
Keesokan Harinya
Pagi-pagi sekali Bu Risna datang berkunjung ke rumah anak dan menantunya. Ia membawakan sarapan untuk pasangan pengantin baru tersebut. Jarak dari rumahnya ke rumah Radit dan Tania hanya sekitar 200 meter. Cukup berjalan kaki sebentar saja, ia sudah sampai ditempat tujuan.
Bu Risna masuk kedalam rumah itu tanpa membangunkan si pemilik rumah karena ia punya kunci serep semua ruangan dirumah itu. Termasuk kamar pribadi si pemilik rumah.
"Pasti tadi malam mereka bekerja keras untuk membuatkan kami cucu." batin Bu Risna sambil cengengesan karena ia melihat pemilik rumah itu belum bangun di jam yang sudah hampir menunjukkan pukul 6 pagi.
Bu Risna meletakkan kotak makanan yang ia bawa diatas meja makan. Setelah itu, ia mengendap-ngendap menaiki tangga seperti seorang pencuri. Ia ingin mengintip si pemilik rumah didalam kamarnya. Setelah sampai di lantai atas, pelan-pelan ia memasukkan kunci yang ia ambil didalam saku dasternya kedalam lubang kunci pintu kamar Radit dan Tania.
"Semoga tidak ketahuan." batin Bu Risna.
"Klik." suara kunci pintu terbuka. Perlahan-lahan Bu Risna memutar gagang pintu kamar dengan sangat pelan. Setelah terbuka sedikit, ia pun kemudian mengintip penghuni didalamnya. Ia tersenyum senang lalu menutup kembali pintu kamar tersebut tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Sebagai seorang ibu, Bu Risna merasa sangat bahagia melihat anaknya bahagia. Padahal rasanya baru kemarin ia melihat Radit masih kecil, sekarang malah sudah beristri saja, batin Bu Risna. Ada rasa haru bercampur bahagia yang menyeruak didalam hatinya.
Usai mengecek keadaan rumah beserta pemiliknya, Bu Risna pun kembali ke rumahnya. Ia khawatir kalau Pak Rahmat sampai mencarinya karena ia pergi ke rumah anaknya tanpa memberi tahu siapapun termasuk suaminya sendiri.
***
Kamar Radit dan Tania, Pukul 08.30 Pagi
Tania menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal di saat ia merasa ada yang mengecup seluruh bagian wajahnya dengan lembut. Perlahan-lahan ia mulai membuka matanya ingin melihat keadaan dunia di hari itu untuk yang pertama kalinya.
"Selamat pagi, sayangku!" sapa Radit sambil berbaring menyamping disamping istrinya dengan menopang kepalanya menggunakan sebelah tangannya.
"Pagi juga, sayang." balas Tania dengan suara parau khas bangun tidur sambil membalas senyuman suaminya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Tania sambil mengucek kedua matanya untuk mengurangi rasa kantuknya.
"Pukul setengah sembilan," jawab Radit.
"Hah?!" Tania begitu terkejut. Seketika rasa kantuknya menghilang. Ini pertama kalinya ia bangun kesiangan.
"Kenapa kamu begitu terkejut, sayang?" tanya Radit.
"Ya jelas lah. Aku kan harus masak, Dit," jawab Tania sambil buru-buru bangkit dari posisinya.
"Eit, ralat dulu," protes Radit. Ia tidak ingin istrinya memanggilnya dengan sebutan nama. Ia maunya di panggil sayang oleh Tania.
"Eh, maaf. Aku kan harus masak, sayang. Kenapa kamu nggak bangunin aku tadi?"
"Aku nggak mau ganggu tidur kamu, sayang. Aku yakin kamu pasti kecapekan. Iya, kan?" jawab Radit sambil tangannya mulai nakal ingin menyentuh belahan dada istrinya yang sedikit kelihatan karena selimutnya sedikit melorot.
