How To Love You

How To Love You
Bab 180



Mobil hitam yang dipakai kedua penculik itu berhenti di depan sebuah gubuk yang terletak diujung jalan buntu. Mereka sengaja membawa Tania ke sana karena mereka menganggap tempat itulah yang paling aman. Karena tempat itu sepi dan jarang dikunjungi oleh siapapun.


Dulunya gubuk itu milik seorang kakek tua. Namun, si pemilik gubuk telah meninggal sekitar 4 tahun yang lalu, maka dari itu tempatnya terlihat tidak terawat dan dipenuhi debu yang tebal.


Yuda turun dari mobil sambil menggendong Tania yang belum sadarkan diri. Mereka bertiga lalu masuk kedalam gubuk reot yang terbuat dari somel kayu tersebut. Yuda membaringkan tubuh Tania di atas sebuah panggung yang tingginya kira-kira selutut yang dulunya adalah tempat tidur si pemilik gubuk.


"Apa yang mau kamu lakukan sekarang?" tanya Chelsea pada Yuda.


"Kamu pikir apa lagi? Jangan pura-pura nggak tau deh," jawab Yuda.


"Kamu mau melakukan 'itu' sekarang?" tanya Chelsea tidak percaya.


"Iyalah. Ngapain buang-buang waktu kalau sasaran empuk sudah ada didepan mata." jawab Yuda. Sesuatu yang ada dibalik CDnya memang sudah m*******s semenjak mereka masih dalam perjalanan menuju tempat itu. Bagaimana tidak, ia terus-terusan saja membayangkan dirinya menikmati tubuh Tania yang belum pernah dijamah oleh siapapun, bahkan oleh calon pemiliknya sahnya sendiri.


"Ck, ck. Dasar laki-laki!" ucap Chelsea berdecak sambil geleng-geleng kepala melihat Yuda yang mulai melepas jaket, topi dan maskernya satu per satu.


"Kenapa? Kamu juga mau?" tawar Yuda.


"Huweeek, aku jijik sama cowok br******k kayak kamu, Yud. Sudah berapa banyak gadis yang sudah kamu makan?" tanya Chelsea sambil bergidik jijik.


"Ck, kamu ini mengatai teman sendiri br*****k. Kalau aku brengsek, lalu perempuan seperti kamu itu apa namanya?" tanya Yuda mulai emosi. Ia tidak terima dikatai b*****k oleh Chelsea, padahal kenyataannya memang begitu.


"Sudahlah. Aku capek berdebat sama kamu. Aku lapar, mending aku keluar cari makan daripada nonton aksi menjijikkan kalian secara langsung." jawab Chelsea sambil beranjak keluar dari gubuk itu.


"Munafik kamu, Chel. Didepan aku aja kamu sok-sok suci begitu. Aku tau apa yang sering kamu lakulan sama si Jono di apartemen kamu," ucap Yuda sambil menyeringai sinis.


"Da-dari mana kamu tau?" tanya Chelsea. Ia tiba-tiba menghentikan langkahnya mendengarkan ucapan Yuda. Ia begitu terkejut mendengar Yuda membeberkan aibnya.


"Dari Si Jono lah. Siapa lagi?" jawab Yuda.


"Jono br******k." batin Chelsea sambil mengepalkan tangannya. Ia begitu marah pada laki-laki yang sering menjadi lawan mainnya ditempat tidur.


"Kamu mau makan nggak? Aku mau keluar cari makan. Tadi aku liat ada warung di pertigaan sana." tanya Chelsea mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya iyalah. Aku juga belum makan dari pagi gara-gara ngikutin mereka. Tapi untunglah, usaha kita terbayarkan dengan ini." ucap Yuda sembari menatap lekat wajah cantik milik Tania.


"Apa aja. Sana cepat pergi! Ganggu aja," usir Yuda.


"Ssshit."


Dengan perasaan kesal, Chelsea meninggalkan gubuk itu. Ia kemudian melajukan mobilnya menyusuri jalan kecil yang ia lewati sebelumnya. Laju mobilnya tiba-tiba terhenti saat melihat mobil Toy*ta Fort*ner putih dari arah berlawanan. Ia tidak punya pilihan lain selain berhenti karena mau minggir pun tidak bisa. Di samping kiri dan kanan jalan hanyalah pohon lamtoro dan pohon jati yang berjejer rapi.


"Siapa sih? Ngapain coba mobil bagus masuk ke tempat beginian." ucap Chelsea.


"Tin tin." Chelsea menekan klakson mobilnya.


"Siapa sih? Mundur nggak," ucap Chelsea mendengus kesal sambil terus membunyikan klakson mobilnya. Namun si pemilik mobil yang ada di depannya itu tidak kunjung memundurkan mobilnya. Mobil itu hanya diam di tempat tanpa maju atau pun mundur membuat Chelsea semakin kesal saja.


"Ck, siapa sih? Belagu banget, tinggal mundur sedikit juga sudah masuk jalan raya." kata Chelsea sambil turun dari mobilnya. Ia begitu geram pada pengemudi didepannya.


"Tok tok tok." Chelsea mengetuk kaca pintu mobil orang itu. Setelah kaca mobilnya turun, ia melihat pria tidak dikenal didalamnya.


"Ada apa?" tanya Pria berkacamata hitam itu dengan nada sedikit membentak.


"Ng-nggak kok, Bang. Nggak apa-apa," jawab Chelsea sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya didepan dada.


"Mundur nggak!" ucap Pria itu masih dengan nada tinggi.


"I-iya, Bang. Tu-tunggu sebentar," kata Chelsea terbata dengan nada gemetar. Nyalinya seketika menciut mendengar bentakan Pria itu. Ia kemudian berlari masuk kembali kedalam mobilnya lalu membuatnya berjalan mundur.


"Mau kemana orang itu? Apa dia mau mencari Tania?" gumam Chelsea.


"Ah nggak mungkin. Radit aja yang berada ditempat kejadian nggak bisa menyusul, apalagi orang lain." kata Chelsea bermonolog dengan dirinya sendiri. Ia terus memundurkan mobilnya sambil terus melihat kearah belakang takut mobilnya menabrak pohon.


Sementara didalam mobil pria itu, gadis disebelahnya terus-terusan saja tertawa.


"Hahaha." gadis itu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, air matanya sampai keluar sedikit di ujung matanya.