How To Love You

How To Love You
Bab 184



Pukul 17:00


Pesta telah usai. Kedua mempelai meninggalkan gedung tempat resepsi menuju ke rumah baru hadiah pernikahan dari Pak Rahmat dan Bu Risna. Kebahagiaan mereka semakin bertambah saat mereka mendapat kejutan dari kedua orang tua Radit. Sebuah hadiah yang nantinya akan mereka tempati memadu kasih, sekaligus akan menjadi saksi bisu bagi mereka menjalani hari-hari dalam membina mahligai rumah tangga.


Sebuah kehidupan baru akan segera mereka awali dari sana. Kehidupan yang akan membuat mereka belajar untuk saling melengkapi, saling memahami, saling mengerti, dan saling menerima apa adanya satu sama lain.


Radit sebagai kepala rumah tangga nantinya akan lebih mandiri dan bertanggung jawab saat ia dan istrinya tinggal dirumah mereka sendiri. Karena itulah kedua orang tuanya menghadiahkan rumah dihari pernikahan mereka.


Pasangan pengantin baru itu tertidur didalam mobil saat mereka dalam perjalanan menuju tempat tinggal baru mereka. Keduanya memilih untuk tertidur karena mereka sama-sama kelelahan berdiri menyambut tamu seharian. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, mereka pun akhirnya sampai dirumah baru mereka.


"Sayang, bangun! Kita sudah sampai dirumah kita," ucap Radit mencoba membangunkan istrinya.


"Eh, udah sampai yah, Dit." kata Tania sambil mengucek kedua matanya. Sejujurnya ia masih sangat mengantuk.


"Ayo turun! Mana kunci rumahnya tadi?" tanya Radit.


"Ada disini, didalam tasku." jawab Tania sambil menunjuk tas disampingnya.


Setelah mereka berdua turun dari dalam mobil, Radit pun segera mengambil koper milik mereka berdua didalam bagasi dibantu oleh Pak Supir.


"Makasih yah, Pak." ucap Radit pada supir tersebut.


"Iya, sama-sama, Dek." jawab Si Supir lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Radit dan Tania beranjak masuk kedalam pekarangan tempat tinggal baru mereka. Radit masuk sambil menarik 2 buah koper dan membawanya masing-masing di kedua tangannya. Sedangkan Tania hanya membawa sebuah tas berukuran sedang yang entah apa isinya.


"Dit, aku nggak nyangka loh, rumah ini bakalan jadi rumah kita," ujar Tania sambil tersenyum bahagia menatap rumah minimalis dua lantai itu dari bawah ke atas. Ia mengingat kalau dulunya ia selalu lewat di tempat itu saat ia dan Radit ingin pergi ke rumah Hendra dan Tasya.


"Iya, sayang. Aku juga nggak pernah nyangka." balas Radit sambil mendongakkan kepalanya menatap penampakan tempat tinggal barunya dari bawah ke atas.


"Memangnya Mama Risna sama Pak Rahmat, eh Papa Rahmat maksudnya, nggak bilang apa-apa sama kamu?" tanya Tania. Ia sempat keceplosan karena belum terbiasa dengan panggilan papa mama pada mertuanya.


"Nggak. Mungkin mereka sengaja mau ngasih kejutan buat kita,"


Setelah Radit membuka pintu dan menyalakan lampu, mereka berdua begitu takjub dengan desain interior tempat tinggal baru mereka. Sepertinya kedua orang tua Radit memiliki selera yang bagus dalam memilih dekorasi interior untuk hunian anak dan menantunya. Mereka memilih desain interior rumah vintage yang memiliki tampilan cantik dan manis. Itu agar penghuninya betah tinggal dirumah. Apalagi mereka yang masih pengantin baru.


"Wah, cantik sekali." ucap Tania. Ia langsung jatuh cinta dengan desain interior rumahnya itu karena didominasi dengan warna lembut seperti putih, hijau muda, abu-abu muda, pink pastel, dan kuning muda. Untuk motifnya, desain interior rumahnya didominasi oleh bunga-bunga berukuran kecil yang diterapkan pada sarung bantal atau bahan pelapis sofa.


"Apa kamu suka, sayang?" tanya Radit.


"Suka banget. Bagaimana cara kita berterima kasih pada mereka nanti?" Tania begitu terharu dengan hadiah pernikahan yang diberikan oleh mertuanya. Kedua ujung matanya sampai basah.


"Bagusnya kita tanya saja pada mereka nanti kalo kita ketemu." jawab Radit. Tania hanya membalasnya dengan anggukan.


"Sayang, ayo kita naik ke kamar. Katanya kamar kita ada dilantai atas," ajak Radit.


"Iya, Dit. Ayo!"


Mereka berdua pun lalu naik ke kamar mereka. Sekali lagi mereka dibuat takjub dengan dekorasi kamar pengantinnya. Sepertinya Bu Risna dan Pak Rahmat memang mempersiapkan segalanya dengan sangat baik.


Dekorasi kamar pengantin dengan nuansa putih gading dan soft pink. Serta tirai tipis berwarna putih yang menjuntai disekeliling tempat tidur. Ditambah lagi dengan kelopak bunga mawar berbentuk hati di tengah-tengah tempat tidur semakin menambah kesan manis dan romantis kamar pengantin mereka.


"Berasa kayak menginap di hotel yah, Dit!" ucap Tania.


"Iya, sayang." ucap Radit sambil memeluk Tania dari belakang. Tania begitu terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari pemuda yang baru tadi pagi menyandang status sebagai suaminya. Ia merasa malu sekaligus deg-degan.


"Nia sayang," panggil Radit lirih didekat telinga gadis itu.


"Di-Dit, kamar mandinya dimana yah? Aku, aku kebelet pipis," tanya Tania. Ia merasa sangat gugup.


"Itu, di sudut ruangan. Mau aku temani, sayang?" goda Radit.


"Ng-nggak. Nggak usah," tolak Tania. Ia segera melepas pelukan suaminya lalu berlari dengan cepat masuk kedalam kamar mandi. Ia tidak mau Radit sampai benar-benar menemaninya masuk kedalam kesana. Radit terkekeh melihat sikap istrinya yang salah tingkah.