How To Love You

How To Love You
Bab 53



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


"Assalamu' alaikum." sapa Tania dan Tantri yang habis pulang jalan-jalan berdua.


"Wa'alaikum salam." semua orang yang ada didalam rumah menjawab serempak.


"Eh, ada kakak ipar." ujar Tantri yang berjalan beriringan bersama Tania.


"Hai." sapa Hendra sambil tersenyum.


"Kak Tasya." Tania berlari memeluk Tasya, ia sudah sangat merindukan kakaknya. Diikuti oleh Tantri yang sama rindunya pula.


"Kak. Kita kangen, kok kakak baru datang kesini sih." ujar Tania seraya masih memeluk kakaknya.


"Iya kak, mentang-mentang sekarang ada kakak ipar, Kak Tasya jadi melupakan kami." timpal Tantri.


"Tidak dek. Mana mungkin kakak lupa pada kalian semua. Kakak juga sangat merindukan kalian kok. Hanya saja akhir-akhir ini kakak sedikit sibuk." jelas Tasya. Tania dan Tantri pun melepaskan pelukan mereka lalu mengambil tempat duduk di seberang meja Tasya dan Hendra.


"Sibuk apaan kak? Sibuk bikinin kami ponakan yah? Ciee ..." goda Tantri.


Tania melotot sambil menyikut Tantri yang ada disampingnya. Ia kaget mendengar ucapan adiknya yang terlalu vulgar untuk gadis seusianya.


Hendra mengulum tawanya sambil meletakkan tangan kanannya didepan bibirnya melihat ekspresi wajah Tasya yang tiba-tiba merona mendengar ledekan Tantri seolah-olah membenarkan ucapan adiknya.


"Tuh kan bener. Wajah kak Tasya jadi berubah kayak kepiting rebus hahaha." ledek Tantri lalu tertawa.


"Huss sudah sudah. Sana bikin minum. Jangan goda kakakmu." tegur Bu Indah.


"Tania, bawa kue ini kedapur. Kamu potong-potong gih." perintah Bu Indah.


"Aku tahu. Ini pasti kue bikinan Kak Tasya." ujar Tania lalu beranjak ke dapur.


"Kakak ipar, mau minum apa?" tanya Tantri pada Hendra.


"Apa aja. Tidak usah repot-repot." jawab Hendra.


Tantri pun bergegas mengambil sebotol sirup dan sebotol air es yang ada didalam kulkas.


***


Setelah bertemu dengan Pak Rudi melepas rindu, Tasya dan Hendra kembali sebelum adzan maghrib berkumandang. Sebenarnya Tasya masih ingin berlama-lama disana tapi apalah daya, ia harus belajar mempersiapkan diri untuk menghadapi UASnya lusa.


Setelah sampai dirumah mereka, mereka pun masuk ke kamarnya. Tasya segera masuk kedalam kamar mandi untuk sekedar mandi membersihkan keringat yang ada ditubuhnya. Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, ia jadi tidak pernah lupa membawa pakaian ganti saat akan masuk ke kamar mandi. Ini hari pertama ia datang bulan, takutnya Hendra akan tergoda melihat tubuhnya yang molek kalau sampai ia harus mengenakan handuk pendek lagi keluar dari kamar mandi seperti waktu itu.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap, Tasya pun keluar dari kamar mandi. Hendra baru saja selesai menunaikan ibadah shalat maghrib dan duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Sayang. Sini." panggil Hendra sambil menepuk-nepuk sofa disampingnya.


Tasya mengikuti instruksi suaminya dan segera duduk disamping Hendra.


"Cantiknya istriku habis mandi." kata Hendra sambil memeluk bahu Tasya lalu mengecup pipi istrinya.


"Memang biasanya aku tidak cantik?" tanya Tasya sedikit kesal.


"Waduh. Apa aku salah ngomong yah? Kok tiba-tiba istriku jadi kelihatan kesal begitu." batin Hendra.


"Tidak. Tidak sayang. Kamu selalu cantik meskipun sedang berkeringat sekalipun." jelas Hendra mencoba menghibur istrinya yang tadi kelihatan kesal.


"Sayang ... kamu bilang aku bau?" ujar Tasya terlihat semakin kesal.


"Waduh. Salah lagi. Kapan aku bilang kamu bau sayang?" batin Hendra kebingungan.


"Yah ampun. Istriku kan lagi mens. Kata orang, perempuan yang lagi mens itu sensitif banget. Pasti gara-gara itu. Bisa berabe nih kalo diladenin terus." batin Hendra. Ia mulai mengerti titik permasalahannya.


"Sayang ... Aku kan tidak pernah bilang kamu bau. Sini aku peluk, aku kangen sama istriku yang paling tercantik di dunia." rayu Hendra. Ia memeluk Tasya dan menyandarkannya pada dada bidangnya. Sesekali Hendra mencium puncak kepala istrinya.


"Kok kangen sih sayang. Aku kan disamping kamu terus 24 jam non stop setiap harinya." protes Tasya.


"Oh iya satu lagi sayang. Jelas paling cantik lah, memangnya kamu punya istri yang lain selain aku apa?" imbuh Tasya sedikit sewot.


"Ampun dah. Memang bener-bener dah perempuan kalo mens, sensi banget. Jadi serba salah akunya. Ngomong gini salah, ngomong gitu juga salah. Semerdekanya kamu deh sayang. Aku nggak mau ladenin kamu. Nanti jadi ribet. Hadeuh." batin Hendra sambil geleng-geleng kepala melihat Tasya yang tidak seperti biasanya.


"Sayang. Apa kamu mau aku pijit?" tawar Hendra.


Tasya mengangkat kepalanya sambil tersenyum.


"Memangnya boleh sayang?" tanya Tasya.


"Yah boleh lah sayang. Kan aku sendiri yang mau melakukannya. Bukan kamu yang nyuruh." jawab Hendra santai.


"Sayang. Kamu pengertian banget sih. Tahu aja kalau badan aku lagi pegel-pegel gara-gara datang bulan." ujar Tasya terharu sambil tersenyum senang karena Hendra tahu cara memperlakukannya.


"Ayo kita pindah ke kasur!" ajak Hendra. Mereka pun bergegas naik ke tempat tidur minimalisnya.


Tasya tengkurap di atas kasur sedangkan Hendra bersila disampingnya. Hendra memulai memijat-mijat istrinya.


"Enak tidak pijatanku sayang?" tanya Hendra meminta pendapat Tasya.


"Iya sayang. Lumayan." jawab Tasya.


"Betis kamu mau dipijit juga?" tanya Hendra.


"Terserah kamu saja sayang. Asal kamu tidak keberatan." jawab Tasya sambil memejamkan matanya karena menikmati pijatan Hendra.


Hendra yang awalnya hanya memijat betis Tasya kini perlahan-lahan naik ke paha. Senyum nakalnya mulai terhias di bibirnya. Ia lalu kembali menggerakkan tangannya memijat betis istrinya lalu perlahan-lahan naik ke paha hingga ke bokong. Tasya menggeliat karena geli.


"Sayang ih geli tahu." ucap Tasya.


Hendra makin senang melihat reaksi Tasya. Ia lalu menarik badan istrinya lalu menelentangkannya.


"Sayang. Kamu mau apa?" tanya Tasya yang bingung melihat senyum nakal suaminya.


"Mau apa? Tentunya mau dapat bayaran dong sayang." ucap Hendra sambil tersenyum menaik turunkan alisnya. Ia lalu memiringkan tubuhnya disamping Tasya sambil menopang kepalanya dengan sebelah tangannya.