
Selama 3 hari tidak masuk ke tempat praktek, pekerjaan Tantri jadi menumpuk. Pagi itu ia terlihat sangat sibuk sekali. Meskipun Miko tidak ada disampingnya, tapi gadis itu sudah bisa bekerja sendiri. Selama 2 bulan magang di tempat itu, ia sudah bisa membuat buku KAS dan membuat laporan keuangan restoran.
Tantri sangat fokus dengan pekerjaannya. Sampai-sampai ia tidak menyadari kalau Miko sedang memasuki ruangan itu. Miko tersenyum melihat gadis itu begitu giat bekerja. Ia pun berjalan dengan sangat pelan ke arah Tantri sambil menyembunyikan kedua tangan dibalik punggungnya. Entah apa yang ia sembunyikan dibalik sana.
Pelan-pelan Miko berjalan menghampiri Tantri. Semakin lama jarak mereka semakin dekat. Miko tahu betul kalau Tantri selalu fokus saat bekerja. Jadi ia begitu yakin kalau gadis itu pasti tidak menyadari keberadaannya.
Saat Miko sudah berdiri tepat di depan meja kerja Tantri. Setangkai mawar merah dan sebungkus cokelat yang sudah diikat dengan pita berwarna merah sebagai pemanis yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik punggungnya segera ia ajukan menghalangi pandangan gadis itu yang tengah fokus menantap layar monitor laptopnya.
Tantri begitu terkejut. Ia pun kemudian mendongakkan kepala menatap pemilik sepasang tangan yang mengalihkan fokusnya saat ia sedang bekerja.
"Pak Miko!" ucap Tantri.
"Surprise!" ucap Miko sambil mengembangkan senyum memamerkan deretan giginya yang putih bersih dan rapi.
Kak Miko kok makin lama makin so sweet sih. Aku kan jadi baper. Batin Tantri sambil terus menatap pria tampan yang berdiri didepan meja kerjanya. Akhir-akhir ini Miko memang sering melakukan hal-hal romantis untuknya.
"Kenapa tidak kamu ambil? Kamu tidak suka, ya?" tanya Miko membuyarkan lamunan gadis didepannya.
"Eh, nggak, Pak. Saya suka kok," jawab Tantri. Seketika blush on alami muncul menghiasi pipinya.
"Terus kenapa cuma kamu lihat saja, hem? Ayo cepat ambil!" titah Miko.
Tantri pun kemudian meraih cokelat dan setangkai bunga mawar merah yang diberikan oleh Miko.
"Terima kasih, Pak Miko," ucap Tantri malu-malu. Gadis itupun kemudian mencium bunga mawar merah yang terlihat masih sangat segar dan cantik. Pasti baunya sangat harum.
"Oh iya, aku ingin bertanya satu hal padamu. Tapi kamu harus menjawabnya dengan jujur," ujar Miko.
"Apa itu, Pak?" tanya Tantri penasaran.
"Apa yang tadi kamu bicarakan dengan Jonathan?" tanya Miko menyelidik.
Bagaimana kak Miko bisa tau kalau aku pernah mengobrol dengan pak Jo tadi pagi? Apa dia menyuruh orang untuk memata-mataiku? Batin Tantri heran.
"Bagaimana, Pak Miko bisa tau kalau tadi pagi saya mengobrol dengan pak Jonathan?" tanya Tantri penasaran. Miko tidak menjawab pertanyaan Tantri. Ia hanya mengeluarkan ponselnya dari saku celananya kemudian ia menunjukkan layar ponselnya pada gadis itu yang memperlihatkan gambar mereka berdua saat itu.
"Ah, iya. Saya mengerti. CCTV," ucap Tantri seraya menepuk jidatnya sendiri.
Astaga! Kenapa kak Miko sepertinya selalu mengawasiku setiap aku nggak ada disampingnya?
"Nah, sekarang ayo cepat katakan! Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Miko penasaran.
"Ah baiklah saya akan cerita, Pak. Tadi pak Jonathan hanya menanyakan perihal kenapa saya tidak masuk bekerja selama 3 hari belakangan ini," jelas Tantri.
"Lalu kamu jawab apa?" tanya Miko lagi.
"Ya saya jawab seadanya saja kalau kesehatan saya sedang terganggu dan Pak Miko menyuruh saya beristirahat selama 3 hari. Begitu ..." jelas Tantri.
"Apa benar hanya begitu? Kenapa tadi aku melihat kalian mengobrol lama," tanya Miko menyelidik. Tantri yang merasa tidak dipercayai hanya memutar bola matanya dengan malas. Sebenarnya ia merasa kesal di perlakukan seperti itu oleh Miko.
"Pak Miko, apa saya terlihat seperti pembohong?" tanya Tantri sambil menunjuk dirinya sendiri. Miko bisa melihat kalau gadis kesayangannya itu sedang kesal padanya. Ia pun memutuskan interogasinya sampai disitu saja.
