How To Love You

How To Love You
Hari H



"Sayang ... Sayang. Ayo bangun, kita sudah sampai di depan rumahmu." Hendra membangun Tasya tanpa menyentuhnya.


Tasya terbangun dari tidurnya. Semalam gadis itu memang kurang tidur, jadinya sampai tertidur di dalam mobil.


"Hm. Kita sudah sampai ya? Hoam ... maaf Kak, saya ketiduran."


Tasya memperbaiki posisi duduknya.


"Tidak apa-apa. Aku tahu, pasti semalam kamu kurang tidur 'kan gara-gara memikirkan aku." Hendra tersenyum setelah mengucapkannya.


"Ah, mm ...."


Tasya tidak tahu harus berkata apa. Wajahnya seketika bersemu merah mendengar godaan calon suaminya itu.


Ya ampun, ternyata kak Hendra orangnya narsis banget.


"Benar, 'kan? Tuh, muka kamu sampai merah begitu. Hehe."


Tasya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak tidak tahu harus membalas apa ucapan Hendra.


Memang benar aku memikirkan kak Hendra, tapi gak seperti yang dia bayangkan. Batin Tasya.


"Oh iya. Besok kita pergi fitting baju pengantin di butik. Kamu ada waktu, 'kan?" tanya Hendra.


"Besok? Tapi besok saya masih kuliah, Kak."


"Kalau bukan besok, kapan lagi, Sayang? Kita 'kan tidak punya banyak waktu lagi. Waktu terus bergulir, semakin hari pernikahan kita semakin dekat."


Salah sendiri, siapa suruh gak sabaran banget jadi orang.


"Ya udah deh, besok saya ijin sehari."


...----------------...


Hari demi hari mereka lalui untuk mempersiapkan acara akad pernikahan mereka. Sekarang, tibalah hari bahagia yang dinanti-nanti tersebut.


Hendra sudah menyewa perias terbaik dari kota Kartaja untuk calon istrinya. Meskipun acaranya masih belum besar-besaran, tapi pemuda itu ingin memberikan yang terbaik untuk calon istrinya.


Pernikahan hanya ingin Hendra lakukan sekali seumur hidup, yaitu hanya bersama dengan gadis yang sangat dia cintai selama beberapa tahun terakhir, yaitu Tasya. Maka dari itu, Hendra ingin memberikan segalanya yang terbaik untuk calon istrinya tersebut.


Sekarang Tasya sudah selesai dirias, gadis itu juga sudah siap dengan gaun pengantinnya. Dia terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan gaun pengantin muslimah mewah berwarna putih. Ditambah lagi dengan riasan yang sempurna.


Saat ini gadis itu sedang duduk di dalam kamarnya ditemani kedua adik perempuannya dan Dewi sahabat baiknya.


Kamar itu sudah didekorasi secantik mungkin untuk ditempati kedua mempelai nanti setelah acara selesai.


"Wah, Kak Tasya cantik sekali." puji Tania.


Tania sangat takjub melihat hasil lukisan tangan MUA ternama pada wajah cantik kakaknya.


"Iya. Kak Tasya cantik sekali, mirip boneka," tambah Tantri, sambil memegang kedua pipinya dengan gemas.


"Kamu beneran cantik banget, Tasy. Kak Hendra pasti tambah klepek-klepek," timpal Dewi.


"Ah, kalian bisa aja. Aku jadi malu." Tasya tersenyum malu-malu mendengar pujian ketiga gadis itu.


"Kak Tasya beruntung sekali dapat kak Hendra, aku jadi iri," ujar Tantri.


"Kamu tau apa sih anak kecil? Pakai iri-iri segala," kata Tania, sedikit sewot.


"Eh, jangan salah. Justru Kak Tania yang gak tau apa-apa," balas Tantri tidak mau kalah.


"Kamu tuh." Tania juga sama, tidak mau kalah seperti Tantri.


