
Cappadocia, Turkey
Siang itu, Hendra dan Tasya diajak makan siang oleh Syawal. Syawal merupakan tour guide yang menemani mereka selama mereka bulan madu disana. Syawal merupakan mahasiswa berprestasi asal Bogor yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah disana.
Profesi sebagai tour guide, Syawal jadikan sebagai pekerjaan sampingan. Selain mendapatkan bayaran yang tinggi, ia juga senang karena bisa membantu sesama orang Indonesia yang datang kesana untuk berlibur.
Syawal tidak membawa Hendra dan Tasya ke hotel. Ia sengaja membawa Hendra dan Tasya ke sebuah penginapan milik teman kampusnya. Karena menurut Syawal penginapan itu unik dan beda dari yang lainnya. Yang mana tempat seperti itu tidak akan mungkin bisa ditemui dimana pun diseluruh penjuru Turki. Menurutnya tempat itu juga sangat cocok untuk dijadikan tempat bulan madu.
Sesampainya di ruang makan, mereka disambut hangat oleh pemilik penginapan. Pemilik penginapan tersebut bernama Halime. Ia adalah teman kampus Syawal. Halime sudah menyiapkan makan siang untuk mereka.
"Selamat siang!" sapa Halime dalam bahasa Indonesia.
Halime bisa berbahasa Indonesia meskipun belum mahir. Itu karena ia sudah berteman dengan Syawal selama 1 tahun. Dan Syawal sering mengajarinya bahasa Indonesia.
"Siang!" balas ketiganya bersamaan.
Hendra dan Tasya heran mendengarkan Halime bisa berbahasa Indonesia.
"Wal, pemilik penginapan ini bisa berbahasa Indonesia?" tanya Hendra pada Syawal.
Namun bukan Syawal yang menjawab pertanyaan Hendra, tapi Halime.
"Ya, saya bisa, tapi sedikit-sedikit," jawab Halime agak tersendat namun pelafalannya jelas dan bisa dimengerti.
"Oh," ucap Hendra dan Tasya mengerti.
"Perkenalkan, nama saya, Halime Goksel. Pemilik tempat ini," ucap Halime seraya mengulurkan tangannya ke arah Tasya dan Hendra untuk berkenalan.
"Tasya."
"Hendra."
Setelah mereka berkenalan mereka pun lalu duduk bersama di sebuah meja makan berbentuk persegi panjang. Halime sudah menyiapkan makanan khas Turki. Ia memasak makanan yang disukai oleh Syawal. Karena menurutnya mereka sama-sama orang Indonesia jadi, ia pikir kalau mereka mungkin memiliki selera yang sama dalam hal makanan.
***
Pukul 17:30 WITA
Jika di Turki masih siang, berbeda dengan waktu di Indonesia, tepatnya di Sulawesi Selatan. Waktu di Sulawesi Selatan lebih cepat 5 jam dibandingkan dengan waktu di Turki. Setelah Tania selesai membantu ibunya didapur, ia pun lalu menghubungi Tasya melalui panggilan video. Tidak butuh waktu lama Tasya pun menjawab panggilan adiknya.
π Tania : Assalamu'alaikum, Kak!
π Tasya : Wa'alaikum salam, Dek.
π Tania : Lagi dimana, Kak?
π Tasya : Ini lagi dipenginapan.
π Tania : Oh, lagi ngapain? Aku ganggu nggak?
π Tasya : Nggak kok, Dek. Ini kakak lagi mau siap-siap. Syawal mau ngajakin kita jalan-jalan naik balon udara. Seru katanya.
π Tania : Wah, balon udara. Gimana rasanya yah, Kak naik gituan?
π Tasya : Hehehe, entar kakak ceritain kalo udah balik ke rumah.
π Tania : Hehhe, iya Kak. Oh iya, ngomong-ngomong di situ jam berapa?
π Tasya : Disini baru jam 12:33.
π Tania : Oh, beda 5 jam yah Kak.
π Tasya : Iya.
π Tania : Oh iya, makanan disitu enak nggak?
π Tasya : Kalo menurut kakak sih enak. Tapi Kak Hendra nggak suka. Tadi waktu abis makan siang dia cepat-cepat balik ke kamar. Dia muntahin semua makanannya dikamar mandi.