"Baiklah. Aku percaya. Lain kali kamu jangan dekat-dekat dengan Manajer itu lagi," tegas Miko.
"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Tantri bingung.
"Tidak usah banyak tanya. Turuti saja perintahku," tegas Miko lalu duduk di kursi kebesarannya. Tantri yang melihat sikap Miko yang menurutnya sangat keterlaluan di jam kerja hanya bisa mendengus kesal.
Baru aja bikin baper. Eh tiba-tiba sifat bossy menyebalkannya itu muncul lagi. Dasar bos aneh! Batin Tantri lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Jam istirahat telah tiba. Siang itu Tantri bersiap-siap untuk mengambilkan menu makan siang untuknya dan juga untuk Miko didapur restoran.
"Tri, bikinkan aku kopi!" titah Miko. Miko sangat menyukai dilayani oleh Tantri di tempat kerja karena ia membayangkan kalau gadis itu sedang menjalankan perannya sebagai seorang istri. Sebenarnya banyak pelayan yang bisa melakukan hal itu untuknya dan juga untuk menyediakan makanan untuk mereka berdua. Tapi Miko lebih senang kalau Tantri yang melakukan semua itu.
"Baik, Pak," jawab Tantri. Gadis itu pun segera beranjak menuju dapur untuk mengambil makan siang untuk mereka berdua dan secangkir kopi untuk Miko.
Beberapa saat kemudian, Tantri kembali memasuki ruangan Miko. Kali ini ia hanya membawa 1 porsi makanan dan secangkir kopi pesanan Miko. Tadi saat ia sedang berada di dapur, Anton menghubunginya dan mengajaknya untuk makan siang berdua di restoran tersebut.
"Kenapa kamu cuma bawa 1 porsi makan siang? Makan siang untukmu mana?" tanya Miko saat ia melihat hanya ada 1 porsi makan siang yang diletakkan oleh Tantri diatas meja depan sofa.
"Maaf, Pak. Siang ini saya tidak bisa menemani Anda untuk makan siang bersama. Karena saya sudah janjian dengan teman sekelas saya untuk makan siang di tempat ini," jelas Tantri.
"Teman sekelas kamu?" tanya Miko ingin memastikan.
"Iya, Pak. Teman sekelas sekaligus sahabat baik saya," jelas Tantri.
"Oh. Teman sekelas kamu magang di kota ini juga?"
"Iya, Pak. Dia juga magang di sekitar sini," jawab Tantri seadanya.
"Oh begitu," ucap Miko mengerti.
"Kalau begitu, saya permisi keluar dulu, Pak. Teman saya sudah menunggu di luar," pamit Tantri. Miko hanya membalasnya dengan anggukan.
"Jadi ternyata Sherina magang di kota ini juga," gumam Miko. Ia pun kemudian berjalan menuju sofa ingin memulai menyantap makan siangnya.
Miko salah sangka. Ia berpikir kalau Sherina lah yang datang mengajak Tantri untuk makan siang bersama. Yang ada dipikirannya, Sherina lah sahabat baik Tantri. Ia lupa kalau Tantri masih punya dua orang sahabat baik lagi yaitu Anton dan Aldo.
Tantri berjalan keluar hendak menghampiri Anton. Senyumnya mengembang saat ia melihat sosok yang sangat ia kenal sedang melambaikan tangan ke arahnya.
"Kamu udah lama nunggu, Ton?" tanya Tantri sambil mengambil tempat duduk diseberang Anton.
"Nggak kok. Tadi, waktu aku nelpon kamu aku masih ada di parkiran," jawab Anton.
"Oh. Kamu udah pesen makanan?" tanya Tantri.
"Belum. Aku nungguin kamu dulu," jawab Anton.
"Kali ini aku yang traktir, ya," ujar Tantri.
"Nggak usah, biar aku aja. Aku kan cowok," tolak Anton.
"Iya, aku tau. Tapi kali ini biar aku aja yang traktir kamu. Oke." ujar Tantri.
"Tapi, Tri. Biar aku-" ucapan Anton di potong oleh Tantri.
"Nggak apa-apa, Ton. Nanti lain kali kamu aja yang traktir," jelas Tantri.
"Yah udah deh kalo begitu," ucap Anton pasrah.
Berarti aku masih punya kesempatan buat ngajakin kamu makan lagi. Batin Anton tersenyum dalam hati.
Tantri kemudian memesan makanan. Ia memesan makanan kesukaannya yang sering ia makan bersama Miko. Setelah beberapa saat, makanan mereka pun sudah terhidang di meja mereka. Baru saja mereka ingin menyantap suapan pertama menu makan siang mereka, tiba-tiba perhatian mereka di alihkan oleh seseorang.
"Boleh aku bergabung?" tanya seorang pria yang membawa sebuah nampan berisi makanan.