How To Love You

How To Love You
Bab 145



"Ka-Ka," ucap Tania terbata.


Tania seolah tidak percaya melihat sosok yang ada dihadapannya dan dengan mata kepalanya sendiri.


"Kenapa kamu melihatku seperti melihat hantu begitu sih?" tanya Pria itu.


"I ini beneran? Asli?" tanya Tania lalu mencolek pipi Pria itu menggunakan jari telunjuknya.


"Yah iyalah, memangnya kamu pikir aku ini punya copy-an," jawab Pria itu sembari tertawa kecil.


"Eh, eng nggak kok, Kak." ujar Tania.


Tania merasa malu sendiri karena telah menyentuh pipi Pria itu.


"Oh iya, ngomong-ngomong yang punya rumah pada kemana?" tanya Pria itu lagi.


"Ada diatas Kak, dikamar," jawab Tania.


"Dasar! Mentang-mentang pengantin baru, bawaannya dikamar mulu." umpat Pria itu.


Tania hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Pria itu.


"Oh iya, tamunya tidak diajak duduk nih, berdiri aja?" kata Pria itu.


"Eh, hehe maaf Kak. Silahkan duduk!" ujar Tania.


Pria itu pun lalu mengambil tempat duduk di meja makan.


"Kok nggak bilang sih Kak kalo mau datang, kan bisa dijemput di bandara." ujar Tania seraya duduk di seberang meja Pria itu.


"Tidak perlu, lagian aku ini kan laki-laki, apa yang perlu dikhawatirkan?" jawab Pria itu.


"Bukan begitu Kak. Emangnya Kakak nggak takut nyasar? Soalnya desa ini kan jauh dari bandara," jelas Tania.


"Yah enggaklah, selama alamatnya benar tidak mungkin aku kesasar." ucap Pria itu.


"Iya juga yah. Oh iya, Kak Miko udah makan belum?" tanya Tania.


"Mm, belum." jawab Miko.


Sebenarnya Miko belum satu jam yang lalu makan di warung. Tapi karena Tania yang mau menyiapkan makanan untuknya, jadi ia pikir ini sesuatu yang langka. Ia pun memilih berbohong hanya untuk dilayani oleh Tania. Ia tersenyum melihat Tania yang begitu cekatan menyiapkan makanan untuknya.


"Kamu memang sudah pantas jadi seorang istri. Kalau kita nanti menikah, pasti rasanya seperti ini. Kamu menyiapkan makanan untukku saat aku pulang bekerja." batin Miko tersenyum.


Miko bahkan membayangkan dirinya sudah berumah tangga dengan Tania.


"Silahkan dimakan Kak!" seru Tania setelah makanannya siap.


"Iya, terima kasih." balas Miko.


Miko pun mulai menyantap makanan yang dihidangkan oleh Tania.


"Kok nggak bilang-bilang sih, Kak kalo mau datang kesini?" tanya Tania sembari mengambil tempat duduk diseberang Miko.


"Harusnya aku yang bertanya, kenapa nomormu tidak pernah aktif? Aku pikir kamu sudah ganti nomor," balas Miko lalu memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Masa sih? Aktif kok, aku nggak pernah ganti nomor." jawab Tania bingung.


"Iya, aku serius. Selama 2 minggu terakhir aku selalu menghubungi kamu, tapi tidak bisa tembus." jelas Miko.


"Apa, 2 minggu terakhir Kak?" tanya Tania.


Tiba-tiba ingatannya memutar kejadian 2 minggu yang lalu. Kejadian yang membuatnya marah besar pada Radit.


"2 Minggu yang lalu? Apa jangan-jangan," batin Tania.


"Apa Kak Miko pernah menghubungiku 2 minggu yang lalu?" tanya Tania ingin memastikan kecurigaannya.


"Iya pernah, tepatnya memang 2 minggu yang lalu. Waktunya juga hampir sama persis dengan sekarang. Mungkin waktu itu kamu sedang sholat zhuhur, makanya kamu tidak menjawab panggilanku. Waktu itu aku lupa kalau waktu ditempatku lebih lambat 1 jam dari tempat tinggalmu. Makanya aku putuskan untuk menghubungimu setengah jam kemudian. Tapi sayang, nomormu tidak pernah bisa dihubungi sampai sekarang." jelas Miko panjang lebar.


"Aku mengerti sekarang, pasti gara-gara ini Radit marah besar dan cemburu waktu itu. Hingga ia nekat berbuat kurang ajar padaku. Aku ingat, kalo waktu itu dia memang membahas tentang hadiah yang diberikan oleh Kak Miko. Dia juga marah karena Kak Miko sering menghubungiku. Pasti dia yang sudah memblokir nomor Kak Miko di ponselku. Tapi aku paling nggak suka dengan cara Radit yang selalu kurang ajar dan seenaknya kalo lagi cemburu. Huh, dasar cowok bre***ek, menyebalkan." batin Tania.


