
"Aku nggak mimpi kan Dit?" tanya Tania.
Radit mencubit pipi Tania. Ia ingin meyakinkan kalau ia benar-benar tidak sedang bermimpi.
"Auwh. Sakit Dit." kata Tania.
"Ini benar-benar nyata Nia. Kita nggak mimpi." ujar Radit.
"Apa mereka punya hubungan? Tapi ... sejak kapan? Kenapa aku nggak tau apa-apa tentang hubungan mereka." tanya Tania. Ia masih syok dengan apa yang barusan ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Kepalanya penuh dengan tanda pertanyaan.
"Oh iya Nia, aku baru ingat. Waktu acara akad nikah Kak Hendra sama Kak Tasya waktu itu, Kak Tama yang ngantarin Dewi pulang ke rumahnya. Aku pikir, mungkin hubungan mereka dimulai dari situ." jelas Radit sambil mengingat kejadian yang hampir 2 bulan yang lalu.
"Maksud kamu, mereka pacaran jarak jauh gitu?" tanya Tania.
"Kalau menurut aku sih, mungkin begitu." jawab Radit.
"Aku benar-benar belum mengerti semua ini Dit. Bagaimana mungkin mereka bisa saling jatuh cinta dengan pertemuan mereka yang begitu singkat? Atau kita samperin aja Dit untuk menanyakan hal itu pada mereka." usul Tania.
"Jangan Nia. Biarin aja. Nanti mereka malu lagi." kata Radit.
"Maksud kamu Dit?" tanya Tania.
"Maksud aku, biarkan aja mereka. Kita jangan ikut campur soal hubungan mereka. Tentang adegan yang tadi, kita pura-pura nggak liat aja." jelas Radit. Tania terdiam sejenak memikirkan ucapan Radit.
"Iya juga yah Dit. Kalo aku pikir-pikir mereka sebenarnya memang cocok sih." ujar Tania tersenyum.
"Kita juga cocok kok Nia." ucap Radit tidak mau kalah.
"Cocok apanya?" tanya Tania sambil duduk kembali ditempatnya semula.
"Yah cocok segalanya." jawab Radit sambil ikutan duduk juga. Tania hanya diam tidak menggubris ucapan Radit.
"Nia." panggil Radit.
"Hmm apa?" tanya Tania.
"Mm ... aku juga pengen dong." jawab Radit.
"Pengen apa?" jawab Tania melotot sambil meninggikan suaranya.
"Yee ... belum juga ngomong, udah gitu ekspresinya." gumam Radit sambil membuang mukanya.
"Pengen apa?" tanya Tania lagi masih dengan nada dan ekspresi yang sama.
"Nggak jadi deh Nia. Aku pengen makan jagung bakar aja." jawab Radit mengalihkan topik pembicaraan. Ia lalu mengambil satu buah jagung bakar.
"Kirain pengen ciuman juga. Awas aja kalo kamu minta yang macam-macam." ancam Tania.
"Kamu ngomong apa Dit? Siapa yang emak-emak?" tanya Tania masih meninggikan suaranya.
"Eh, nggak kok sayang. Tuh, disana ada emak-emak yang lagi ngantri panjang mau beli batagor." jawab Radit sambil menunjuk ke arah penjual batagor yang sedang ramai pembeli.
"Nia. Pulang yuk. Udah larut, sekarang jam 9 lewat 37 menit." ajak Radit sambil melihat jam tangannya.
"Tapi Dit, aku pengen ..." ucap Tania menggantung dan langsung berubah ekspresi 180 derajat.
"Pengen apa sayang?" tanya Radit dengan wajah sumringah. Ia berpikir Tania ingin meminta ciuman darinya.
"Pengen ... makan batagor." jawab Tania sambil memasang wajah imutnya.
"Yee ... kirain." ucap Radit sedikit kecewa.
"Kirain apa?" tanya Tania.
"Nggak. Nggak ada apa-apa kok sayang. Sebentar yah aku beliin." jawab Radit. Tania hanya mengangguk senang karena kemauannya dituruti Radit.
Radit pun kemudian berjalan menghampiri kerumunan orang yang sedang mengantri untuk membeli batagor. Sepertinya butuh waktu cukup lama untuk mendapat giliran untuk dilayani oleh si abang-abang penjual batagornya. Radit selalu memantau Tania dari tempatnya sekarang. Tiba-tiba, ia melihat sebuah mobil yang tidak asing berhenti di depan Tania.
Radit melihat pemilik mobil itu turun dan menghampiri Tania. Perasaannya mulai tidak enak. Tiba-tiba seseorang berjalan didepannya sambil membawa sekantong batagor.
"Mba. Boleh saya minta tolong." ujar Radit pada orang itu.
Sementara itu, Tania dan laki-laki pemiliki mobil itu.
"Tania. Apa yang kamu lakukan disini jam segini? Sudah larut, ayo aku antar kamu pulang." ajak laki-laki itu.
"Ng nggak usah Kak, aku lagi nungguin Radit." tolak Tania.
"Radit? Dimana dia?" tanya laki-laki itu sambil menyapukan pandangannya ke sekeliling.
"Aku tidak melihatnya dimana-mana. Sudah, aku antar kamu pulang yah. Sangat berbahaya kalau kamu duduk disini sendirian." kata laki-laki itu.
"Terima kasih Kak Miko karena telah mengkhawatirkanku. Tapi aku minta maaf kak, karena aku akan tetap menunggu Radit disini." jelas Tania.
"Memangnya Radit kemana?" tanya Miko.
"Lagi beliin aku batagor kak." jawab Tania.
"Batagor?" ucap Miko sambil menyapukan pandangannya mencari penjual batagor. Matanya tertuju pada Radit yang sedang berbicara dengan seorang perempuan yang mungkin seumuran dengannya. Radit seperti menjelaskan sesuatu pada mbak-mbak itu.
"Kalau begitu aku temani kamu disini sampai Radit datang." ujar Miko.
"Terima kasih kak." ucap Tania.