How To Love You

How To Love You
Hidup Bersama



Usai mendapatkan ucapan terima kasih seperti yang dia minta, Hendra pun segera menarik tangan istrinya menuju lemari pakaian yang memang sengaja dia siapkan untuk Tasya.


"Bukalah, Sayang. Ini adalah lemari pakaianmu."


Karena penasaran, Tasya pun langsung membuka pintu pertama lemari tersebut. Lemari besar itu terdapat 4 pintu, setiap pintu berbeda isinya.


Pintu pertama, isinya gamis satu set dengan hijab, beserta gaun pesta muslimah. Jumlahnya lumayan banyak dan tentunya cantik-cantik.


Selera kak Hendra bagus juga.


Tasya merasa sangat puas dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh suaminya tersebut.


Sementara itu, Hendra memilih untuk duduk di sofa menyaksikan istrinya memeriksa pakaian-pakaian yang sudah dia siapkan.


Setelah Tasya merasa cukup untuk melihat-lihat isi pintu lemari yang pertama, dia pun lalu memeriksa isi pintu lemari yang kedua. Isinya adalah pakaian-pakaian seperti yang biasa Tasya gunakan saat pergi ke kampus. Yaitu baju lengan panjang model kemeja atau pun blouse, rok, hijab segi empat dan pashmina, beserta kaos kaki danperlengkapan lainnga yang sudah tersusun rapi di dalam lemari tersebut.


Selanjutnya Tasya membuka pintu lemari yang ketiga, isinya pakaian sehari-hari. Baju daster kekinian dan pakaian santai lainnya yang bisa Tasya pakai saat di rumah.


Dan isi pintu lemari yang ke empat atau yang terakhir membuat Tasya penasaran.


Kira-kira isinya apa yah? Bukankah yang sebelum-sebelumnya sudah lengkap? Batinnya lalu membuka lemari itu dengan cepat.


Ngeek.


Pintu lemari yang ke empat pun terbuka, Tasya sangat terkejut bercampur malu melihat isinya. Dengan cepat dia menutup kembali pintu lemari tersebut. Lalu memutar badan menatap Hendra yang sedang duduk di sofa dengan tatapan yang sulit diartikan. Lebih tepatnya tatapan kekeksalan.


Hendra menahan tawanya melihat ekspresi wajah istrinya. Pemuda itu lalu bertanya, "Bagaimana, Sayang? Apa kamu suka semuanya?"


Tasya tertawa dibuat-buat. "Ya, tentu saja, Sayang. Saya suka semuanya."


"Termasuk ... isi rak terakhir?" tanya Hendra lagi. Dia memang sengaja menggoda istrinya.


Tasya terdiam. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Tasya yang satu itu. Dia benar-benar merasa sangat kesal dan malu. Sampai-sampai wajahnya merona kemerahan.


"Kamar mandinya di mana, Sayang? Aku mau masuk toilet sebentar," tanya Tasya.


Dia takut kesasar karena di dalam kamar itu banyak sekali pintu. Jangan sampai dia salah masuk.


"Itu."


Hendra menunjuk pintu putih yang ada di sudut kamar kanan.


Setelah mengetahui letak kamar mandinya, Tasya pun segera berlari masuk ke kamar mandi tersebut.


"Jangan lari-lari, Sayang! Kamar mandinya tidak akan kabur!" teriak Hendra saat melihat istrinya berlari seperti anak kecil.


Tasya tidak mempedulikan teriakan Hendra, tetap saja dia berlari menuju kamar mandi seperti orang kebelet buang air.


Kak Hendra apa-apaan sih? Aku 'kan sudah bilang, aku gak mau memakai baju tidur kekurangan bahan seperti itu. Kenapa dia membeli banyak sekali? Pokoknya aku gak mau pakai baju tidur memalukan seperti itu.


Setelah memasuki kamar mandi, Tasya memutar bola matanya melihat keadaan di dalam kamar mandi tersebut.


"Di sini gelap sekali. Saklar lampunya di mana, ya?" katanya lalu meraba-raba dinding dekat pintu.


Lampu menyala. Sekali lagi Tasya harus dibuat melongo melihat isi kamar mandi kamar barunya. Dia bahkan langsung melupakan baju tidur sekzi yang sempat membuatnya kesal tadi.


