How To Love You

How To Love You
Bab 69



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu ya.


...----------------...


"Dit. Radit, bangun Dit. Aku mau ngambil handphone aku dimobil kamu." ucap Tania sambil mencolek selimut dengan buku yang ia pikir Radit yang ada dibalik selimut itu.


"Dit. Bangun Dit. Radit. Radit. Ra ... dit. Radi ...t." Tania terus berteriak dan melakukan hal yang sama seperti tadi. Mencolek selimut yang dia kira isinya adalah Radit.


Karena kesal dan putus asa, ia pun memutuskan untuk menyingkap selimut Radit.


"Dit. Kalau kamu nggak mau bangun. Aku buka nih selimutnya." ucap Tania sambil memegang pinggir selimut dengan kedua tanggannya. Tapi tetap tidak ada respon.


"Yah sudah. Aku buka betulan yah Dit. 1 ... 2 ... 3. Ba ..." Tania kaget saat menyingkap selimut itu, isinya hanya 2 bantal guling.


"Sialan. Aku dikerjain." ucap Tania kesal.


"Bang." Bunyi pintu yang tertutup tiba-tiba.


"Hahaha. Nia. Kamu kena prank. Hahaha" ucap Radit tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


Tania semakin kesal mengetahui ternyata Radit bersembunyi dibalik pintu kamarnya sedari tadi.


"Apa-apaan kamu Dit. Apa maksud dari semua ini? Kamu sengaja mempermainkanku?" tanya Tania kesal.


"Anggap aja ini balasan atas sikap keras kepalamu tadi malam. Sekarang kita impas kan? Aku sudah berbaik hati karena aku nggak membuat kamu membangunkanku selama aku meminta maaf padamu tadi malam." jelas Radit sembari menghampiri Tania yang berdiri di samping tempat tidurnya.


Tania baru ingat kalau tadi malam ia mengabaikan permintaan maaf Radit sampai Radit putus asa dibuatnya. Ia tidak menyangka kalau ternyata Radit orang yang pendendam.


"Ka kamu mau apa?" tanya Tania gugup saat Radit semakin dekat dengannya. Ia pun melangkah menjauhi Radit.


"Aku? Kamu mau tahu apa mauku?" jawab Radit balik bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia berjalan mendekati Tania kemana pun Tania melangkah.


"Dit. Jangan macam-macam, sini kunci mobilmu. Aku mau ambil handphoneku." tegas Tania sambil terus melangkah mundur menjauhi Radit.


Radit terus mendekatinya Tania hingga sempat terjadi kejar-kejaran diantara mereka seperti Tom yang ingin menangkap Jerry. Hingga, sampailah Tania pada sudut ruangan kamar Radit. Ia tidak bisa kemana-mana lagi. Tania semakin ketakutan dibuatnya.


"Dit. Jangan mendekat Dit. Aku mohon." mohon Tania.


"Aku ingin pulang Dit. Aku kesini cuma mau ngambil handphoneku aja yang ketinggalan dimobil kamu. Nggak lebih." jelas Tania.


Radit tidak bergeming, ia terus mendekati Tania hingga akhirnya Tania diam tak bergerak di pojok kamarnya. Radit meletakkan kedua tangannya disamping kiri dan kanan Tania. Tania membentuk huruf X menggunakan kedua tangannya dan meletakkan didada sebagai perisai benda berharga miliknya.


Melihat Radit jatuh kesakitan, Tania tertawa senang sambil mengejek Radit,


"Hahaha. Rasain, emang enak. Wleeek." ejek Tania. Ia pun lalu berlari menuju pintu berniat untuk kabur. Namun sayang, saat ia memutar gagang pintu, pintunya terkunci.


Radit bangkit sambil menahan sakitnya. Ia senang melihat Tania tidak bisa kabur darinya. Ia memang sudah memprediksikan hal tersebut. Jadi saat Radit menutup pintu kamarnya tadi, ia juga menguncinya.


"Tunggu pembalasanku Nia!" seru Radit sambil berjalan terseok-seok ke arah Tania.


Tania menggedor-gedor pintu sambil berteriak meminta tolong. Ia semakin ketakutan saat Radit semakin dekat dengannya.


"Berteriaklah sekeras-kerasnya Nia. Nggak akan ada orang yang bisa mendengarkanmu diluar sana. Hahaha." ujar Radit sambil terus mendekati Tania yang sudah mematung bersandar di pintu.


Tania pasrah, ia tidak bisa melawan lagi. Tadi, dia belum makan atau minum apapun sebelum berangkat kerumah Radit. Rencananya yang tadi ia susun masak-masak, ternyata tidak sesuai rencananya. Ia pun berpikir keras agar bisa selamat dari cengkraman Radit.


"Apa aku pura-pura pingsan aja yah?"


"Hm ... ide bagus. Kalau aku pura-pura pingsan, pasti dia akan panik dan keluar meminta bantuan. Jadi, aku bisa punya kesempatan untuk kabur."


"Hahaha. Semoga berhasil Tania. Semangat! Aktingmu harus bagus." batin Tania menyemangati dirinya sendiri.


...----------------...


Sementara itu diwaktu yang sama, Hendra sedang mengantar Tasya pergi ke kampus. Di pertigaan jalan, Hendra membelokkan mobilnya yang tidak jauh dari rumah Pak Rahmat. Setelah sedikit melajukan mobilnya, Hendra melihat motor matic yang sering dikendarai Tasya dulu.


"Sayang. Bukannya itu motor kamu, kok ada di depan tokonya Om Rahmat?" tanya Hendra.


"Eh, iya benar sayang. Itu motorku. Pasti Tania yang pakai. Soalnya tadi malam aku telpon Tania, Radit yang ngangkat. Kata Radit, hp Tania ketinggalan dimobilnya. Pasti Tania kesana buat ngambil hpnya." jelas Tasya.


"Oh." Hendra


"Sayang. Mm apa kamu juga merasa ada yang aneh pada kedua anak itu? Ini perasaan aku aja yah, belum tentu benar." ujar Hendra sambil tetap fokus menyetir.


"Maksudnya sayang?" tanya Tasya tidak mengerti.


"Ah, sudahlah sayang. Mungkin ini hanya perasaanku saja." balas Hendra.


Hendra pun terus melajukan mobilnya menuju kampus Tasya.