How To Love You

How To Love You
Bab 208



"Kamu mau beli apa?" tanya Miko pada Tantri saat mereka sudah memasuki bangunan besar bertingkat yang menjadi pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.


"Aku juga belum tau, Kak. Ayo kita keliling-keliling dulu," Mereka berdua pun mulai berjalan berkeliling mencari outlet yang tepat untuk mereka kunjungi nanti. Setelah beberapa saat berkeliling, Miko melihat sebuah outlet penjual handphone. Ia pun kemudian menarik tangan Tantri menuju toko tersebut.


"Eh, kita mau kemana, Kak?" tanya Tantri.


"Sudah, kamu ikut saja."


"Ngapain kita masuk kesini, Kak. Aku nggak mau beli handphone. Handphone aku masih bagus," ujar Tantri setelah ia sadar kalau Miko membawanya masuk kedalam outlet yang menjual berbagai merek ponsel canggih.


"Sudah, tidak usah protes. Bukankah misimu hari ini ingin membuatku bangkrut," ucap Miko sembari terkekeh.


"Aku kan cuma bercanda, Kak."


"Mbak, saya mau android merek Xx," ujar Miko pada pramuniaga yang sedang bertugas.


"Mohon tunggu sebentar yah, Kak."


Tidak lama kemudian, mbak pramuniaga itu pun kembali menghampiri mereka sambil membawa 3 buah android dengan warna yang berbeda.


"Silahkan dipilih, Kak. Kami punya 3 pilihan warna,"


"Tri, kamu mau yang mana?"


"Kak, aku nggak mau beli handphone. Handphone aku masih bagus," bisik Tantri sambil tangannya bergelayut manja di lengan kekar pria itu. Namun Miko tidak menghiraukan ucapan gadis itu. Ia tetap mau membelikan ponsel yang sama persis seperti yang ia gunakan untuk gadis pujaannya itu.


"Mbak! Menurut, Mbak. Warna mana yang paling cocok buat cewek?"


"Oh, untuk pacarnya yah, Kak. Kalau menurut saya, warna ini yang paling cocok." ucap Pramuniaga itu sambil menunjuk android yang berwarna gold.


Tantri membelalakkan matanya ingin protes dengan ucapan pramuniaga itu. Namun berbanding terbalik dengan Miko. Laki-laki itu terlihat biasa saja mendengarkan ucapan si mbak penjaga toko yang sedang bertugas melayani mereka.


"Ya sudah. Bungkus yang itu."


"Baik, Kak. Untuk pembayarannya, silahkan selesaikan disebelah sana dulu, Kak." ucapnya sambil menunjuk ke arah kasir.


"Oh, iya. Terima kasih."


"Terima kasih kembali."


Usai menyelesaikan pembayaran dan mendapatkan barang yang Miko beli. Mereka pun lalu beranjak meninggalkan outlet tersebut sembari Tantri yang membawa paper bag ukuran sedang itu ditangannya. Tantri yang penasaran dengan harga ponsel tersebut pun segera merogoh isi paper bag itu ingin mencari struk perbelanjaan. Matanya seketika membulat saat melihat nominal harga yang tertera diatas kertas kecil yang ada ditangannya.


"KAK MIKO!" pekik Tantri membuat beberapa pengunjung yang lainnya menoleh ke arah mereka.


"Auwh. Pelan-pelan dong bicaranya, Tri. Kenapa kamu berteriak di dekat telingaku?" ucap Miko sembari menggosok-gosok telinganya.


"Loh, kenapa? Bukankah misi kamu hari ini ingin membuat aku bangkrut?"


"Aku kan cuma bercanda, Kak. Masa di anggap serius sih. Kalau begini aku jadi nggak enak sama, Kak Miko."


"Tidak enak kenapa?"


"Karena ini mahal banget."


"Tidak usah merasa tidak enak. Anggap saja itu hadiah karena kamu sudah menjadi gadis yang penurut," ucap Miko sembari mengelus kepala gadis itu.


"Ayo kita cari makan! Aku lapar," lanjut Miko lagi.


"Aku nggak lapar, Kak," ucap Tantri lirih.


"Ck, baru dibeliin handphone begitu saja kamu sudah tidak mau makan. Bagaimana nanti kalau aku membelikanmu mobil atau bahkan rumah sekali pun."


"Kak Miko ada-ada aja. Masa aku mau dibeliin barang berharga seperti itu. Memangnya aku ini istrinya, Kak Miko apa."


"Memang belum jadi istriku, tapi sudah jadi calon." gumam Miko lirih sembari mengulas senyum lebar di bibirnya.


"Kak Miko ngomong apa sih barusan? Salon apa galon sih? Kak Miko mau nyalon?"


"Tidak. Bukan apa-apa," jawab Miko sembari mengulum tawanya. Untung saja gadis itu tidak mendengarnya dengan jelas. Batinnya.


"Galon, ya? Galon apaan, Kak? Galon air?"


"Suka-suka kamu deh," jawab Miko sembari terkekeh.


"Kak Miko ih. Aku lagi serius, Kak. Kak Miko malah bercanda," protes Tantri sembari memanyunkan bibirnya.


"Sudah, jangan ngambek. Ayo kita makan!"


"Aku nggak mau makan, Kak."


"Kalau kamu tidak mau makan, nanti gaji kamu bulan ini aku potong," ancam Miko.


"Ih, Kak Miko udah kayak bos gila di novelnya Mbak Tika aja. Pake acara ngancam-ancam mau potong gaji segala,"πŸ˜… protes Tantri.


"Makanya kalau kamu tidak mau gaji kamu dipotong, kamu harus temani aku makan siang."


"Iya, iya. Dasar bos nyebelin!" ucap Tantri menurut sembari kembali memanyunkan bibirnya.


"Biarin," balas Miko sembari tertawa senang melihat gadis itu akhirnya menurut juga padanya.