
Usai makan malam, Radit dan Tania menonton televisi diruang tengah rumah mereka. Setengah jam kemudian, Radit mengajak istrinya untuk beristirahat dikamar.
"Sayang. Ke kamar, yuk! Kamu jadi dipijit, kan?"
"Mm, sebentar lagi, sayang. Filmnya lagi seru-serunya." jawab Tania beralasan. Sebenarnya ia hanya ingin mengulur-ulur waktu agar Radit sampai ketiduran menunggunya.
Radit yang sudah tidak sabar ingin memulai acara inti malam pertama mereka segera meraih remot yang ada diatas meja kemudian mengarahkan remot itu pada televisi lalu memencet tombol merah pada alat elektronik berukuran kecil dan berbentuk persegi panjang tersebut. Ia tidak mau menerima alasan apapun dan ia juga tidak mau malam pertama mereka tertunda hanya gara-gara istrinya lebih mementingkan menonton film.
"Malam pertama kita jauh lebih seru daripada menonton drakor itu, sayang." batin Radit.
"Loh, kenapa Tv-nya dimatiin, sayang?" tanya Tania.
Radit tidak menjawab pertanyaan istrinya. Dengan cepat ia menggendong tubuh mungil Tania ala bridal style menaiki tangga menuju kamar mereka di lantai atas. Tania yang ketakutan digendong ditangga hanya bisa mengalungkan tangannya di leher Radit erat-erat.
"Jangan takut, sayang! Suamimu ini sangat kuat," ucap Radit mencoba meyakinkan istrinya agar tidak perlu takut dan khawatir.
"Bukan itu, Dit. Eh, sayang. Kalau kita jatuh ditangga bagaimana? Bisa meninggal kita. Kalau pun nggak meninggal, kita bisa cacat gara-gara patah tulang." ucap Tania mengungkapkan ketakutan dan kekhawatirannya.
"Makanya jangan banyak gerak. Cukup diam saja, sayang." kata Radit sambil melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu demi satu.
Setelah masuk ke dalam kamar, Radit lalu membaringkan tubuh istrinya dengan sangat pelan dan lembut di tempat tidur. Jantung keduanya berdegup sangat kencang. Sepertinya aktifitas baru itu cukup membuat sepasang pengantin baru itu deg-degan bahkan sebelum memulai acaranya.
"Sayang, bagaian mana yang mau dipijit?" tanya Radit sambil duduk dipinggir ranjang disamping istrinya.
"Nggak sayang, nggak usah. Aku udah nggak capek lagi. Aku hanya mengantuk dan ingin tidur." jawab Tania sambil berpura-pura menguap. Mungkin dengan berpura-pura tidur Radit tidak akan mengajaknya melakukan malam pertamanya sekarang, pikir Tania. Ia pun kemudian memejamkan matanya agar Radit percaya kalau ia benar-benar sangat mengantuk.
"Jangan tidur dulu dong, sayang!" larang Radit.
"Hoaaam, kenapa emangnya?" tanya Tania pura-pura tidak mengerti.
"Memangnya kamu nggak mau melakukannya malam ini bersamaku?" tanya Radit.
"Sayang, apa aku boleh meminta hakku sebagai suamimu?" tanya Radit lirih sambil menatap lekat wajah istrinya dengan penuh harap. Pipi Tania kembali merona. Setelah beberapa saat terdiam, Tania pun kemudian menjawab pertanyaan suaminya dengan sekali anggukan. Karena tidak mungkin ia menolak permintaan suaminya untuk urusan yang satu itu.
Radit tersenyum senang melihat Tania memberinya ijin untuk melakukannya. Pelan-pelan ia mulai menciumi bibir mungil milik istrinya. Tania hanya mengikuti permainan suaminya. Semakin lama ciuman mereka semakin panas. Tanpa melepas pangutannya, tangan Radit mulai menyelinap masuk ke dalam piyama Tania.
Setelah tangannya cukup lama bermain-main dengan dua buah gundukan yang kenyal dan padat itu, ia pun kemudian membuka kancing baju istrinya satu per satu. Ia ingin melihat sendiri secara langsung seperti apa penampakan mainan barunya itu. Ia begitu terpesona dengan dua buah benda yang baru pertama kali ia lihat secara langsung. Biasanya ia hanya melihat benda seperti itu di film biru yang pernah ia tonton.
Radit tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menyentuh mainan barunya. Setelah cukup lama bermain-main sekaligus melakukan pemanasan, ia pun ingin segera berpindah ke tahap berikutnya, yaitu memulai acara inti. Setelah tubuh mereka sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun, Radit pun ingin segera menancapkan senjata tumpul miliknya yang sudah mengalami er*ksi dari tadi.
Radit terus berusaha menancapkan senjatanya. Namun sepertinya ia agak kesusahan membobol pertahanan Tania untuk yang pertama kalinya. Sampai-sampai tubuhnya mengeluarkan banyak keringat, terutama dibagian dahinya.
"Sayang, sepertinya punyaku nggak muat, makanya punya kamu nggak bisa masuk." ucap Tania malu-malu. Ia melihat senjata suaminya lumayan besar.
"Pasti muat kok, sayang. Tenang saja, aku akan berusaha lebih keras lagi. Kamu tahan, yah." ujar Radit meyakinkan. Ia pun kemudian berusaha sekuat tenaga hingga sepertiga bagian senjatanya sudah berhasil masuk ke dalam sarang.
"Dret dret." Ponsel Radit kembali berdering diatas meja nakas.
"Siapa sih? Ganggu aja," batin Radit. Ia memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut. Ia merasa tanggung jika harus menghentikan aksinya yang sedikit lagi berhasil. Ia melihat senjata miliknya sudah dilumuri dengan cairan yang bercampur dengan sedikit bercak darah.
"Sakit yah, sayang," ucap Radit.
"He'em." jawab Tania sambil mengangguk. Saking sakit dan perihnya, air matanya sampai keluar.
"Tahan, yah. Tinggal sedikit lagi," ucap Radit.
Ia pun kembali berusaha sekuat tenaga hingga akhirnya ia berhasil membenamkan seluruh senjatanya. Setelah itu ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur secara berulang-ulang.
"Dret dret." Ponsel milik Radit kembali berdering. Tapi Radit masih memilih mengabaikannya kembali. Ia tidak mau acara malam pertamanya terganggu. Setelah ponsel Radit berhenti berdering, kini gantian ponsel milik Tania yang berdering.