
Dengan perasaan campur aduk Hendra berusaha menenangkan dirinya di kantin sekolah. Dia mengambil tempat duduk di sudut kantin. Pikirannya kacau balau, dia mengacak-acak rambutnya sendiri lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dengan kasar, matanya merah karena marah. Dia tidak menyangka akan begini jadinya. Tadinya dia sudah bahagia karena bisa dekat dengan gadis pujaan hatinya selama berjam-jam. Pemuda itu tidak pernah menyangka akan punya saingan berat mengingat Tasya sangat dingin pada lawan jenis yang mencoba mendekatinya.
"Kenapa jadi seperti ini sih?" gumamnya sambil menggebrak meja. Ibu kantin dan anak-anak sekolah yang ada disitu sempat dibuat kaget olehnya.
Hendra mencoba menenangkan pikirannya dan berusaha untuk berpikir jernih. Dia pun melangkah ke arah Ibu kantin.
"Bu, minuman dingin satu," kata Hendra pada ibu kantin.
"Mau yang mana?" tanya pemilik kantin tersebut.
"Apa aja bu, yang penting minuman dingin," jawab Hendra.
Ibu kantin lalu menyodorkan 1 botol minukan pokaci swet padanya.
Seorang siswi SMP juga datang membeli minuman dingin. Cuaca yang sangat terik dan panas di siang hari membuat orang menginginkan minuman yang dingin dan menyegarkan tersebut.
"Bu, saya mau es babel rasa vanilla blue satu ya," kata siswi SMP itu.
Hendra menoleh menatap siswi SMP yang sekarang sedang berdiri tepat di sampingnya.
Anak ini 'kan adiknya Tasya. Hm ... kebetulan sekali, sepertinya aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Batin Hendra.
Hendra pun lalu mencoba mengajak gadis itu mengobrol.
"Hai adik manis, kamu adiknya Tasya, 'kan?"
"Iya benar. Ada apa yah Kak?" tanya Tantri.
"Bisa ikut aku sebentar. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kamu," jawab Hendra. Tantri jadi bertanya-tanya dibuatnya.
Ada apa ya? Apa aku punya salah? Tapi aku rasa gak ada apa-apa deh. Batin Tantri.
"Ini minumannya," kata ibu kantin.
"Oh, iya, Bu." Tantri lalu mengambil uang di dalam saku seragamnya.
"Tidak usah, nanti aku yang bayar. Sini, kamu ikut denganku ke sana." Hendra menunjuk meja yang ada di pojokan, tempatnya duduk tadi.
Tantri menurut, lalu berjalan mengekori Hendra sampai ke sudut kantin.
"Duduklah," kata Hendra.
Tantri pun duduk di seberang meja pemuda itu. Karena penasaran, gadis itu pun langsung bertanya, "Ada apa Kak Hendra mengajak saya bicara di sini?"
"Begini, aku ingin mengetahui sesuatu tentang kakakmu, Tasya," jawab Hendra, to the point.
"Hah? Untuk apa?" tanya Tantri, penasaran.
"Kamu tidak perlu tahu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjawab pertanyaanku."
"Gak mau ah, nanti aku dimarahi sama kak Tasya lagi," tolak Tantri.
"Kamu serius tidak mau?" Hendra tersenyum lalu mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan 100 ribuan dari dalam dompetnya.
"Kalau pakai pelicin, kamu mau?" tanya Hendra, sambil mengipas-ngipaskan uang itu di depan wajah Tantri.
"Mau mau." Tantri menjadi bersemangat. Seketika matanya berubah menjadi ijo. Gadis itu memang sedikit lebih matre jika dibandingkan dengan kedua kakaknya, Tasya dan Tania.
"Oke, 1 lembar 1 pertanyaan. Tapi syaratnya jawabanmu harus memuaskan. Mengerti?" jelas Hendra.
"Mengerti, Kak. Mengerti." Pandangan Tantri tidak bisa lagi terelakkan dari uang yang ada di tangan Hendra.
"Oke. Pertanyaan pertama, apakah Tasya punya pacar?" tanya Hendra.
"Setahu saya tidak ada, Kak," jawab Tantri.
"Jawabanmu cuma segitu?" tanya Hendra. Dia merasa kurang puas dengan jawaban Tantri.
