How To Love You

How To Love You
Sleep Friend



Dewi duduk sendiri di sebuah kursi tidak jauh dari meja makan. Pestanya sudah mulai sepi. Sejak tadi satu per satu tamu sudah meninggalkan pesta. Semua anggota rombongan pengantar mempelai pria juga sudah pulang semua sejak tadi siang, kecuali Radit, adik sepupu Hendra, anak pak Rahmat, mantan bos Tasya.


Radit sengaja tinggal untuk menemani kakak sepupunya. Siapa tahu Hendra butuh sesuatu, Radit bisa membantunya.


Dewi sedang asyik main game cacing di smartphone-nya. Tanpa gadis itu sadari, Tama ternyata sedang berjalan menghampirinya dan sekarang sudah berdiri di sampingnya.


"Ehem."


Tama berdehem untuk memberi kode pada Dewi tapi Dewi tidak menyadarinya hal tersebut. Dia terlalu fokus pada permainan yang tengah dia mainkan.


"Awas kamu ya kuning, beraninya mengambil makananku. Rasakan lilitanku." Dewi terlalu mendalami game cacing tersebut.


"Ehem."


Tama berdehem untuk yang kedua kalinya tapi tetap sama saja, Dewi masih belum menyadari keberadaannya. Gadis itu ternyata terlalu fokus pada permainan yang tengah dia mainkan sampai-sampai tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya.


"Serius sekali main game-nya."


Akhirnya Tama memutuskan untuk membuka pembicaraan. Sebagai seorang lelaki, memang sudah seharusnya dia yang melakukan pendekatan duluan pada Dewi.


"Eh." Dewi mendongakkan kepalanya.


Begitu Dewi menatapnya, Tama tersenyum. "Boleh aku duduk di sini?"


"Bbo-boleh."


Seketika Dewi lupa dengan game cacingnya begitu menyadari keberadaan Tama.


"Sepertinya kamu sangat suka main game." Tama mulai berbasa-basi untuk membuka topik pembicaraan diantara mereka.


Dewi tersenyum malu-malu. Detak jantungnya sudah kembali berdetak tidak karuan.


"Buat hiburan aja, Kak."


Keduanya pun mulai mengobrol dan sedikit mulai mengenal satu sama lain. Sesekali mereka terlihat tertawa bersama.


Setelah hari hampir menjelang petang, Dewi memutuskan untuk berpamitan kepada tuan rumah beserta kedua mempelai. Karena tadi pagi dia tidak membawa motor, dia pun pulang diantar oleh Tama.


...----------------...


Malam semakin larut, Radit pun memutuskan untuk berpamitan pulang karena merasa tugasnya untuk menemani Hendra sudah cukup sampai disitu saja.


Kini tinggallah mereka bertiga, Hendra, pak Rudi dan juga Tama yang duduk di kursi teras. Mereka asyik mengobrol ditemani kopi dan kue yang disiapkan oleh Bu Indah dan Tasya tadi.


Semua wanita penghuni rumah itu sudah beristirahat sejak 2 jam yang lalu. Sekarang sudah tengah malam, ketiganya pun memutuskan untuk masuk dan beristirahat pula.


"Sudah larut, masuklah Nak Hendra. Kamu pasti kelelahan," kata Pak Rudi pada menantunya.


"Iya masuklah. Sebentar lagi kami pun juga akan masuk untuk beristirahat," sambung Tama.


"Baiklah, Yah, Kakak Ipar, saya masuk duluan. Selamat malam."


Setelah berpamitan pada ayah mertua dan kakak iparnya, Hendra pun melangkah masuk ke dalam rumah menuju kamar istrinya.


Hendra membuka dan menutup pintu kamar dengan pelan, takut membangunkan Tasya. Dia lalu naik ke atas tempat tidur dengan sangat pelan dan hati-hati tanpa mengeluarkan suara.


Hendra menatap istrinya yang sedang tertidur pulas itu sambil tersenyum. Saat itu Tasya menutupi tubuhnya dengan selimut sampai ke leher.


Padahal cuaca tidak dingin ya, kenapa kamu menutupi dirimu dengan selimut sampai segitunya?


Hendra mengulum tawanya melihat kelakuan istrinya.


Hendra menurunkan selimut itu dengan pelan, dia sudah mendapati istrinya tengah mengenakan baju tidur lengan panjang dan celana panjang dengan kain yang tebal. Kali ini Hendra tidak tahan untuk tidak tertawa, namun dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara.


Sayang, kamu sampai keringatan begini.


Hendra mengelap keringat yang ada di dahi Tasya menggunakan tangannya.


Rambutmu ternyata panjang dan lurus. Ini pertama kalinya aku melihatnya. Ternyata kamu terlihat lebih cantik tanpa hijab.


Terima kasih karena telah menjaga dirimu untukku. Hendra lalu mengecup kening istrinya.


