How To Love You

How To Love You
Bab 200



"Tri, asal kamu tahu, aku begitu mencintaimu. Izinkan aku mendekapmu untuk yang kedua kalinya meskipun hanya didalam mimpi."


"Aku tahu saat ini aku sedang bermimpi. Tapi aku tidak tahu mengapa mimpi ini terasa begitu nyata."


"Asal kamu tahu, Tri. Saat ini aku merasa sangat bahagia bisa memelukmu seperti ini. Aku ingin mencurahkan seluruh kasih sayangku padamu."


"Aku harap, mimpi ini bisa berlangsung lebih lama."


Begitulah, Miko benar-benar tenggelam didalam mimpi indahnya. Sementara itu, disaat yang bersamaan Tantri juga sedang bergelut dengan mimpinya. Ia juga memimpikan pria yang sedang tidur satu ranjang dengannya.


"Pernah dipeluk sekali oleh, Kak Miko. Apakah aku ketagihan dengan kehangatan tubuh pria itu? Kenapa disaat kedinginan seperti ini aku malah bermimpi dipeluk lagi olehnya?"


"Ada apa denganku? Apakah aku sudah nggak waras? Kenapa bisa bermimpi yang aneh-aneh seperti itu?" Ucap Tantri dalam mimpinya. Ia melihat jelas pria dewasa itu memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Tapi kenapa rasanya benar-benar begitu nyata? Apakah karena aku masih terbawa oleh kejadian di apartemen tadi saat, Kak Miko memelukku?"


"Ah sudahlah, nggak apa-apa. Ini kan cuma mimpi. Setidaknya aku sudah nggak kedinginan lagi. Pelukan Kak Miko benar-benar hangat dan nyaman. Aku benar-benar merasa terlindungi."


Mereka berdua benar-benar tenggelam didalam mimpi yang nyata. Saat itu mereka mungkin merasakan kebahagiaan, kedamaian dan kenyamanan. Tidak tahu setelah mereka sudah sama-sama terbangun nanti. Entah akan seperti apa reaksi mereka berdua.


...**************** ...


Pukul 04.30 Pagi


Seperti biasa, alarm di ponsel Tantri berdering dengan bunyi yang cukup nyaring. Perlahan-lahan Tantri mulai mendapatkan setengah kesadarannya. Namun tidak demikian dengan Miko. Laki-laki itu masih enggan untuk mengakhiri mimpi indah yang sudah ia lalui sepanjang malam.


"Aduh, kenapa mimpinya nggak bisa berhenti sih? Padahal sudah semalaman loh," batin Tantri yang masih setengah sadar. Ia sedang berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan pria yang sudah memeluknya semalaman.


"Aduh, kenapa aku nggak bisa bergerak. Kenapa mimpi dipeluk Kak Miko nggak mau berakhir sih? Aneh,"


"Jangan pergi sayang! Meskipun ini hanya mimpi, tapi aku tidak rela mimpi indahku berakhir begitu saja. Aku masih ingin memelukmu." ucap Miko di alam bawah sadarnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu.


"Kenapa semakin lama pelukan Kak Miko semakin terasa nyata dan semakin erat?"


"Tunggu dulu! Apa aku masih bermimpi? Atau mungkin aku sedang ketindihan makhluk halus? Ah, nggak mungkin karena sebelum tidur aku nggak pernah lupa baca do'a."


"Tapi rasanya aku sedang nggak bermimpi. Ini benar-benar aneh." batin Tantri sambil berusaha mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Saat ia sudah benar-benar tersadar. Ia begitu terkejut saat ia merasa ada seseorang yang benar-benar sedang memeluknya.


"I-ini bukan mimpi. Ini kenyataan. La-lalu, si-siapa yang sedang memelukku? A-aku benar-benar sedang dipeluk oleh seseorang. Ta-tapi siapa?"  batin Tantri gemetar ketakutan. Ditambah lagi ruangan yang begitu gelap. Ia tidak bisa melihat sosok yang sedang memeluknya itu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia takut terjadi apa-apa pada dirinya.