π Tasya : Aku juga lupa namanya. Yang jelas makanannya memang jauh beda dengan yang sering kita makan.
π Tania : Oh pantas. Tapi kok Kak Tasya bisa suka, kenapa Kak Hendra nggak?
π Tasya : Nggak tau juga, Dek. Tiap orang kan seleranya beda-beda. Kalau menurut pendapat kakak sih makanannya enak. Emang sih rasanya agak beda dengan yang sering kita makan. Tapi bukan berarti nggak enak loh yah. Kalau menurut aku pribadi sih, rasa makanannya unik.
π Tania : Oh gitu yah Kak. Terus Kak Hendra nanti makan apa kalo lidahnya nggak cocok sama makanan orang disana.
π Tasya : Nggak tau juga. Tapi rencananya nanti aku mau nyari jajanan disini. Siapa tau nemu makanan yang enak. Dan semoga aja ada makanan yang cocok di lidahnya Kak Hendra.
π Tania : Semoga aja yah kak. Soalnya kalo nggak kan bahaya. Bisa-bisa dia kelaparan di negara orang. Ckckck.
π Tasya : Hehehe. Iya Dek semoga aja. Oh iya, udah dulu yah Dek, kakak mau siap-siap dulu.
π Tania : Iya Kak. Jangan lupa oleh-olehnya! Hehehe.
π Tasya : Iya, iya. Kalo itu kamu tenang aja.
***
Keesokan Harinya, Pukul 05:30.
Pagi ini merupakan hari pertama Tania bekerja di Toko Percetakan milik orang tua Radit. Pagi-pagi sekali ia sudah bersiap-siap. Ia tidak mau terlambat dihari pertamanya ia bekerja.
Setelah Tania selesai bersiap-siap, jam sudah menunjukkan pukul 05:57. Ia pun lalu berpamitan pada ayah dan ibunya. Setelah itu ia segera tancap gas dan berangkat.
Tidak butuh waktu lama untuk ia sampai ditoko, terlihat Radit sedang duduk disebuah sofa panjang sambil ia memegang sebuah Al-Qur'an ukuran kecil ditangannya dan membacanya. Usai sholat subuh Radit tidak tidur, ia memilih untuk mengaji sambil menunggu pujaan hatinya yang baru pertama kali bekerja di Toko milik orangtuanya.
Senyum Radit tiba-tiba mengembang saat melihat kedatangan Tania. Ia pun lalu memasukkan kitab suci Al-Qur'an kecilnya ke dalam saku baju kokonya kemudian segera menyambut kedatangan Tania.
"Selamat pagi, Nyonya Radit!" sapa Radit tersenyum dengan wajah cerah bersemangat.
"Iya, pagi." balas Tania seraya melangkah masuk kedalam Toko.
"Pagi bener datangnya, Nia," ujar Radit.
"Iyalah, Dit. Ini kan hari pertama aku kerja, masa datangnya kesiangan." ujar Tania.
"Tau aja kalo aku lagi nungguin kamu," ucap Radit.
"Kamu nungguin aku, ngapain?" tanya Tania seraya meletakkan tasnya diatas meja.
"Aku kan kangen sama kamu, sayang." jawab Radit.
"Idih, lebay banget dah nih anak."
"Emangnya kamu nggak kangen sama aku, Nia? Kemarin kan seharian kita nggak pernah ketemu," tanya Radit.
"Nggak." jawab Tania singkat.
"Yaaah," ucap Radit sedikit kecewa.
"Yah udah jelasin nih, aku disini kerjanya apa?" tanya Tania.
"Tugas kamu disini yah nemenin aku sampe sore," canda Radit.
"Enak aja. Aku tuh kesini mau kerja, Dit. Bukannya mau pacaran," kata Tania cemberut.
"Iya, iya. Aku kan cuma bercanda. Jangan cemberut gitu dong, sayang." ujar Radit.
Radit tersenyum melihat Tania cemberut. Ia sangat senang menggoda kekasihnya itu.
"Ada apa ini?" tanya Pak Rahmat yang tiba-tiba muncul.