How To Love You

How To Love You
Bab 198



Bu Melda dan Tantri memasuki rumah besar milik orang tua Miko. Dalam hati Tantri berdecak kagum melihat penampakan rumah besar itu dari luar hingga isi dalam rumahnya.


"Ck, ck. Ini sih bukan rumah namanya, tapi istana." batin Tantri sambil menyapukan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan yang ia lewati. Entah kemana Bu Melda akan membawanya. Ia hanya mengekor dibelakang wanita paruh baya itu sambil terus menarik kopernya.


"Pa! Papa sudah pulang," ujar Bu Melda pada seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di sofa tunggal di sebuah ruangan yang sepertinya ruang keluarga.


"Iya, Ma. Mama dari mana saja? Siapa gadis yang ada dibelakang Mama itu?" tanya Laki-laki paruh baya itu sambil meletakkan sebuah map yang sedang ia baca tadi.


"Oh, ini Tantri, Pa adik iparnya Hendra. Papa masih ingat Hendra, kan? Teman sekolah sekaligus teman kuliahnya Miko yang dulu sering main kesini bersama Kevin,"


"Tantri, kenalkan ini Om Afdal, papanya Miko." jelas Bu Melda balik berbicara pada Tantri.


"Selamat malam, Om!" sapa Tantri sambil tersenyum dan mengangguk sopan ke arah Pak Afdal. Laki-laki paruh baya itu membalasnya dengan senyuman ramah disertai sedikit anggukan.


"Iya, ingat ingat. Tapi bagaimana ceritanya, Mama bisa pulang bersama dengan adik iparnya Si Hendra?" tanya Pak Afdal bingung sekaligus penasaran.


"Begini Pa," Bu Melda kemudian menceritakan semuanya pada suaminya. Pak Afdal hanya geleng-geleng kepala sambil menghela napas lalu membuka kacamatanya mendengar kelakuan anak bungsunya.


"Yah sudah, Pa. Aku bawa Tantri naik ke atas dulu yah. Aku ingin menunjukkan kamar yang akan dia tempati selama dia tinggal disini nanti." jelas Bu Melda. Pak Afdal hanya menanggapi dengan anggukan.


"Permisi, Om."


"Silahkan." balas Pak Afdal lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Tantri  mengekor dibelakang si nyonya rumah berjalan menuju tangga. Kopernya di bawa oleh seorang asisten rumah tangga naik ke lantai atas.


Setelah sampai di lantai atas, Bu Melda kemudian berjalan menuju pintu berwarna cokelat muda sambil masih dibuntuti oleh Tantri.


"Ini kamarmu. Kamar ini sudah lama kosong. Dulunya ini kamar, Miko tapi sudah lama tidak ada yang menempati karena yang punya kamar sepertinya masih enggan untuk kembali ke rumah ini. Jadi, Tante pikir tidak ada salahnya jika kamu menempatinya selama kamu berada disini. Tante pikir Miko tidak akan keberatan kalau kamu menempati kamarnya karena sepertinya kalian berdua begitu dekat." jelas Bu Melda. Mendengar hal itu membuat Tantri jadi penasaran kenapa Miko tidak mau kembali ke rumah orang tuanya. Apakah mereka pernah ada masalah? Tanya Tantri dalam hati. Tapi gadis itu tidak berani bertanya ini itu untuk mengorek masalah keluarga si pemilik rumah. Karena hal itu sungguh sangat tidak sopan, pikirnya.


"Terima kasih, Tante."


"Baik, Tante. Saya mengerti."


"Dan ingat, jangan sampai terlambat!" tegas Bu Melda.


"Baik, Tante." jawab Tantri disertai anggukan.


Setelah Bu Melda pergi, Tantri kemudian masuk kedalam kamar itu sambil menarik kopernya. Tantri duduk di pinggir ranjang sambil masih memikirkan ucapan Bu Melda tadi. Entah kenapa ia begitu penasaran kenapa Miko pergi meninggalkan rumah dan enggan untuk kembali. Ada masalah apa sebenarnya? tanya Tantri dalam batinnya.


"Yah ampun, aku lupa kalau aku harus turun ke bawah sebelum jam 7 malam. Oh iya, jam berapa sekarang?" ucap Tantri sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Astaga! Sisa 10 menit lagi. Aku harus buru-buru membersihkan diri. Kamar mandinya dimana, yah?" ucap Tantri seketika panik sendiri.


****************


Tantri sudah kembali ke kamar. Ia merasa sangat mengantuk padahal jarum jam masih menunjuk pukul 8 malam. Mungkin ini efek perjalanan jauh yang ia lalui hari ini. Mengingat ia dan keluarganya memulai perjalanan dari rumahnya menuju bandara di kota ABC saat jam masih menunjukkan pukul 02.00 dinihari.


"Bagaimana perasaan, Kak Miko yah yang bolak-balik dari sini ke Desa T setiap minggu? Pasti sangat melelahkan," gumam Tantri.


"Aduh kenapa aku jadi mikirin, Kak Miko sih? Mending aku tidur aja sekarang daripada memikirkan hal-hal yang kurang penting."


"Hoaaaam, ngantuk banget."


Tantri pun kemudian menarik selimut lalu membaringkan tubuhnya yang kelelahan di kasur empuk milik Miko usai ia membaca do'a sebelum tidur.


Brrrr. Kenapa suhu dikamar ini dingin banget sih? Remote Ac nya dimana lagi?"


Tantri menggigil kedinginan. Karena malas bangun mencari benda kecil berbentuk persegi panjang itu, ia pun kemudian memilih untuk tertidur sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.