"Aaaaargh." Tantri berteriak dengan sangat kencang. Namun sayang, sekeras apapun ia berteriak, tidak akan ada yang mendengar teriakannya diluar kamar karena kamar yang ia tempati itu kedap suara.


Teriakan Tantri yang teramat kencang membuat Miko terbangun dari mimpi indahnya. Laki-laki itu segera melepas pelukannya lalu terburu-buru bangun untuk mencari saklar lampu yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya.


"Ada apa? Ada apa? Siapa yang berteriak dikamarku?" Seketika Miko menjadi terkejut dan sangat panik. Saat ruangan itu sudah dipenuhi cahaya lampu yang terang benderang, ia begitu terkejut melihat sosok gadis yang berada diatas satu ranjang dengannya.


"Tantri!"


"Ap-apa maksudnya ini? Kenapa kamu bisa tidur dikamarku, Tri?" tanya Miko gugup. Mereka berdua akhirnya tersadar kalau kejadian semalam bukanlah mimpi. Keduanya merasa sangat malu mengingat apa yang telah mereka perbuat.


"Ha-harusnya aku yang nanya, Kak. Ke-kenapa, Kak Miko bisa tidur disini juga? Padahal pintunya sudah aku kunci," jelas Tantri sambil menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya yang masih lengkap dengan pakaian tidurnya.


"Ini kan kamarku," jawab Miko. Ia tidak mau semua kesalahan dilimpahkan padanya sepenuhnya dalam kejadian ini.


"Iya, aku tau. Tapi kata Tante Melda, Kak Miko sudah lama nggak mau pulang ke rumah ini. Makanya Tante Melda nyuruh aku menempati kamar ini." jelas Tantri tidak mau balik disalahkan.


"Jadi, Mama yang menyuruh kamu menempati kamar ini?"


"He'em," gumam Tantri sembari mengangguk.


"Yah sudah, kalau begitu biar aku saja yang pindah ke kamar sebelah." putus Miko kemudian.


"Nggak usah, Kak. Biar aku aja. Ini kan kamarnya, Kak Miko. Karena, Kak Miko sudah kembali, jadi lebih baik aku aja yang pindah kamar."


"Tidak apa-apa. Biar aku saja yang pindah. Kamu tetap tidur disini,"


"Tapi, Kak."


"Sudah, tidak apa-apa. Kamu tetap disini, tidak usah pindah."


Miko beranjak keluar meninggalkan kamarnya, ia ingin pindah dikamar tamu disebelah kamarnya. Kebetulan kamar itu juga kosong, jadi ia bisa menempatinya.


"Begitu banyak kamar yang kosong dirumah ini. Kenapa Mama malah menyuruh Tantri untuk tidur dikamarku." batin Miko tidak habis pikir.


"Jadi semalamam aku tidak bermimpi,"


Sebenarnya Miko merasa sangat senang dan bahagia bisa memeluk gadis kesayangannya itu semalaman. Tapi ia juga khawatir kalau Tantri berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


"Aish, apa yang harus aku katakan pada Tantri nanti soal aku memeluknya semalaman saat aku sedang tertidur?"


"Jangan sampai dia berpikir kalau aku ini laki-laki mes*m."


"Bagaimana aku menghadapi anak itu nanti?"


Ahh sial! Mulai sekarang aku harus bisa menahan diri meskipun didalam mimpi. Batin Miko sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Memangnya bisa begitu?"


Haish, sudahlah. Rasa kantukku jadi hilang. Batin Miko sambil bermonolog dengan dirinya sendiri.


Miko memutuskan untuk berjalan menuruni tangga. Ia tidak jadi masuk ke kamar tamu. Rasa kantuknya jadi hilang seketika memikirkan bagaimana cara ia menghadapi gadis pujaan hatinya itu ke depannya.