How To Love You

How To Love You
Bab 107



Hendra berjalan menghampiri istrinya yang sedang tertidur pulas. Ia baru saja kembali dari kamar Radit. Pelan-pelan ia naik ke tempat tidur ikut berbaring di samping istrinya. Ia tersenyum menatap wajah istrinya yang terlihat sangat cantik dan anggun meskipun sedang tertidur.


"Pasti kamu kelelahan sekali yah sayang." ucap Hendra lirih seraya tersenyum lalu membelai rambut indah istrinya.


"Maaf, aku hanya tidak sabar membuat kamu segera hamil anakku secepatnya." ucapnya tersenyum membayangkan istrinya yang berbadan mungil dengan perutnya yang membesar.


"Kata orang, wanita hamil itu sangat manja. Apalagi mereka yang lagi ngidam. Katanya, mereka yang lagi ngidam sering minta ini itu tanpa kenal tempat dan waktu."


"Hehe. Aku sudah tidak sabar melihatmu merengek minta ini itu padaku."


"Aku sudah tidak sabar, ingin semakin memanjakanmu dan membuatmu menjadi wanita paling bahagia didunia ini saat kamu sedang hamil anakku."


"Kira-kira, nanti jenis kelamin anak pertama kita laki-laki atau perempuan yah?"


"Laki-laki ataupun perempuan sama saja. Yang penting kamu dan anak kita nanti sehat dan selamat."


"Membayangkannya saja sudah membuatku sangat bahagia. Apalagi jika itu semua benar-benar menjadi kenyataan. Pasti kebahagiaanku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."


"Aku berjanji padamu sayang, dan pada diriku sendiri. Aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu dan papa yang baik untuk anak-anak kita kelak."


"Semoga Allah cepat menitipkan amanah di rahimmu untuk kita berdua, sayang." ucap Hendra lalu mencium kening istrinya. Ia pun lalu ikut terlelap sambil memeluk belahan jiwanya karena mereka berdua sama-sama kelelahan akibat dari penyatuan mereka tadi malam.


Pukul 10:00 Pagi, Kamar Radit


Tania berbaring di sofa sambil cekikikan. Ia sedang menonton OVJ di smartphonenya. Radit yang sedari tadi terjaga dari tidurnya dan tersenyum sambil memperhatikan tingkah Tania akhirnya pun angkat bicara.


"Lagi nonton apa sih, Nia?" tanya Radit.


"Eh, kamu udah bangun Dit? Apa tadi aku ganggu kamu?" tanya Tania seraya bangun dan duduk.


"Hm. Lagi nonton apa sih? Kok sampe ketawa-ketawa gitu?" tanya Radit penasaran.


"Oh, ini, aku lagi nonton OVJ. Lucu banget tau Dit. Aku ketawa sampe air mataku keluar begini." jawab Tania sambil menyeka ujung matanya.


"Mana Nia? Nonton bareng yuk. Aku juga mau liat. Aku juga suka nonton OVJ." ajak Radit sambil bangun dan bersandar di kepala tempat tidur.


"Kamu kan juga bisa nonton di hape kamu Dit." balas Tania.


"Tapi akunya cuma mau nonton bareng sama kamu, Nia." rengek Radit.


"Mm ... Yah udah deh." Tania pun akhirnya setuju untuk menonton bersama Radit.


"Sini." panggil Radit sambil menepuk kasur disampingnya memanggil Tania untuk duduk disitu.


"Ini sebagai pembatas. Kamu jangan sampe lewatin ini yah, Dit. Awas kalo kamu sampe melanggar aturan." tegas Tania seraya menggariskan tangannya disepanjang guling tersebut.


"Siap bos!" seru Radit sambil tersenyum melihat tingkah Tania.


Mereka pun mulai menonton bersama. Mereka tertawa lepas melihat lawakan yang dimainkan oleh para komedian papan atas di acara tv tersebut. Tidak terasa mereka sudah nobar selama 1 jam.


"Dit. Aku laper, kamu juga laper nggak?" tanya Tania.


"Iya Nia. Aku juga laper banget." jawab Radit sambil menepuk pelan perutnya sendiri.


"Yah udah, kalo gitu aku keluar cari makan dulu yah." ujar Tania.


"Aku ikut." kata Radit.


"Nggak usah Dit, kamu kan masih sakit." ucap Tania.


Tiba-tiba, "Tok tok tok."


Radit dan Tania saling pandang.


"Siapa yah Dit?" tanya Tania.


"Mungkin Kak Hendra kali sama Kak Tasya." tebak Radit.


"Nggak mungkin Dit, mereka udah berangkat ke salon sejak sejam yang lalu. Terus, ibu, tante Arini dan juga Om Gunawan lagi sibuk. Mereka sedang mengawasi persiapan pernikahan Kak Tasya dan Kak Hendra." jelas Tania.


"Terus, siapa dong." tanya Radit bingung. Tania juga tidak kalah bingungnya.


"Aku juga nggak tau." jawab Tania.


"Tunggu sebentar yah Dit, aku cek dulu." imbuh Tania lalu segera beranjak menghampiri pintu. Ia mengintip lewat door view pintu kamar hotel. Betapa kagetnya saat ia melihat Miko yang berdiri di luar sana.


"Astaga! Kak Miko. Bagaimana ini? Kalo aku buka, nanti Radit bisa marah lagi. Kalo nggak dibuka, Kak Miko nggak berhenti-berhentinya ketokin pintu. Aduh, aku harus bagaimana?" batin Tania kebingungan.


"Siapa Nia? Kenapa nggak kamu buka pintunya?" tanya Radit heran melihat Tania yang seperti kebingungan berdiri di belakang pintu tersebut.


"Aku harus memberitahukannya pada Radit. Aku nggak mau sampai mengambil tindakan yang salah. Iya harus, aku nggak boleh bertindak bodoh." putus Tania dalam batinnya. Ia pun lalu menghampiri Radit.


"Dit, yang diluar itu ... Kak Miko." jelas Tania.