Selamat malam sayangku. Malam ini kamu selamat. Aku tidak akan mengambil hak ku sebagai suamimu malam ini.


Hendra lalu berbaring dan memiringkan badannya menghadap ke arah istrinya.


Di sini banyak orang, takut kamu berteriak. Hehe. Batinnya lagi sambil tertawa kecil dalam hati.


Mungkin Tasya terlalu kelelahan hari ini, makanya tidurnya sangat nyenyak sehingga dia tidak terjaga saat Hendra memeluknya.


.......


...----------------...


Seperti biasanya alarm di ponsel Tasya berdering pukul 04:00 pagi. Dia pun terjaga, namun belum membuka matanya.


Tasya merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Tubuhnya terasa sangat berat dan sulit untuk digerakkan.


Dengan pelan gadis itu mulai membuka matanya. Betapa terkejutnya saat dia mendapati tangan Hendra sudah berada di atas buah dadanya, kaki suaminya yang panjang itu juga menindih kedua pahanya.


Hampir saja Tasya berteriak histeris dan membangunkan seisi rumah. Untungnya dia segera ingat kalau dirinya sudah menikah dan sudah tidak tidur sendiri lagi. Sekarang dia sudah punya pasangan untuk berbagi tempat tidur.


Gadis itu berusaha untuk melepaskan diri agar bisa segera bangun. Tasya menurunkan tangan suaminya lalu meletakkannya dengan pelan di sampingnya.


Tapi sayangnya, sesaat setelah dia berhasil menurunkan tangan suaminya tersebut, Hendra malah kembali memeluknya dengan erat.


Tasya yakin, Hendra pasti juga sudah terjaga sama seperti dirinya.


"Ka-Kak Hendra, tolong turunkan tangan dan kakimu. Saya mau bangun." Tasya berkata dengan pelan dan terbata.


Bukannya menurunkan kaki dan tangannya, Hendra malah memeluk istrinya itu dengan semakin erat sambil mencium pipinya.


Tasya merasa ketakutan dan gemetar. Dia takut kalau-kalau Hendra mau meminta haknya sebagai suami. Tasya benar-benar belum siap untuk hal yang satu itu.


"Tto-tolong lepaskan, Kak. Saya mau bangun," ucap Tasya dengan nada bergetar menahan ketakutan.


"Untuk apa kamu bangun sepagi ini? Memangnya kamu mau melakukan apa jam segini, Sayang? Hm?" tanya Hendra dengan suara parau khas bangun tidur.


"Sa-saya mau memasak, Kak."


"Memasaknya nanti saja, Sayang. Aku masih ingin memelukmu."


Hendra kembali mencium pipi istrinya setelah mengucapkan dua kalimat tersebut. Setelah itu dia membenamkan wajahnya pada leher istrinya tersebut.


"Jangan seperti itu, Kak. Geli."


Tasya menggeser kepalanya sedikit karena merasa sangat geli dan aneh dengan perlakuan Hendra.


Hendra membuka matanya, dia tersenyum bahagia saat pertama kali membuka mata yang dia lihat adalah Tasya.


Hendra manarik tubuh Tasya agar berbaring menyamping dan menghadap ke arahnya.


"Kka-Kak Hendra mau apa?" tanya Tasya, masih dengan suara gemetaran menahan takut.


"Aku ingin melihat wajah istriku dari dekat. Memangnya tidak boleh?" bisik Hendra.


"Bbo-boleh. Boleh-boleh saja, tapi untuk apa?" Sejujurnya Tasya semakin ketakutan dibuat olehnya.


"Aku ingin mencium sambil memelukmu."


Hendra mendekap erat tubuh istrinya lalu menciumi wajahnya secara bertubi-tubi. Tasya tidak bisa melawan, toh yang melakukan hal itu adalah suaminya juga.


Hei, kenapa kamu mencium seluruh bagian wajahku seperti itu? Batin Tasya.


"Aa-apakah sudah cukup, Kak? Saya mau bangun."


Sebenarnya Tasya merasa aneh dan risih. Ini baru pertama kalinya dia diperlakukan seperti itu oleh lawan jenis.


"Cium aku dulu, baru kamu boleh bangun." Hendra mengangkat sedikit wajahnya meminta untuk dicium.


Tasya terdiam. Dia merasa malu melakukan hal itu.


"Ayo cepat cium aku, Sayang."


"Ba-baik, Kak."


Tasya tidak punya pilihan lain. Dia lalu mencium seluruh bagian wajah yang ditunjuk oleh suaminya. Dan urutan yang paling terakhir, Hendra menunjuk bibirnya.


"Itu juga?" tanya Tasya ragu-ragu. Hendra menjawabnya dengan senyuman disertai anggukan.


Kenapa jadi begini sih? Mau bangun aja ribet banget. Biasanya juga aku langsung bangun tanpa ada kendala apa pun. Apakah semua orang yang sudah menikah memang seperti ini?