"Eh, sudah-sudah. Gak usah berantem. Kalian berdua, nanti kalau Kakak udah gak tinggal di sini lagi, kalian akur-akur ya. Jangan suka berantem atau pun berdebat seperti tadi. Dan juga jangan lupa bantuin ibu sama ayah. Kalian harus janji sama kakak kalian berdua bakal jadi anak baik. Ya," pesan Tasya pada adik-adiknya.


Tasya mengelus-elus kepala kedua adiknya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tania dan Tantri memeluk kakaknya. Tidak terasa buliran-buliran bening mengalir di pipi mereka.


"Kak Tasya ...."


Dewi ikut terharu menyaksikan ketiga bersaudara itu berpelukan.


"Aah, aku jadi terharu." Dewi menyeka ujung matanya dengan tissu, takut riasannya luntur kalau dia ikutan menangis.


"Loh, kalian kenapa berdua kenapa menangis? Nanti make up kalian luntur loh. Hehe." Tasya menggoda kedua adiknya itu.


Keduanya pun tersenyum mendengar ucapan kakaknya seraya menyeka air mata mereka.


"Kalian gak usah sedih. Rumah suami Kakak 'kan gak jauh dari sini. Kalian bisa main ke sana sesuka kalian kalau kalian mau."


"Beneran, Kak?" tanya Tania dan Tantri bersamaan.


"Iya," jawab Tasya sembari tersenyum.


"Yeay, asik ...." Tania dan Tantri terlihat sangat senang.


"Kak, kalau begitu kami keluar dulu ya, siapa tahu ada yang butuh bantuan kami di luar," ucap Tania.


"Iya, kalian keluarlah."


Setelah Tania dan Tantri keluar dari kamar, kini tinggal Tasya dan Dewi saja di dalam kamar tersebut.


"Tasy, aku gak nyangka loh kamu bakal berjodoh sama kak Hendra. Soalnya kamu dulu 'kan cuek banget sama dia," ujar Dewi.


"Ya namanya juga jodoh, Wi gak ada yang tau. Kan Allah yang nentuin," jawab Tasya.


"Kalau aku jadi kamu pasti aku bakalan jadi perempuan yang paling bahagia di seantero jagad raya ini."


Tasya tersenyum. "Lebay kamu, Wi."


"Aku gak lebay, Tasy. Kak Hendra itu perjuangannya luar biasa banget. Jarang banget loh ada laki-laki seperti itu didunia ini. Kalau pun ada, satu banding sejuta."


Tasya kembali tersenyum mendengar ucapan sahabatnya tersebut.


"Oh iya Tasy, bagaimana perasaan kamu ke kak Hendra sekarang?" tanya Dewi.


"Aku juga gak tahu sih sebenarnya. Mm ... biasa aja sih kayaknya," jawab Tasya.


"Oh, jangan khawatir. Perasaan cinta kamu nanti 0perlahan-lahan bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu dan seiring dengan kebersamaan kalian. Ditambah lagi suami kamu begitu tampan dan baik hati. Siapa yang gak klepek-klepek juga lama-lama sama dia?" Dewi mencoba meyakinkan Tasya.


"Benarkah? Semoga aja benar begitu ya, Wi. Karena kalau gak, pasti aku gak bakalan hidup bahagia nantinya dengan rumah tanggaku," ucap Tasya dengan suara melemah.


Sejujurnya, sejak minggu kemarin, gadis itu memiliki banyak sekali kekhawatiran mengenai banyak hal. Terutamanya mengenai kebahagiaannya nanti saat berumah tangga dengan Hendra, laki-laki yang belum dia cintai yang sebentar lagi akan mempersuntingnya.


"Iya, aku sangat yakin, kak Hendra nanti pasti bisa membuat kamu jatuh cinta padanya. Selama ini kamu hanya belum mengenalnya dengan baik, makanya kamu belum tertarik padanya," kata Dewi seraya merangkul bahu Tasya. Gadis itu mencoba untuk menyemangati sahabatnya tersebut.


Tok tok tok!


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


"Apa aku boleh masuk?!"


Terdengar suara laki-laki yang berteriak di luar pintu.