekat dari desa tempat tinggal mereka. Hendra memarkirkan mobilnya di parkiran.
"Ayo sayang kita turun." ajak Hendra setelah mematikan mesin mobilnya.
Tasya ikut turun bersamanya. Mereka masuk kedalam mini market sambil bergandengan tangan.
"Ceklek ceklek ceklek." Suara kamera.
Seorang laki-laki misterius yang ada di dalam mobil sedan hitam itu sedang mengambil beberapa foto-foto mereka.
Mr. A : Halo bos. Saya sudah mengambil gambar mereka sebelum mereka masuk mini market.
Fathur : Ikuti terus sampai mereka kembali ke rumahnya.
***
Tasya dan Hendra sedang berbelanja. Hendra mendorong troli sedangkan Tasya memilih-milih barang belanjaan. Sampailah mereka di depan sebuah lemari pendingin. Tasya mengiler melihat ice cream yang ada di depannya.
"Sayang." Berbalik ke Hendra dengan nada merengek.
"Kenapa sayang? Kamu mau?" tanya Hendra seraya menghampiri Tasya dan merangkul bahunya.
Tasya mengangguk.
"Ambil lah sebanyak yang kamu mau. Kalau perlu aku belikan beserta lemari pendinginnya." ujar Hendra lalu mencium pipi Tasya.
"Sayang ih, malu tahu dilihat banyak orang." wajahnya berubah menjadi merah seketika karena malu dilihat beberapa pengunjung lainnya.
"Memangnya ada yang salah kalau aku mencium istriku sendiri hah?" tanya Hendra sambil tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya yang berubah jadi merah karena malu.
"Bukan itu masalahnya sayang, kita sekarang lagi di tempat umum. Kan malu dilihatin orang." jelas Tasya.
Tasya pun mengambil beberapa ice cream ukuran 500 gram dengan berbagai varian rasa dan memasukkan kedalam troli. Ia menolak untuk dibelikan ice cream beserta lemari pendinginnya, karena ia pikir hal itu sangatlah konyol jika suaminya benar-benar melakukannya. Setelah semua kebutuhan dirasa tidak ada yang kurang mereka pun pergi membayar di kasir dan meninggalkan mini market itu.
"Sayang. Kita mau kemana? Ini kan arah berlawanan jalan pulang." kata Tasya bingung.
"Kamu tenang saja sayang, aku tidak akan menculikmu. Ehehe." ujar Hendra menggoda istrinya.
"Sayang ih malah bercanda. Aku kan serius nanya." balas Tasya.
"Kamu akan lihat setelah kita sampai sayang." ujar Hendra sambil sebelah tangannya menggenggam dan menciumi tangan Tasya.
Hendra melajukan mobilnya hingga berhenti di depan sebuah salon kecantikan.
"Salon Beauty. Apa yang ingin kita lakukan disini sayang?" tanya Tasya sambil membaca plakat yang tertera di depan salon.
"Tentu saja membuat istriku yang cantik jadi semakin cantik." ujarnya sambil tersenyum menggapai kepala Tasya dan mencium keningnya.
Tasya tidak tahu harus berkata apa-apa. Ia merasa sangat senang, bahagia sekaligus terharu. Hendra memperlakukannya dengan sangat baik. Lagian perempuan mana sih yang tidak mau berubah menjadi semakin cantik setiap harinya.
"Ayo turun!" ajak Hendra.
Mereka pun lalu turun bersama dan masuk ke dalam salon. Karena hari sudah mulai sore, mereka cepat dapat pelayanan karena pengunjung sudah mulai sepi. Tasya melewati beberapa rangkaian perawatan wajah dan seluruh tubuhnya. Selanjutnya Hendra menyuruh pegawai salon untuk merapikan rambut Tasya dan meluruskannya. Sebenarnya rambut Tasya sudah lurus alami tapi Hendra ingin membuatnya terlihat lebih rapi dan lebih indah lagi.
Hendra juga menyuruh pegawai salon untuk mengubah warna rambut istrinya menjadi coklat keemasan. Tasya tidak menolak karena itu perintah suaminya. Toh yang melihat seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki hanyalah Suaminya seorang. Yang orang lain lihat hanyalah wajah dan telapak tangannya saja. Sembari perawatan rambut, juga melakukan perawatan kuku. Itu semua perintah Hendra pada karyawan salon.