"Wah ... kamar mandinya luas banget. Bahkan tiga kali lipat lebih besar dari kamarku. Cih, dasar orang kaya. Kamar mandi saja dibuat sebesar ini," katanya berbicara sendiri sambil berjalan melihat-lihat isi kamar mandi tersebut.


"Wah wah wah, benar-benar, kamar mandinya bagus banget, seperti kamar mandi hotel bintang lima yang aku lihat konten room tour para youtuber."


"Kira-kira apa ya isi di balik tirai itu?"


"Wah, ini bathup 'kan namanya kalau gak salah? Nanti aku mau coba mandi di sini sambil berendam. Biar kayak di film-film gitu. Hehe," ucapnya sambil cengengesan.


Setelah selesai melihat-lihat isi kamar mandi, Tasya pun memutuska untuk keluar dari kamar mandi tersebut.


Tiba-tiba dia salah fokus pada tempat tidurnya nanti bersama Hendra. Karena merasa kebingungan, Tasya pun menghampiri suaminya yang masih duduk disofa dan sedang sibuk main game di ponselnya.


"Sayang, apakah kamu tidak salah beli tempat tidur?"


Tasya berpikir kalau Hendra pasti sudah keliru membeli tempat tidur untuk dipakai di dalam kamar mereka.


Hendra mendongakkan kepalanya lalu meletakkan ponselnya di sampingnya.


"Sini Sayang, duduklah."


Hendra tersenyum, lalu menarik tangan istrinya untuk duduk di sampingnya.


Tasya lalu duduk bersandar di bahu suaminya karena Hendra merangkul pinggangnya.


"Aku tidak salah beli, Sayang. Aku memang sengaja membeli tempat tidur yang kecil," bisiknya di dekat telinga istrinya.


Untung saja aku masih pakai hijab. Karena kalau gak, sepertinya kak Hendra ingin memakan telingaku.


"Apakah tidak aneh Sayang kamar seluas ini tapi tempat tidurnya kecil begitu. Kasur di kamarku saja lebih besar dari tempat tidur kita."


"Apanya yang aneh sih Sayang? Lagipula, buat apa kita membeli tempat tidur yang besar kalau sebagian hanya menganggur. Iya, 'kan Sayang? Hm?" kata Hendra lalu mengecup pipi istrinya.


Hah menganggur sebagian? Apakah maksudnya kami harus saling menempel satu sama lain saat tertidur?


Membayangkannya saja membuat Tasya menelan ludah dengan susah payah.


Tidak, aku belum siap untuk hal itu. Apa yang harus aku lakukan?


Ah, aku punya ide.


"Sayang, sepertinya kasurnya tidak muat untuk kita berdua. Bagaimana kalau saya tidur di sofa saja?" kata Tasya. Dia mencoba mencari jalan untuk selamat dari Hendra.


"Kamu ini bicara apa sih Sayang? Aku tidak akan membiarkan istriku tidur di sofa," kata Hendra lalu kembali mengecup pipi istrinya.


Ini lagi. Kenapa dia suka sekali menciumku? Aku 'kan jadi risih. Aku tidak terbiasa dicium.


"Sayang, apa kamu mau kita mencobanya sekarang baru kamu mau percaya kalau tempat tidurnya itu pasti muat untuk kita tempati berdua?" goda Hendra.


Spontan Tasya berdiri. "Tidak, tidak perlu. Iya Sayang, saya percaya kok. Hehe." Tasya menolak sambil pura-pura tertawa.


"Kalau begitu, ganti dulu bajumu Sayang. Di sini tidak ada siapa-siapa selain kita berdua. Kamu tidak perlu menutupi dirimu di hadapan suamimu, 'kan?"


Tasya pun menurut, lalu mengambil sebuah daster berwarnah biru navy polos di dalam lemari.


"Sayang, bagaimana kalau saya pakai daster yang ini?" tanya Tasya, meminta pendapat suaminya.


"Bagus, Sayang. Pakai yang itu saja," jawab Hendra.


Setelah mendapat persetujuan dari Hendra, Tasya pun lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelah selesai, dia pun segera keluar menghampiri suaminya yang masih duduk di sofa.


Hendra tersenyum menatap penampilan baru istrinya. "Kamu cantik sekali, Sayang."


"Oh iya, ayo kita turun ke dapur. Aku ingin sekali memakan masakan istriku," imbuh Hendra.