"Jangan mulai deh. Memangnya kita bakalan kenyang kalo begituan terus sehari semalam."
"Sayang, kamu ngajakin aku main sehari semalam," goda Radit.
"ENGGAK! Siapa bilang?" bantah Tania.
"Itu tadi kamu yang bilang,"
"Nggak. Aku nggak pernah bilang begitu." ucap Tania sedikit sewot sambil memanyunkan bibirnya. Ia tidak terima dengan tuduhan Radit.
"Minggir, aku mau mandi."
"Tunggu sebentar, sayang. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," cegah Radit sambil memeluk erat perut Tania yang mencoba beranjak turun dari tempat tidur.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Tania.
"Mm, kamu tau nggak,"
"Nggak."
"Aku belum selesai ngomong, sayang. Dengerin dulu," ujar Radit.
"Yah udah, apa?"
"Aku pikir kemarin adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku, ternyata aku salah. Nyatanya hari ini jauh lebih membahagiakan dari hari kemarin?"
"Kenapa? Kok bisa," tanya Tania. Ia merasa heran mendengar ucapan Radit. Bukankah sebagian orang menganggap hari pernikahan adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup mereka, pikir Tania.
"Karena hari ini, saat aku membuka mata untuk pertama kalinya, yang aku lihat adalah kamu." jawab Radit sambil membenamkan wajahnya di perut istrinya. Ia terlihat sangat bahagia, terpancar jelas diwajahnya.
"Gombal." ucap Tania malu-malu.
"Aku nggak lagi ngegombal, sayang."
"Iya, iya, aku percaya." kata Tania. Radit lalu menunjuk pipinya minta dicium.
"Yah udah, kalo gitu aku mau mandi dulu yah, sayang. Aku udah kelaparan banget nih jam segini belum sarapan," ujar Tania setelah mengecup seluruh bagian wajah yang ditunjuk oleh suaminya.
"Mandi bareng yuk!" ajak Radit.
"Tapi janji yah cuma mandi bareng aja, nggak ada embel-embel yang lain," kata Tania.
"Iya, sayang iya." jawab Radit. Ia kemudian menarik paksa selimut yang menutupi tubuh polos istrinya lalu melemparkannya ke lantai.
"KAMU MAU APA LAGI?" tanya Tania setengah berteriak. Ia tidak mau suaminya meminta jatah lagi karena ia merasa sebagian tubuhnya sudah terasa sakit dan pegal-pegal.
"Jangan salah paham, sayang. Aku cuma mau gendong kamu ke kamar mandi," jelas Radit lalu dengan cepat ia menggendong tubuh istrinya menuju kamar mandi.
"Sayang, turunin aku. Aku bisa jalan sendiri," kata Tania. Radit tidak menghiraukan ucapan Tania, ia tetap menggendong istrinya masuk kedalam kamar mandi. Selesai mandi bersama, mereka berdua lalu turun ke dapur untuk membuat sarapan. Keduanya sudah sama-sama kelaparan.
"Sayang, kamu seriusan nih nggak mau di gendong?" tanya Radit saat melihat gaya berjalan istrinya yang terlihat sedikit aneh. Ia tahu pasti istrinya merasakan sakit di area sensitifnya karena ulahnya yang mengajak istrinya bermain dan begadang sampai subuh.
"Iya, sayang. Beneran nggak usah, aku masih kuat kok." jawab Tania. Mereka pun kemudian berjalan dengan sangat pelan menuju ruang makan di lantai bawah.
"Loh, ini apa?" tanya Tania saat melihat ada kotak makanan diatas meja makan karena tadi malam saat meja itu mereka tinggal, kotak itu belum ada disana.
"Buka saja, sayang. Pasti itu dari Mama."
"Alhamdulillah, kebetulan aku memang udah laper banget," ucap Tania setelah membuka kotak makanan itu dan melihat isinya adalah nasi goreng ayam untuk sarapan mereka berdua pagi itu.