"Kamu kenapa, kok bengong?" tanya Miko menyadarkan Tania dari lamunannya.


"Eh, nggak apa-apa kok Kak. Cuma sedikit ngantuk aja." bohong Tania.


"Oh, yah sudah. Kamu istirahat aja sana." perintah Miko.


"Nanti aja Kak, aku tungguin Kak Miko dulu. Lagian kan nggak sopan namanya kalo ninggalin tamu sendirian." ujar Tania.


Miko hanya tersenyum menanggapi ucapan Tania sembari terus berusaha menghabiskan makanannya. Ini pertama kalinya ia makan siang 2 kali dalam kurun waktu 1 jam. Apalagi dalam porsi yang lumayan banyak. Ia merasa sangat kekenyangan sekali, perutnya terasa penuh, begah dan tidak nyaman. Ia juga pantang menyisakan makanannya karena ia tipe orang yang sangat menghargai makanan.


"Oh iya Kak Miko disini mau tinggal beberapa hari?" tanya Tania.


"Belum tau, tapi sepertinya akan lumayan lama." jawab Miko.


"Memangnya siapa yang akan mengelola dan memantau restoran Kak Miko kalo Kak Miko berlama-lama disini?" tanya Tania lagi.


"Soal itu, kamu tidak usah khawatir. Aku punya manajer hebat yang sangat bisa aku andalkan di setiap restoranku. Dia akan mengirimiku laporan melalui email. Dan aku juga bisa memantau ketiganya tanpa perlu kesana langsung. Karena sejak dulu aku sudah memasang cctv disetiap sudut ruangan. Aku bisa memantaunya melalui ponselku." jelas Miko.


"Oh, begitu yah Kak." ucap Tania mengerti.


"Oh iya, kalau kamu mau belajar memasak ala chef restoran, kamu bisa memutar rekamannya di ponselku. Aku juga sudah memasang cctv didapur," ujar Miko.


"Wah, beneran Kak?" tanya Tania antusias.


Tania memang suka memasak, sama seperti Tasya kakaknya.


"Iya, aku serius. Kalau perlu gurunya yang turun tangan mengajari kamu," kata Miko.


"Gurunya? Maksud Kak Miko, siapa?" tanya Tania kurang mengerti.


"Yah, orang yang ada didepan kamu sekarang." jawab Miko.


"Seriusan Kak, kakak bisa masak?" tanya Tania.


"Iya serius, menurut kamu darimana aku bisa punya restoran kalau aku tidak bisa memasak? Yah meskipun sebenarnya, restoran yang pernah kamu datangi bersama keluargamu itu adalah usaha orang tuaku dulu, aku hanya meneruskannya. Kalau 2 restoran lainnya, itu baru aku yang dirikan." jelas Miko.


"Wah hebat dong. Oh iya, darimana Kak Miko belajar masak?" tanya Tania penasaran.


"Dari Papa dan Mamaku. Dulu, mereka berdua adalah chef terkenal dan chef nomor 1 di kota kami. Makanya restoran yang mereka bangun dulu berkembang pesat hingga sekarang." jelas Miko.


"Wah, hebat sekali yah Kak. Beruntung sekali perempuan yang bisa menjadi istri Kak Miko nanti." puji Tania.


"Iya, Alhamdulillah. Eh, kamu mau nggak jadi perempuan yang beruntung itu?" tanya Miko.


"Ih, Kak Miko ada-ada aja. Aku masih kecil Kak, belum siap nikah. Kak Miko nyari aja yang seumuran." ujar Tania yang menganggap ucapan Miko sebagai candaan belaka.


"Kamu ngatain aku tua?" canda Miko.


"Eh, ng nggak kok Kak." jawab Tania sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya didepan dadanya.


"Hahaha. Kamu lucu sekali Tania. Oh iya, umur kamu berapa sekarang?" tanya Miko.


"18 Tahun Kak." jawab Tania.


"Ah, kita cuma beda 8 tahun kok. Tidak jadi masalah," ujar Miko.


"Maksud Kak Miko?" tanya Tania kurang mengerti.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Oh iya, lain kali aku akan mengajarimu memasak masakan ala restoran mewah. Kamu mau, kan?" tanya Miko.


"Mau mau Kak. Mau banget malah." jawab Tania antusias.


Miko tersenyum melihat Tania begitu bersemangat. Setelah Miko selesai makan, Tania pun mengantarnya ke kamar tamu untuk beristirahat. Tadi Bi Ani sudah membawa kopernya kedalam kamar tersebut.