Fix. Berarti laki-laki tadi bukan pacar Tasya. Syukurlah.
Hendra tersenyum puas. "Jawabanmu bagus. Ini, ambillah."
Tantri sangat senang bisa mendapatkan uang dengan mudah. Ya, meskipun harus menjual informasi tentang kakaknya.
Kak Tasya, maafkanlah adikmu ini. Batin Tantri. Dia merasa sedikit bersalah.
"Lanjut pertanyaan kedua. Hal apa yang disukai dan tidak disukai oleh kakakmu?"
"Mm ... hal yang disukai dan tidak disukai." Tantri bergumam sambil berpikir.
"Kak Tasya itu ... suka memasak, suka nonton film romantis, suka nonton drakor, suka menyanyi, dan suka make up. Terus hal yang paling tidak disukainya itu adalah menunggu dan dibohongi," jelas Tantri.
Hendra manggut-manggut. "Mm ... seperti itu ya. Ini, ambil. Sekarang pertanyaan yang ketiga, apa keinginannya yang belum tercapai?"
"Gampang sekali. Saat ini kak Tasya sangat ingin kuliah agar suatu saat nanti dia bisa bekerja ditempat bagus."
"Kuliah?" tanya Hendra penasaran.
"Iya Kak, kuliah. Kak Tasya sangat ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Sebagainya besar gajinya di toko dia tabung untuk biaya kuliahnya nanti. Dan sepertinya tahun ini dia akan mendaftar di Universitas Prima."
"Oh begitu ya. Jawaban yang bagus. Ini ambil."
"Pertanyaan berikutnya. Berapa nomor handphone atau pun nomor whatsapp-nya?"
"Kalau untuk pertanyaan yang satu itu, gak cukup kalau cuma satu lembar Kak. Ayo, tambah tambah. Hahaha." Tantri tertawa senang. Gadis itu ternyata lumayan cerdik juga.
"Ini anak, masih kecil sudah mata duitan. Beda sekali sama kakaknya. Ini, aku tambah jadi 200 ribu. Cepat berikan nomornya," kata Hendra sambil menengadahkan tangannya meminta ponsel Tantri.
"Yeey!!!" Tantri mengambil uangnya lalu memberikan ponselnya pada Hendra.
Setelah menyimpan nomor handphone Tasya, Hendra kemudian melanjutkan pertanyaannya.
"Pertanyaan terakhir, ada hubungan apa antara Tasya dengan Fathur?" tanya Hendra penasaran.
"Hah? Faaathur? Kalau itu saya beneran gak tau Kak. Kak Fathur itu cuma kakak sepupu jauh kami," jawab Tantri. Dia juga bingung mendengar pertanyaan Hendra yang satu ini.
"Beneran nih?" tanya Hendra kurang percaya.
"Beneran Kak. Demi Allah. Kak Tasya gak pernah cerita apa-apa soal kak Fathur," jawab Tantri, berusaha meyakinkan Hendra.
"Ya sudah. Sepertinya kamu tidak berbohong. Ini, ambillah. Anggap saja sebagai bonus." Hendra memberikan dua lembar terakhir yang masih ada di tangannya pada Tantri.
"Makasih banyak, Kak. Wah, aku punya uang 700 ribu. Banyak banget." Untuk anak SMP seperti Tantri, uang sebanyak itu jumlahnya sangatlah banyak.
"Aku yang harusnya berterima kasih pad kamu," ujar Hendra.
"Tapi Kak Hendra harus berjanji satu hal sama saya."
"Apa itu?"
"Jangan pernah bilang ke kak Tasya kalau aku yang memberikan nomornya pada kak Hendra."
"Oh, itu soal gampang. Kamu tidak perlu khawatir. Ini rahasia kita berdua. Sekarang kamu boleh kembali ke kelasmu."
"Apa saya juga boleh bertanya satu hal pada Kakak?" tanya Tantri.
"Apa itu?" tanya Hendra penasaran.
"Kenapa Kak Hendra menanyakan semua hal itu tadi? Apa Kak Hendra suka sama kak Tasya?"
"Anak kecil tidak boleh tahu urusan orang dewasa. Sana, kembali ke kelasmu." Hendra mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Tantri untuk masuk ke kelasnya karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
"Iya, iya. Orang dewasa mah ribet." Gadis itu pun segera beranjak meninggalkan Hendra.