How To Love You

How To Love You
Bab 158



Santi tidak sadar kalau dirinya bagaikan pungguk yang merindukan bulan. Mimpinya kelewat tinggi, saking tingginya mustahil untuk kesampaian.


"Bi, bikin 2 cangkir kopi dan bawa ke ruang depan, ya," pesan Hendra pada Bi Ani sebelum ia beranjak keluar menghampiri Miko.


Hendra tidak mempedulikan ataupun melirik ke arah Santi. Ia tidak peduli dengan orang asing yang baru saja datang ke rumah mereka yang ingin berprofesi sebagai pembantu. Sekaligus bercita-cita untuk menggeser nyonya rumah dari posisinya.


"Baik Tuan."


Aku harus waspada pada si Santi ini. Belum juga apa-apa, sudah ketahuan bohongnya. Jangan-jangan dia kesini karena mau merusak rumah tangga Tuan dan Nyonya. Seperti yang sering ia lakukan diluaran sana. Batin Bi Ani lalu segera beranjak membuat 2 cangkir kopi untuk Hendra dan Miko.


5 menit kemudian, kopi pesanan Hendra pun sudah jadi. Bi Ani berniat mengantarkan kopi tersebut kepada pemiliknya. Namun dengan cepat tapi hati-hati, Santi si pembantu baru itu menyambar nampan yang ada di tangan Bi Ani.


"Biar saya aja, Bu yang bawa," ucap Santi.


Bi Ani tidak bisa berkata apa-apa, karena nampan itu dalam sekejap sudah berpindah ke tangan Santi.


Santi berjalan keluar sambil berlenggak-lenggok bak seorang model. Ia bermaksud menggoda si tuan rumah dengan keseksian dan kemolekan tubuh yang ia miliki.


Saat Santi datang, Hendra dan Miko sedang duduk di sofa sambil mengobrol. Tidak ada yang mempedulikan keberadaan pembantu baru itu. Santi pun lalu berjongkok di pinggir meja sambil menjadikan kedua lututnya sebagai penyangga sepasang gunung kembarnya. Hingga menjadikan kedua gunung kembar itu mencuat dan terlihat sangat jelas. Sedikit lagi kedua benda itu menyembul keluar. Ia sengaja menjadikan gundukan putih nan indah miliknya sebagai alat untuk memancing hasrat kedua lelaki itu, terutamanya Hendra si Tuan rumah.


Kedua laki-laki dewasa itu tidak ada yang memperhatikan pesona si Santi. Mereka membiarkannya menganggur begitu saja. Karena merasa di abaikan, Santi pun akhirnya membuka suara agar kedua lelaki itu berbalik dan melirik keindahan yang sudah ia suguhkan sejak tadi.


"Permisi Tuan, ini kopinya." ucapnya dengan suara selemah lembut mungkin.


"Taro aja disitu," kata Hendra tanpa berbalik sedikitpun.


Miko akhirnya sadar, kalau Santi sedang berjongkok di dekat meja. Miko melihat pemandangan yang menurut sebagian laki-laki merupakan pemandangan yang indah dan mampu meruntuhkan iman. Tapi bagi Miko, pemandangan itu malah menodai matanya. Ia merasa jijik dengan wanita-wanita seperti Santi yang rela memamerkan keindahan tubuhnya untuk dilihat oleh siapapun.


Dulu, sebelum bertemu dengan Tania, Miko menyukai gadis-gadis berpakaian seksi seperti kebanyakan gadis di kotanya. Namun setelah ia bertemu dengan Tania, gadis berhijab yang mampu mencuri hatinya pada pandangan pertama. Ia pun jadi tidak suka lagi, ia bahkan merasa risih melihat gadis-gadis yang suka memamerkan lekuk tubuh mereka.


Setelah Santi beranjak masuk, Miko pun mengungkapkan kekhawatiran yang mengganjal dihatinya sejak tadi.


"Hend, Lo liat pembantu baru Lo tadi, kan?" tanya Miko.


"Enggak, kenapa emangnya?" ujar Hendra balik bertanya.


"Gue punya firasat buruk mengenai pembantu baru Lo itu. Dan Lo sebaiknya hati-hati deh," pesan Miko.


"Maksud Lo apaan sih Mik? Gue nggak ngerti." tanya Hendra kurang mengerti.


"Lo nggak ngeliat tadi, dia sudah menodai mata suci Gue dengan kedua belahan dadanya itu," jawab Miko sambil mengusap wajahnya.


"Hah! Masa sih? Mata suci apaan, orang Lo juga udah sering liat." tuduh Hendra.


"Eh, jangan sembarangan nuduh Lo, yah. Begini-begini Gue masih suci tau, Gue masih menjaga keperjakaan Gue, ngerti." ujar Miko membela diri dari tuduhan Hendra.


Hendra tahu betul pergaulan sebagian orang di kota tempat tinggal Miko itu seperti apa.


"Ih, Lo yah, kalo dibilangin. Gue serius, emang Lo yang udah ngehamilin anak orang." ucap Miko masih tidak terima dengan tuduhan Hendra.


"Yeee emang salah ngehamilin istri sendiri," balas Hendra.


"Hahaha. Nggak salah sih. Oh iya, Gue saranin yah Hend, sebaiknya Lo cepet-cepet pecat pembantu baru Lo itu, sebelum dia bikin kacau rumah tangga Lo." ujar Miko.


"Yang bener aja Lo Mik, masa Lo nyuruh Gue mecat orang tanpa alasan." ujar Hendra.


"Terserah Lo yah Hend, Gue cuma ngasih saran aja. Sebagai sahabat Lo, Gue itu peduli sama Lo. Gue nggak mau liat Lo mewek kalo istri Lo ninggalin Lo nantinya gara-gara perempuan murahan seperti itu." ujar Miko mengingatkan.


"Ngomong apa sih Lo Mik? Amit-amit, amit-amit jangan sampe itu terjadi. Gue nggak mau pisah sama istri Gue."


"Makanya, Lo dengerin apa kata Gue," kata Miko.


"Kenapa sih Mik, Lo nuduh orang tanpa bukti?" tanya Hendra.


"Ah, sok polos Loh. Liat aja penampilannya tadi, dari penampilannya aja Gue udah mutusin kalo dia itu bukan perempuan baik-baik. Perempuan yang berpenampilan kayak gitu, masuk dalam kategori spesies wanita penggoda. Ngerti Lo!"


"Hahaha. Bisa aja Lo, Mik bercandanya. Eh, Lo jangan suka nilai orang dari penampilannya doang. Siapa tau Lo salah." ucap Hendra.


"Gue nggak mungkin salah Hend, Di restoran Gue, Gue sering nemuin perempuan-perempuan model begitu kencan dengan om-om berduit dan dengan orang berbeda setiap minggunya." jelas Miko.


"Ah, Elo Mik. Awas aja yah, kalo Lo sampe kecantol sama pembantu baru itu," ledek Hendra.


"Ih, amit-amit jabang bayi. Gue nggak mungkin ngelupain ipar Lo demi perempuan kayak gitu," balas Miko.


"Mik, Mik. Apa bedanya Lo sama perempuan-perempuan yang Lo maksud tadi? Kenapa sih Lo harus suka sama pacar adik sepupu Gue? Emang nggak ada cewek lain apa?" tanya Hendra.


"Cewek lain sudah jelas banyak lah, Hend. Tapi yang bikin Gue klepek-klepek cuma Tania doang."


"Uh, dasar emang Lo!" ucap Hendra seraya melempar bantal ke arah Miko. Miko dengan cepat menangkap bantal itu.


"Heh, asal Lo tau ya, Hend. Sebelum Tania jadi istri adek sepupu Lo, Gue nggak bakalan nyerah. Ngerti Lo," jelas Miko seraya meninggalkan Hendra. Ia beranjak masuk ke kamarnya.


"Siap-siap aja Lo. Bentar lagi Lo bakalan mewek!" teriak Hendra.


"Gue nggak percaya!"


Miko tidak percaya kalau Tania akan jadi istri Radit dalam waktu dekat. Karena menurutnya Radit masih anak ingusan dan pasti belum berpikir untuk serius, apalagi sampai menikah dan ternyata Miko salah besar. Ia tidak tahu-menahu kalau sebenarnya Radit memang sudah melamar Tania.